Hukum Pernikahan Jika Suami yang Berstatus Ahli Kitab Masuk Islam

Oleh: Mujiburrahman

Mengenai hukum pernikahan apabila seorang suami yang berstatus Ahli Kitab masuk Islam akan tetapi isterinya tetap bersikukuh pada agama Ahli Kitab, maka ulama berbeda pendapat dalam hal ini, yaitu:

1. Terjadi perceraian diantara keduanya, yaitu keislaman salah satu dari keduanya mewajibkan bagi keduanya melakukan pembatalan pernikahan (faskh). Ini adalah pendapat Abu Tsaur.[1] Adapun Malik menambahkan bahwa seorang isteri tersebut ditawarkan Islam terlebih dahulu, jika dirinya menolak untuk masuk Islam, maka keduanya dipisahkan dengan segera.[2]

Dalil mereka diantaranya adalah firman Allah –ta’ala-,

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir. [3]

2. Pernikahan antara keduanya tetap berlangsung, baik hal ini terjadi sebelum keduanya bercampur (melakukan hubungan badan) atau terjadi setelah bercampur.[4] Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.[5] Adapun Abu Hanifah menambahkan, jika hal tersebut terjadi di Darul Islam. Akan tetapi jika keduanya berada di Darul Harbi, maka pernikahan antara keduanya berlangsung hingga seorang isteri menyelesaikan masa iddahnya.[6]

Adapun dalil-dalil yang dijadikan sandaran diantaranya firman Allah –ta’ala- dalam QS. al-Maidah yang menjelaskan diperbolehkan bagi seorang Muslim menikah dengan wanita Ahli Kitab.

Pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas (insyaAllah) adalah pendapat yang kedua, yaitu pernikahan tetap berlangsung. Hal ini disebabkan:

  1. Dalil yang digunakan pada pendapat yang pertama berkenaan dengan pernikahan antara Muslim dengan wanita-wanita kafir non Ahli Kitab.
  2. Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa diperbolehkan bagi seorang Muslim menikahi seorang wanita dari kalangan Ahli Kitab. Adapun yang tidak diperbolehkan adalah menikah dengan wanita yang statusnya non-Ahli Kitab, baik dari kalangan watsani (penyembah berhala) atau yang lainnya.

[1] Al-Nawawi, al-Majmuu’ Syarhu al-Muhadzdzab, (Beirut: Daar al-Fikr, 1425 H/2005 M), juz XVII, hal. 472.

[2] Malik, al-Muwatha’ (penyarah: Muhammad Fuad Abdul Baqi), hal. 383; dan al-Baghawi, op.cit., jilid V, hal. 74.

[3] QS. al-Mumtahanah : 10.

[4] Al-Baghawi, Syarhu al-Sunnah, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424H/2003M), cet. Ke-2, jilid V, hal. 73; dan Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz IX, hal. 376.

[5] Al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, (Beirut: Daar al-Ma’rifah, 1418H/1997M), cet. Ke-1, juz III, hal. 254.

[6] Al-Nawawi, op.cit., juz XVII, hal. 472.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: