STATUS AGAMA ANAK PADA PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN WANITA AHLI KITAB

Oleh: Mujiburrahman

Seorang anak mengikuti kedua orang tuanya yang berstatus Muslim (jika kedua orang tuanya Muslim) dalam beragama, maka anak tersebut dianggap Muslim disebabkan keislaman kedua orangtuanya. Hal ini disebabkan jika seorang anak berasal dari kedua orang tua yang kafir, maka ia mengikuti agama kedua orang tuanya yang kafir.[1] Karena ada suatu kaidah yang berbunyi, “Seorang anak mengikuti kedua orang tuanya dalam beragama.”[2]

Namun bagaimana apabila kedua orang tuanya berlainan agama, sebagaimana yang terjadi pada pernikahan antara seorang Muslim dengan wanita Ahli Kitab? Maka di sini Imam Ibnu Qudamah –rahimahullaahu ta’ala– menjelaskan bahwa anak tersebut mengikuti orang tuanya yang berstatus Muslim. Hal ini dikuatkan dengan beberapa alasan[3], diantaranya:1. Agama Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-,

الإسلام يعلو ولا يعلى

Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi (darinya).” [4]

2. Agama Islam adalah agama Allah yang diridhai-Nya bagi hamba-hamba-Nya, dan Dia mengutus seorang rasul untuk menyeru manusia kepada agama yang lurus ini.

3. Dengan Islam, maka dirinya akan memperolehkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keridha’annya, baik di dunia maupun di akherat. Di dunia, dirinya akan terselamatkan dari pembunuhan, perbudakan, dan pembayaran jizyah.[5] Adapun di akherat, dirinya akan terselamatkan dari murka Allah dan adzabnya yang pedih.

4. Islam menghukumi bahwa laqith[6] di wilayah Islam dan yang tidak mengetahui statusnya di wilayah tersebut sebagai Muslim, meskipun di wilayah tersebut terdapat juga penduduk non-Muslim.[7] Sehingga dirinya dipaksa untuk masuk Islam, namun jika menolak, maka dirinya akan dibunuh sebagaimana hal ini berlaku juga bagi anak kaum Muslimin. Karena pada dasarnya dirinya berstatus sebagai Muslim, maka ketika dirinya keluar dari Islam (murtad), wajib untuk dibunuh. Sebagaimana sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-,

من بدل دينه فاقتلوه

Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.[8]


[1] Dr. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashshal fii Ahkaam al-Mar’ah, (Beirut: Mu’assasah al-Risaalah, 1413H/993M), cet. Ke-1, juz IX, hal. 446.

[2] Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz XII, hal. 117.

[3] Ibid., juz XII, hal. 117-118.

[4] HR. al-Daar Quthni, dalam kitab: Nikah, bab: Mahar, (hadits no. 3578).

[5] Hal ini terjadi jika kaum Muslimin melakukan penyerangan terhadap orang-orang kafir, terutama kafir harbi.

[6]Laqith adalah anak yang ditemukan di suatu tempat tanpa diketahui oleh keluarganya dan tidak ada orang yang mengakuinya. (Lihat: Abu Bakar Jabir al-Jazairi, op.cit., hal. 325).

[7] Ibid.

[8] HR. al-Bukhari, dalam kitab: Jihad dan Penjelajahan, bab: Tidak Ada yang Menyiksa Seperti Siksanya Allah, (hadits no. 3017), dan dalam kitab: Permintaan Taubat Bagi Orang-Orang yang Murtad, Enggan dan Membunuh Mereka, bab: Hukum Murtad Laki-Laki dan Perempuan dan Membunuh Mereka, (hadits no. 6922).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: