HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU

April 28, 2010

(Oleh : Umar B)

Ada beberapa hal yang oleh sebagian orang dapat membatalkan wudhu. Namun, ketika diteliti kembali hal-hal tersebut tidak membatalkan wudhu, diantaranya adalah;

1. Dasar dalil mereka yang berpendapat bahwa menyentuh wanita dapat membatalkan wudhu adalah firman Allah Ta’ala, “Atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah.” [1]

Sebenarnya ayat ini tidak dapat digunakan sebagai hujjah, sebab makna lams dalam ayat ini adalah jima’ sebagaimana riwayat yang shahih dari Ibnu  Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, dan sahabat lainnya. [2] Read the rest of this entry »


Istihadhah

April 27, 2010

ISTIHADHAH

(Oleh: Puji Yanto)

Di kalangan wanita ada yang mengeluarkan darah dari farjinya di luar kebiasaan bulanan dan bukan karena sebab kelahiran. Darah ini diistilahkan darah istihadhah. Al-Imam an-Nawawi –rahimahullahu ta’ala- dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim mengatakan, “Istihadhah adalah darah yang mengalir dari farj (kemaluan) wanita bukan pada waktunya (bukan pada saat haid) dan keluarnya dari urat. ”[1]

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Fathimah binti Abi Hubaisyi datang menemui Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?’ Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjawab,

لاَ، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِى الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّى.

‘Tidak, sesungguhnya itu adalah darah penyakit dan bukan darah haid. Apabila datang bulan (haid), maka tinggalkanlah shalat. Apabila telah berakhir, maka bersihkanlah darah tersebut dan shalatlah.’”[2] Read the rest of this entry »


Tata Cara Mandi Setelah Haid dan Nifas

April 27, 2010

(Oleh: Puji Yanto)

Yang menjadi kwajiban ketika mandi bagi wanita haid dan nifas adalah meratakan air ke seluruh tubuh hingga pangkal rambut. Akan tetapi ada tata cara mandi yang disunahkan bagi wanita haid dan nifas yang pada intinya sama halnya dengan mandi karena junub[1], (hanya ada beberapa perbedaan), yakni:

  1. Menyiapkan air dan daun sidr atau wewangian lainnya yang bisa menggantikannya seperti sabun dan lainnya.
  2. Berwudhu dengan baik.
  3. Menuangkan air ke kepala lalu digosok hingga air sampai ke pangkal rambut (atau mengenai seluruh kulit kepala).
  4. Tidak wajib melepas ikatan rambut kecuali bila melepas ikatan tersebut akan membantu untuk sampainya air ke pokok rambut.
  5. Menuangkan air ke seluruh tubuh.
  6. Mengambil kain/kapas atau sejenisnya yang telah diberi misk atau wewangian lain (bila tidak mendapatkan misik), lalu mengoleskannya ke tempat-tempat yang tadinya dialiri darah haid agar bau darah tidak tercium lagi.[2] Read the rest of this entry »

Hal-Hal yang Diperbolehkan dan Diharamkan Ketika Wanita Sedang Haid

April 27, 2010

(Oleh: Puji Yanto)

Hal-hal yang diperbolehkan bagi wanita yang sedang mengalami haid diantaranya:

1. Berdzikir kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala– dan membaca al-Qur’an.

Al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (nomor 971) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Kami dulunya diperintah untuk keluar (ke lapangan shalat Ied, pent.) pada Hari Raya sampai-sampai kami mengeluarkan gadis dari pingitannya dan wanita-wanita haid. Mereka ini berada di belakang orang-orang (yang shalat), mereka bertakbir dan berdo’a dengan takbir dan do’anya orang-orang yang hadir. Mereka mengharapkan berkah hari tersebut dan kesuciannya.”[1]

‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- berkata, “Aku datang ke Makkah dalam keadaan haid. Dan aku belum sempat thawaf di Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Maka aku adukan hal itu kepada Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, beliau bersabda,“Perbuatlah sebagaimana yang dilakukan seorang yang berhaji, hanya saja jangan engkau thawaf di Ka’bah sampai engkau suci (dari haid).”[2]

Read the rest of this entry »


Haid

April 27, 2010

(Oleh: Puji Yanto)

Makna Haid

Imam an-Nawawi –rahimahullahu ta’ala– mengatakan, “Adapun haid secara bahasa berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara’ ialah darah yang keluar dari rahim wanita secara alami ketika telah mencapai usia baligh, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu-waktu tertentu.[2] Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita.

Dinamakan haid karena warnanya yang tidak menyenangkan, berbau, najis dan berbahaya.[3]

Abu Muhammad bin Hazm –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya, “Haid adalah darah hitam yang kental beraroma tidak sedap. Kapan saja tampak darah ini dari kemaluan wanita, maka tidak halal baginya untuk shalat, puasa, dan thawaf di Baitullah serta tidak boleh bagi suaminya atau tuannya (bila wanita tersebut berstatus budak, pent.) untuk menyetubuhinya kecuali bila wanita itu melihat ia telah suci.”[4]

Read the rest of this entry »