Anak zina menjadi imam shalat

Oleh: Hendra Prasetya

Pada dasarnya para ulama’ telah sepakat mengenai bolehnya seorang anak zina untuk menjadi imam shalat ketika tidak ada anak yang lahir dari jalur yang sah untuk menjadi imam shalat.

Akan tetapi mereka berselisih pendapat ketika anak zina menjadi imam shalat sedangkan di sana terdapat anak yang sah, para ulama’ berselisih menjadi tiga pendapat :

  1. Anak hasil zina boleh menjadi Imam shalat secara mutlak tanpa pengecualian, ini adalah pendapat Madzhab Hanabilah. Dengan syarat para jama’ah meridhainya dan anak tersebut memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang imam.

Adapun dalil yang dipakai oleh mereka adalah sebagai berikut :

Pertama, firman Allah swt

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”[1]

Kedua, mereka berdalil dengan keumuman hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebgaimana berikut,

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

Dari Abi Mas’ud Al-Anshari ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaknya yang menjadi Imam bagi sebuah kaum adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’annya”[2]

Ketiga, berdasarkan hadits Rasulullah saw dari Aisyah Radhiyallau anha, ia berkata,

ليس عليه من وزر أبويه شيء

“Dia tidak menanggung dari dosa kedua orang tuanya sedikitpun.”[3]

Keempat, dalil berdasarkan logika, mereka berpendapat bahwasanya anak hasil zina adalah merdeka, jika ia beragama Islam maka ia dihukumi sebagaimana anak yang lahir dengan hasil pernikahan yang sah, maka dengan demikian ia diperbolehkan menjadi imam shalat.

Kelima, berdasarkan hadits Rasulullah saw

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : صلوا خلف من قال : “لا اله إلاالله”

Rasulullah saw bersabda, ”Shalatlah kalian di belakang orang yang mengucapkan “La Ilaha Illallah”.[4]

  1. Hukum anak zina menjadi imam shalat adalah makruh, ini adalah pendapat Madzhab Hanafiyah dan sebagian dari Syafi’iyah. Adapun dalil yang di pakai oleh mereka adalah sebagai berikut :

Pertama, karena shalat itu dilakukan atas dasar ilmu, sedangkan pada umumnya anak hasil zina adalah anak yang bodoh karena tidak ada yang mendidik dan mengajarinya ilmu syari’ah.

Kedua, karena seorang Imam itu adalah merupakan amanah yang besar.

Imam Al-Aini berkata, “Dimakruhkan mengutamakan anak zina untuk menjadi imam dari pada anak yang sah, karena anak zina tidak memiliki ayah yang mendidik dan mengajarnya sehingga kebanyakan  dari mereka adalah bodoh, dan juga akan membuat para jama’ah kabur,

  1. Hukumnya tidaklah makruh apabila ia tidak menjadi Imam Rawatib, ini adalah pendapat Malikiyah dan Imam As-Syafi’i.[5] Sebagaimana perkataan Imam Syafi’i, “Dimakruhkan menjadikan orang yang tidak diketahui bapaknya menjadi seorang imam, karena menjadi seorang imam adalah merupakan kedudukan yang mulia, namun diperbolehkan shalat dibelakang mereka (anak zina).

Malikiyah berpendapat demikian karena kedudukan seorang imam adalah kedudukan yang tingi dan mulia, maka dimakruhkan bagi orang yang mempunyai kekurangan yang kurang baik pada dirinya ( yaitu tidak punya bapak) untuk menempati kedudukan tersebut.

Setelah memaparkan beberapa pendapat dari para ulama’ beserta dalilnya, maka pendapat yang lebih rajih dan mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, yaitu diperbolehkannya anak zina menjadi imam shalat apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai imam. Dengan beberapa alasan :

  1. Lantaran kuatnya dalil yang dipakai pendapat pertama.
  2. Adanya nasab bukan merupakan syarat menjadi seorang imam, akan tetapi nasab hanya sekedar untuk mengetahui keturunan seseorang, bukan untuk keutamaan.
  3. Dalil-dalil yang dipakai pendapat yang kedua masih diperselisihkan dari beberapa segi.
    1. Adapun perkataan mereka yang menyebutkan bahwa apabila anak zina menjadi Imam maka akan memebuat jama’ah lari dan benci dari bermakmum darinya. Hal tersebut akan terjadi apabila aib seorang imam itu dari perbuatannya sendiri bukan karena perbuatan ayahnya atau orang lain.
    2. Mereka mengatakan bahwa mayoritas anak zina adalah bodoh karena mereka tidak mempunyai bapak, namun hal ini terbantah dengan keadaan anak yatim yang juga sama tidak mempunyai bapak, akan tetapi para ulama’ tidak berselisih pendapat tentang keimamannya, sebagaimana Raslulullah d yang juga merupakan anak yatim.
  4. Dalil yang dipakai pendapat ketiga kurang tepat, mereka mengatakan bahwa menjadi seorang imam adalah kedudukan yang tinggi dan mulia maka dimakruhkan mengutamakan anak zina untuk menjadi imam.” Hal ini terbantah dengan firman Allah swt  yang menyebutkan bahwasanya seseorang bisa menjadi lebih mulia dan afdhol lantaran ketakwaan dan amal perbuatannya bukan karena nasab dan keturunan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”[6]

Begitu juga dengan sabda Rasulullah r yang menyebutkan tentang keutamaan amal seseorang, Rasulullah r bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya, Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian dan amal-amal kalian.”[7]


[1] . QS. Al-Hujurat : 13.

[2] . HR. Muslim , Shahih Muslim Kitab “Masajid dan Mawadhi’ shalat” Bab “Man Ahaqqu Bil Imamah” jil : 1 hal 465. Hadits no.

[3] . HR. Baihaqi, “Sunan Kubra”,  Kitab “Iman” Bab “Ma jaa a fi walad az-Zina” jilid 10 hal 100.

[4] .HR. Daruquthni. Ali bin Amr “Sunan Daruquthni” (Beirut Lebanon tahun 1424 H/2004 M) Jilid 2 hal 402 hadits no. 1762.

[5] . Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I “Al-Umm” (Dar Al-Wafa’ Al-Manshurah tahun 1422 H/ 2001 M) Cet ke- 4 jilid 2 hal 326.

[6] . QS. Al-Hujurat : 13.

[7] . HR. Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: