HUKUM SUAMI MENG-ILA’ ISTERINYA YANG BERSTATUS AHLI KITAB

Oleh: Mujiburrahman

Diperbolehkan bagi seorang Muslim meng-ila’ isterinya yang berstatus dzimmi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qudamah –rahimahullaahu ta’ala– bahwa seorang Muslim diperbolehkan meng-ila’ isteri-isterinya, baik yang berstatus Muslimah ataupun dzimmi, baik yang statusnya merdeka atau budak, karena dalam hal ini termasuk dalam keumuman firman Allah –ta’ala–  yang berbunyi,

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

Kepada orang-orang yang meng-ila’ isteri-isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).[1]

Karena bagaimanapun juga dirinya berstatus sebagai isteri, maka diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk meng-ila’nya, sebagaimana hal itu dilakukan kepada seorang Muslimah yang merdeka.[2]

Menurut an-Nakha’i, Malik, Auza’i dan al-Syafi’i, bahwa meng-ila’ seorang isteri boleh dilakukan baik setelah melakukan hubungan badan ataupun sebelumnya. Adapun menurut Atha’, al-Zuhri dan al-Tsaur, meng-ila’ seorang isteri hanya dibolehkan untuk dilakukan setelah melakukan hubungan badan.[3]


[1] QS. al-Baqarah : 226.

[2] Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz X, hal. 391.

[3] Ibid., hal. 391-392.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: