WARISAN BAGI ISTERI YANG BERSTATUS AHLI KITAB

Oleh: Mujiburrahman

Dalam ilmu waris, ada sebab-sebab yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan harta warisan. Diantara sebab-sebab tersebut adalah perbedaan atau berlainan agama. Maksudnya adalah berbedanya agama yang dianut antara pewaris dengan ahli waris. Seorang Muslim tidaklah mewarisi dari orang yang bukan Muslim (non-Muslim), begitu pula sebaliknya seorang yang bukan Muslim tidaklah mewarisi dari seorang Muslim.[1] Hal ini dikarenakan Allah telah memutuskan hubungan perwalian antara keduanya.[2]

Namun demikian, disebabkan hak kewarisan memiliki hubungan yang erat dengan permasalahan pernikahan, maka ulama tidak memiliki pendapat yang sama dalam menyikapi hadits di atas.

Perbedaan pendapat diantara ulama tersebut muncul karena diantara mereka berbeda dalam memahami konteks ayat ke–5 dari surat al-Maidah. Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang halalnya wanita dari kalangan Ahli Kitab yang menjaga kehormatannya.

Tentang non-Muslim tidak dapat menjadi ahli waris dari seorang Muslim, maka ulama sepakat bahwa hal itu dapat diterima dan sejalan dengan ketentuan QS. al-Maidah ayat 5 dan hadits Rasulullah di atas. Akan tetapi dalam permasalahan seorang Muslim yang menjadi ahli waris dari seorang non-Muslim, maka dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua pendapat, yaitu:

1. Seorang Muslim tidak dapat menjadi ahli waris bagi pewaris yang berstatus non-Muslim atau murtad, begitu pula sebaliknya. Ini merupakan pendapat jumhur ‘ulama, diantaranya para shahabat Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dari kalangan Khulafa’ al-Rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, ‘Utsman bin al-Affan, ‘Ali bin Abu Thalib,[3] dan para shahabat yang lain. Adapun dari kalangan tabi’in diantaranya adalah ‘Amru bin ‘Utsman, ‘Urwah, al-Zuhri, ‘Atha’, Thaawus, al-Hasan, ‘Umar bin ‘Abdul al-‘Aziz. Begitu juga dengan al-Tsauri, Abu Hanifah dan para shahabatnya, Malik, al-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, dan mayoritas para fuqaha’ yang lain.[4]

Landasan mereka adalah hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid –radhiyallaahu ta’ala ‘anhuma-,

لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

Seorang Muslim tidak menerima warisan dari orang kafir dan orang kafir tidak menerima warisan dari orang Muslim.[5]

2. Seorang Muslim bisa menjadi ahli waris bagi non-Muslim. Sebaliknya, seorang non-Muslim tidak dapat menjadi ahli waris bagi seorang Muslim. Ini merupakan pendapat sebagian ulama diantaranya Mu’awiyah, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda’, Sa’id bin  Musayyib, ‘Ali bin Husein, Ibnu Hanifah (Muhammad bin al-Hanafiyah), Musruq, al-Nakha’i, al-Sya’bi, Yahya bin Ya’mar, dan Ishaq.[6]

Akan tetapi pendapat ini tidak bisa disandarkan kepada mereka sepenuhnya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, bahwa Imam Ahmad mengatakan, “Tidak ada perbedaan (pendapat) diantara manusia (ulama) bahwa seorang Muslim tidak dapat menjadi ahli waris bagi orang kafir.[7]

Adapun yang menjadi dalil mereka adalah:

a. Hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-,

الإسلام يعلو ولا يعلى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi (darinya).” [8]

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali, beliau berkata, “Suatu ketika Mu’adz berada di Yaman, maka orang-orang mengadukan suatu perkara kepadanya tentang seorang Yahudi yang meninggal dunia dan meninggalkan (harta bendanya) untuk saudaranya yang Muslim, maka Mua’dz menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- pernah bersabda,

الإسلام يزيد، ولا ينقص

‘Islam bertambah dan tidak berkurang.’ Sehingga pada akhirnya seorang Muslim tersebut mewarisi harta benda saudaranya yang beragama Yahudi.[9]

3. Diriwayatkan dari ‘Umar, Mu’adz dan Mu’awiyah –radhiyallaahu ta’ala ‘anhum-, bahwasanya seorang Muslim dapat mewarisi (harta benda) orang kafir, akan tetapi orang kafir tidak dapat mewarisi seorang Muslim.[10]

4. Qiyas (analogy) mereka kepada ketentuan hukum yang terdapat dalam QS. al-Maidah ayat ke-5, yaitu diperbolehkan bagi laki-laki Muslim mengawini wanita Ahli Kitab, akan tetapi tidak diperbolehkan bagi laki-laki dari kalangan Ahli Kitab menikahi Muslimah. Maka dengan dalil ayat ini, mereka berpendapat kalau seorang laki-laki Muslim diperbolehkan mengawini wanita Ahli Kitab, maka seorang Muslim juga dapat menjadi ahli waris dari seorang pewaris non-Muslim dari kalangan Ahli Kitab.[11]

Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala– mengatakan bahwa pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat jumhur ulama.[12] Hal ini ada beberapa sebab, yaitu:

  1. Dalil yang digunakan oleh kalangan yang mengatakan bahwa seorang Muslim tidak dapat menjadi ahli waris bagi Ahli Kitab adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.[13]
  2. Adapun hadits ) الإسلام يزيد، ولا ينقص  (tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk memperbolehkan seorang Muslim menjadi ahli waris bagi Ahli Kitab karena maksud hadits ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala-, adalah keutamaan Islam atas dien yang lain, dan hal ini tidak ada kaitannya dengan masalah warisan.[14] Sedangkan Imam Ibnu Qudamah –rahimahullaahu ta’ala– menjelaskan hadits tersebut maksudnya bahwa Islam ini akan bertambah dengan adanya orang yang masuk Islam dan dengan adanya perluasan wilayah. Dan Islam tidak akan berkurang karena orang yang murtad lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang masuk Islam.[15]
  3. Kemungkinan hadits)  لَايَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ ( belum sampai kepada kalangan yang berpendapat bahwa seorang Muslim bisa menjadi ahli waris bagi Ahli Kitab. Demikian yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi –rahimahullaahu ta’ala-.[16]
  4. Perlu diketahui bahwa mayoritas ulama tidak menggunakan penafsiran analogy/qiyas, sebab dalam hal waris mewarisi terdapat dalil dari sunnah yang kuat yang sama sekali bertentangan dengan dalil analogy/qiyas. Dan qiyas yang bertentangan dengan nash yang shahih, maka qiyas ini batil.[17] Disamping itu, pendapat yang kedua dianut oleh para khalifah semenjak Mu’awiyah –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu- menjadi penguasa, dan berakhir sampai berkuasanya khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz –rahimahullaahu ta’ala-. Maka mulai saat itu, beliau mengembalikan masalah tersebut dengan merujuk kepada ajaran sunnah yang pertama kali.[18]
  5. Bahwasanya waris mewarisi berkaitan dengan perwalian (kekuasaan), maka tidak ada kekuasaan antara seorang Muslim dengan orang kafir,[19] sebagaimana firman Allah –ta’ala-:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.[20]

Maka dengan demikian yang dijadikan sebagai dasar rujukan dalam menentukan sebuah hukum setelah al-Qur’an adalah hadits-hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- yang shahih.

Dengan demikian, seorang isteri yang bersuami dari kalangan Ahli Kitab atau seorang anak yang memiliki bapak dari kalangan Ahli Kitab, maka mereka tidak mendapatkan warisan walaupun sedikit. Adapun jika seorang Ahli Kitab yang berstatus dzimmi meninggal dunia, dan dirinya tidak memiliki ahli waris, maka harta bendanya diserahkan kepada Baitul Mal sebagai fa’i.[21] Wallahu a’lam bish shawwab.


[1] Suhrawadi K. Lubis, S.H. dan Komis Simanjuntak, S.H., Hukum Waris Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), edisi ke-2, cet. Ke-1, hal. 58.

[2] Al-Nawawi, al-Majmuu’ Syarhu al-Muhadzdzab, (Beirut: Daar al-Fikr, 1425 H/2005 M), juz XVII, hal. 191.

[3] Ibid. Lihat pula: al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Maghfirah, 1420H/1999M), cet. Ke-6, juz XI, hal. 53; Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri (wafat th. 1353H), Tuhfatu al-Ahwadzii, (Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyyah), juz V, hal. 617; al-‘Adzim Abadii, ‘Aunu al-Ma’buud, (Kairo: Daar al-Hadits, 1422H/2001M), juz V, hal. 316.

[4] Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz VIII, hal. 495.

[5] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Fara’idh, bab: Seorang Muslim Tidak Menerima Warisan dari Orang Kafir dan Orang Kafir Tidak Menerima Warisan dari Orang Muslim, (hadits no. 6764), dan Muslim dalam syarahnya karya Imam al-Nawawi, dalam kitab: Faraidh, bab: Orang Muslim tidak Mewarisi Orang Kafir, dan Orang Kafir tidak Mewarisi Orang Muslim, (hadits no. 4116).

[6] Al-Nawawi, al-Majmu’, juz XVII, hal. 190. Lihat pula: Ibnu Qudamah, loc.cit.; al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz XI, hal. 53-54; Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim, Tuhfatu al-Ahwadzii, juz V, hal. 617; dan al-‘Adzim Abadii, ‘Aunu al-Ma’buud, juz V, hal. 316.

[7] Ibnu Qudamah, loc.cit.

[8] HR. al-Daar Quthni, dalam kitab: Nikah, bab: Mahar, (hadits no. 3578).

[9] HR. al-Thabrani, dalam al-Mu’jam al-Kabiir, (20/162), hadits no. 338; Abu Dawud, dalam kitab: Fara’idh, bab: Apakah Seorang Muslim Mewarisi Orang Kafir, (hadits no.2912), al-Baihaqi, dalam kitab: Luqathah (temuan), bab: Menyebut Muslim Bagi Siapa Saja yang Orang Tuanya Masuk Islam, (hadits no. 12153). Syaikh al-Albani mendha’ifkan hadits ini. Lihat: al-Albani, Silsilah al-Dha’iifah, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif), juz III, hal. 252, (hadits no. 1123).

[10] Ibnu Qudamah, loc.cit.

[11]Ibid. Lihat pula: al-Nawawi, al-Majmu’, juz XVII, hal. 190.

[12] Al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz XI, hal. 54, dan Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, op.cit., juz V, hal. 617.

[13] Ibnu Qudamah, op.cit., jilid VIII, hal. 496.

[14] Al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz XI, hal. 54.

[15] Ibnu Qudamah, loc.cit.

[16] Al-Nawawi, loc.cit.

[17] Dr. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz XI, hal. 204.

[18] Al-Nawawi, al-Majmu’, juz XVII, hal.191.

[19] Ibnu Qudamah, loc.cit.

[20] QS. al-Maidah : 51.

[21] Al-Nawawi, al-Majmu’, juz XVII, hal. 192.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: