MASA IDDAH WANITA DALAM PERNIKAHAN FASID

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Iddah Talak

a. Sebelum Bercampur.

Apabila perceraian antara suami dan isteri dilakukan sebelum keduanya bercampur, maka dalam hal ini tidak ada iddah bagi seorang isteri. Hal ini disebabkan jika seorang isteri dicerai sebelum dirinya dicampuri (digauli) oleh suaminya pada status pernikahan yang shahih (sah), maka tidak ada iddah bagi isteri tersebut. Sehingga dalam pernikahan fasid (yang rusak), hal ini lebih utama.[1]

b. Setelah Bercampur.

Namun jika perceraian terjadi setelah suami dan isteri bercampur, maka seorang wanita tersebut harus melaksanakan iddah, walaupun status pernikahan keduanya adalah fasid. Karena pernikahan fasid dianggap sebagaimana halnya pernikahan yang sah ketika dalam kondisi yang memang dibutuhkan, yaitu untuk menjaga air mani seorang laki-laki demi menetapkan keberadaan anaknya agar tidak terjadi percampuran nasab. Hal ini ketika seorang wanita dalam keadaan hamil.[2]

Iddah Wafat

Iddah wafat diwajibkan bagi seorang isteri yang ditinggal mati oleh suaminya. Baik dirinya telah digauli atau belum. Akan tetapi bagaimana dengan status pernikahan yang rusak?

Dalam hal ini tidak diwajibkan bagi seorang wanita melakukan iddah. Adapun alasan-alasannya adalah:

  1. Syarat wajib  bagi seorang wanita melakukan iddah adalah apabila dirinya menjalin hubungan pernikahan yang sah.
  2. Allah mewajibkan iddah bagi seorang isteri (yang sah). Dan seorang wanita tidak akan menjadi seorang isteri yang sah (sebenarnya), kecuali apabila sebelumnya melaksanakan pernikahan secara sah (benar).
  3. Alasan diwajibkan bagi seorang isteri melaksanakan iddah wafat adalah disamping untuk membersihkan rahim (istibra’), juga dimaksudkan untuk menunjukkan kesedihan yang dialami seorang isteri, yaitu hilangnya kenikmatan dari sebuah pernikahan. Adapun pernikahan yang statusnya fasid (rusak), bukanlah pernikahan yang sebenarnya. Sehingga di dalam pernikahan tersebut tidak ada kenikmatan yang mana dengan adanya kenikmatan tersebut menjadikan alasan baginya untuk melakukan iddah demi menampakkan kesedihan yang sedang dialaminya.[3]

Akan tetapi seandainya seorang suami sebelumnya telah menggaulinya, dan setelah itu iapun meninggal dunia, maka seorang wanita tersebut diwajibkan untuk melakukan iddah. Akan tetapi iddah yang dilakukannya disebabkan suaminya telah menggaulinya, bukan dikarenakan kematian suami. Sehingga waktu iddahnya bukan 4 bulan 10 hari (karena itu adalah waktu untuk iddah wafat), akan tetapi masa iddah baginya adalah 3 kali quru’, jika dirinya haid. Namun jika dirinya tidak lagi haid, masa iddahnya adalah 1 bulan.[4] Wallahu ta’ala a’lam.


[1]DR. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashshal fie Ahkaam al-Mar’ah, (Beirut: Mu’assasah ar-Risaalah, 1413H/993M), cet. Ke-1, juz IX, hal.133.

[2]Ibid.

[3]Al-Kasani, Badai’ ash-Shanaai’, (Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah,  1406H/1986M),  juz III, hal.192.

[4]Dr. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz IX, hal. 135.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: