SAKSI PADA PERNIKAHAN ANTARA MUSLIM DENGAN WANITA AHLI KITAB

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Apabila seorang Muslim akan menikah dengan seorang wanita yang berstatus Ahli Kitab, maka ia tetap harus memenuhi rukun-rukun pernikahan sebagaimana pada pernikahan kaum Muslimin pada umumnya. Diantara rukun tersebut adalah adanya dua saksi yang adil. Namun yang menjadi permasalahan, apakah dua orang yang menjadi saksi tersebut diharuskan berstatus Muslim? Maka dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua perdapat[1]:

1. Disyaratkan dua saksi tersebut harus berstatus Muslim.

Ini merupakan pendapat asy-Syafi’i, Ahmad, Muhammad dan Zafar[2].[3]

Adapun dalil yang mereka gunakan adalah sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang berbunyi,

لا نكاح إلا بولي، وشاهدي عدل.

Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.[4]

Dengan hadits di atas mereka beralasan bahwa hal ini berlaku pada pernikahan seorang Muslim (baik suami-isteri berstatus Muslim atau hanya suaminya saja), maka tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan dua saksi yang berstatus dzimmi.[5]

Menurut Imam Muhammad dan Imam Zafar bahwa yang dimaksud ‘adil[6] dalam hadits tersebut adalah ‘adil dalam agama. Karena persaksian (menurutnya) merupakan syarat diperbolehkan seseorang melaksanakan akad, dan akad bergantung kepada dua sisi, yaitu suami dan isteri. Adapun persaksian tidak mungkin terwujud dari dua sisi, karena persaksian non-Muslim merupakan hujjah bagi non-Muslim, dan bukan hujjah bagi orang Muslim.[7]

2. Tidak ada persyaratan bahwa dua orang saksi harus dari kalangan Muslim, akan tetapi diperbolehkan dengan persaksian dua orang dzimmi.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf.[8] Adapun dalil mereka adalah:

a. Firman Allah –subhaanahu wa ta’ala-,

فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ

maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.[9]

b. Sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-,

تزوجوا و لا تطلقوا

Menikahlah kalian dan jangan melakukan talak….” [10]

Dalam ayat dan hadits ini tidak disebutkan adanya saksi. Adapun secara ijma’ bahwa syarat dua orang saksi harus dari kalangan Muslimin jika terjadi pada pernikahan antar Muslim. Maka barangsiapa yang menganggap bahwa hal itu merupakan syarat pada pernikahan antara seorang Muslim dengan wanita Ahli Kitab, maka agar mendatangkan dalil yang menyatakan hal tersebut.[11]

c. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa tidak ada nikah kecuali dengan adanya dua orang saksi, menunjukkan tentang diperbolehkannya melakukan pernikahan antara Muslim dengan Ahli Kitab dengan persaksian dua saksi Ahli Kitab (dzimmi). Hal ini dikarenakan yang disebut dengan persaksian secara bahasa adalah ungkapan pemberitahuan dan penjelasan kepada orang lain. Dalam hal ini dibutuhkan adanya akal, lisan dan ilmu, dan hal itu semuanya terdapat pada non-Muslim.[12]

Adapun pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat yang diungkapkan oleh kalangan madzhab Hanbali dan asy-Syafi’i serta orang-orang yang sependapat dengan mereka, yaitu bahwa salah satu syarat bagi seorang saksi pada pernikahan antara seorang Muslim dengan Ahli Kitab adalah berstatus Muslim. Hal ini disebabkan hadits yang berbunyi, “Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil. Menunjukkan tentang ke-’adalah-an pada saksi yang berstatus Muslim. Dan hadits tersebut tidak membatasi bahwa syarat ini berlaku hanya pada pernikahan antara Muslim dengan Muslimah. Sehingga persyaratan ini berlaku pula pada pernikahan antara seorang Muslim dengan wanita Ahli Kitab.[13] Wallaahu ta’ala a’lam bis shawwab.


[1]DR. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashshal fie Ahkaam al-Mar’ah, (Beirut: Mu’assasah ar-Risaalah, 1413H/993M), cet. Ke-1, juz VII, hal. 27.

[2]Imam Muhammad dan Imam Zafar adalah shahabat Imam Abu Hanifah.

[3]Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz IX, hal. 123.

[4]HR. Daar al-Quthni, dalam kitab: Nikah, (hadits no. 3491, 3492, 3493, 3494); al-Baihaqi, dalam bab: Tidak Ada Nikah Kecuali Dengan Adanya Dua Saksi yang Adil, (hadits no. 13418, 13419); dan Abdurrazzak, dalam kitab: Nikah, bab: Nikah Tanpa Wali, (hadits no. 10473).

[5]Ibnu Qudamah, loc.cit.

[6]Imam an-Nawawi t menjelaskan bahwa ‘adil (‘adalah ) secara dhahir terwujud apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar, dan berusaha meninggalkan dosa-dosa kecil. (Lihat: Muhyidin an-Nawawi, op.cit., juz XVII, hal. 360). Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi t menambahkan bahwa orang fasik, seperti orang yang berzina, minum khamr, makan riba, maka tidak diperbolehkan menjadi saksi. (Lihat: Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, (Kairo: Daar as-Salam), cet. Ke-4, hal. 338).

[7]DR. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz VII, hal. 28.

[8]DR. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz VII, hal. 27, dan Ibnu Qudamah, op.cit., juz IX, hal.123.

[9]QS. an-Nisaa’ : 3.

[10]DR. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz VII, hal. 28.

[11]Ibid.

[12]DR. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz VII, hal. 29.

[13]Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: