Hukum Pernikahan Jika Suami Masuk Islam dan Beristerikan Lebih Dari Empat

Oleh: Mujiburrahman

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa seorang Muslim hanya diberikan batasan untuk menikahi wanita maksimal empat. Maka apabila ada seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab yang masuk Islam dan ketika masih kafir dirinya beristerikan lebih dari empat wanita yang berstatus Ahli Kitab juga, akan tetapi mereka masih tetap pada agamanya atau masuk Islam belakangan, maka dia diberikan hak untuk memilih empat wanita dari seluruh isterinya tersebut. Adapun yang lainnya harus diceraikan.[1] Akan tetapi dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat diantara ulama:

  1. Jika isteri-isterinya tersebut dinikahi secara bersamaan (dalam satu akad) ketika dirinya masih dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan bagi suami tersebut menahan seorangpun dari isteri-isterinya. Namun apabila mereka dinikahi secara terpisah, maka diperbolehkan menahan empat dari mereka, dan menceraikan yang lainnya. Ini adalah pendapat Sufyan al-Tsauri, dan Abu Hanifah.[2]
  2. Tidak ada perbedaan antara nikah yang dilakukan secara bersamaan, atau dilakukan secara terpisah diantara isteri-isterinya ketika dirinya masih kafir. Adapun jika nikahnya dilakukan secara terpisah, maka diperbolehkan bagi seorang suami menahan empat dari isteri-isterinya yang dinikahi terakhir kali. Ini merupakan pendapat Hasan al-Bashri, Malik, al-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Muhammad bin Hasan[3] Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Nufail bin Mu’awiyah ad-Dailami bahwa ia berkata, “(Suatu ketika) aku masuk Islam dan (ketika itu) aku memiliki lima isteri, maka aku bertanya kepada Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, maka Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menjawab,

فارق واحدة، وأمسك أربعا

Ceraikanlah salah satu dari mereka, dan ambillah empat wanita dari mereka.’ Maka diriku bertekad untuk menceraikan salah satu dari mereka yang lebih dahulu (aku nikahi) dan bagiku dia adalah wanita yang tidak subur (mandul) sejak enam puluh tahun, maka aku lantas menceraikannya.

Adapun pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat yang kedua, hal ini disebabkan[4]:

  1. Dengan melihat dhahir hadits yang digunakan pada pendapat yang kedua, yaitu dalam hadits tersebut Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- hanya menyebutkan dua pilihan, baik dengan menahan (isteri-isteri yang telah dipilih), atau dengan menceraikan isteri-isterinya yang lain. Dan beliau tidak menyebutkan apabila pernikahan dilakukan secara bersamaan dalam satu akad ketika masih dalam keadaan kafir, maka pernikahan dengan semua isterinya batal.
  2. Setiap akad yang dilakukan ketika pada masa lampau (ketika masih dalam keadaan kafir), maka hukum akad tersebut tetap berlaku baginya setelah masuk Islam tanpa harus mengungkit-ungkit masa lalunya ketika masih kafir.

Lalu bagaimana jika sebagian isteri-isterinya ada yang ikut masuk Islam, dan sebagian yang lainnya tetap bersikukuh dalam kekafiran mereka dengan tetap memeluk agama Yahudi atau Nasrani? Maka suami tersebut diberikan kebebasan untuk memilih empat wanita yang telah masuk Islam atau empat wanita dari Ahli Kitab. Maka seandainya dirinya memilih empat isterinya yang berstatus Ahli Kitab, dan kemudian suami tersebut meninggal dunia, maka mereka tidak mendapatkan warisan sedikitpun. Namun apabila suami tersebut memilih dua wanita yang telah masuk Islam, dan dua wanita dari Ahli Kitab, maka ketika suami meninggal dunia, dua isterinya yang telah masuk Islam mewarisi harta suami. Adapun dua isterinya yang berstatus Ahli Kitab, maka tidak berhak mendapatkan harta waris sedikitpun.[5]


[1] Al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, (Beirut: Daar al-Ma’rifah, 1418H/1997M), cet. Ke-1, juz III, hal. 260; dan al-Nawawi, Raudhatu al-Thaalibiin, (Beirut: Daar ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M), juz V, hal. 493.

[2] Al-Baghawi, Syarhu al-Sunnah, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424H/2003M), cet. Ke-2, jilid V, hal. 71; dan Ibnu ‘Abidin, Ruddu al-Muhtaar ‘ala al-Dur al-Mukhtaar, (Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H/1994 M), juz IV, hal. 376.

[3] Al-Baghawi, loc.cit.; dan  Ibnu ‘Abidin, loc.cit.

[4] Al-Baghawi, op.cit., jilid V, hal. 72.

[5] Al-Nawawi, al-Majmuu’ Syarhu al-Muhadzdzab, (Beirut: Daar al-Fikr, 1425 H/2005 M), juz XVII, hal. 477.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: