Shalat Tarawih

Oleh: Hendro Prasetyo

Defenisi

Tarawih secara bahasa jama’ dari kata tarwihah ترويحة)) yaitu sesekali untuk istirahat. Shalat sunnah yang dilakukan secara jama’ah pada bulan Ramadhan ini dinamakan tarawih karena dulu manusia mengerjakan shalat berjama’ah kemudian duduk untuk istirahat di antara setiap dua rekaat.[1]

Hukumnya

Hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkadah baik laki-laki atau perempuan menurut ‘Aimah Tsalasa kecuali Imam Malik, dan shalat tarawih disunnahkan untuk dilakukan secara berjama’ah. Sehingga apabila seseorang shalat dirumahnya maka disunnahkan baginya untuk mengerjakan secara berjama’ah bersama orang yang ada di rumahnya, namun jika ia melaksanakannya secara individu maka tidak mengapa hanya saja ia tidak mendapatkan pahala shalat jama’ah. Ini adalah hukum yang telah disepakati.[2] Dan yang lebih utama adalah dilaksanakan di masjid.[3]

Waktunya

Shalat tarawih dilaksanakan di bulan Ramadhan setelah shalat isya’ sampai terbit fajar, boleh dilakukan setelah shalat isya’ langsung atau mengundurkannya hingga pertengahan malam atau sepertiga malam akhir.[4]

Jumlah rekaat

Para ulama’ berselisih pendapat mengenai jumlah rekaat dalam shalat tarawih, ada yang mengatakan dua puluh, sebelas, dua puluh tiga dan yang lainnya. Berikut perinciannya :

  • Sebagian ulama’ berpendapat bahwa shalat tarawih adalah sebanyak delapan rekaat tanpa witir. Sebagaimana sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Syaikhani, “Bahwasanya Nabi saw keluar rumah pada pertengahan malam dari bulan Ramadhan, pada tiga malam yang berbeda, yaitu malam ketiga, kelima, ketujuh dan kedua puluh kemudian shalat di masjid, kemudian manusia shalat bersamanya. Adapun jumlah shalatnya adalah delapan rekaat, kemudian menyempurnakannya di rumah, dan Rasulullah saw mendengar suara desisan seperti desisan lebah” Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi saw melaksanakan shalat tarawih sebanyak delapan rekaat, bukan dua puluh rekaat.[5]
  • Ada juga ulama’ yang berpendapat bahwa shalat tarawih jumlahnya adalah delapan rekaat yang dilakukan dengan empat rakaat salam, empat rakaat salam   kemudian di tambah dengan witir  sebanyak tiga rekaat (sebelas rekaat dengan witir).[6] Sebagaimana sabda Rasulullah r dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata,

مَاكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Rasulullah r tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan yang lainnya melainkan hanya sebelas raka’at, beliau mengerjakan dengan empat raka’at salam dan janganlah engkau menanyakan mengenai kebaikannya dan kadar panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat raka’at dan jangan pula engkau menanyakan tentang kebaikannya dan kadar panjangnya kemudian shalat tiga raka’at.”(HR. An-Nasa’i)

  • Pendapat yang ketiga mengatakan shalat tarawih adalah sebelas rekaat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, dari Aisyah radiyallahu anha,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Bahwasanya Nabi saw tidak pernah menambah dalam bulan Ramadhan, dan tidak pula dalam bulan yang lainnya melainkan hanya sebelas rekaat.”[7]

  • Sebelas rekaat termasuk dengan witir satu rekaat, sebagaimana sabda Nabi saw dari Aisyah Ra Ia berkata “Rasulullah saw pernah shalat malam antara selesai shalat isya’ sampai fajar dengan 11 rekaat, salam tiap dua rekaat dan witir dengan satu rekaat.[8]
  • Dua puluh rekaat. Ini adalah pendapat Jumhur fuqaha’, Hanafiyah, Hanabilah, syafi’iyah, Imam Ats-Stauri dan Abu Dawud. Mereka  beralasan dengan apa yang dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan.
  • Tiga puluh enam rekaat tanpa witir. Sebagaimana yang dilaksanakan pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan orang Madinah pada tempo dulu.

Menurut Sayyid Sabiq pendapat yang paling benar adalah sebelas rekaat termasuk witir tiga reka’at (delapan rekaat kemudian ditambah witir tiga rekaat).

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun yang paling benar adalah  semua pendapat itu baik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad, dan adapun shalat tarawih pada bulan Ramadhan dan begitu pula Nabi saw tidak menentukan jumlahnya, oleh karena itu boleh memperbanyak atau menyedikitkan rekaatnya sesuai dengan panjang dan pendek bacaannya.[9]

Bacaan yang disunnahkan

Di dalam shalat tarawih tidak ada surat yang dikhususkan atau disunnahkan untuk dibaca di dalamnya sebagaiamana shalat jum’at dan shalat ‘Ied, salaf dahulu ketika mengerjakan shalat tarawih membaca dua ratus ayat atau lebih, bahkan karena sangat lamanya bacaan mereka  (para salaf) shalat dengan menggunakan tongkat dan mereka tidak akan selesai dari shalat kecuali menjelang fajar. Hal Ini karena mereka ingin mendapatkan pahala yang sangat besar pada bulan Ramadhan.

Namun alangkah lebih baiknya apabila seorang imam ingin memanjangkan bacaan hendaknya dikonfirmasikan dulu dengan para jama’ah apakah mereka menghendaki jika membaca surat yang panjang atau sebaliknya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah, “Lama atau sebentarnya bacaan itu tergantung keadaan jama’ah, kalau mereka telah sepakat dan ridho dengan bacaan yang panjang maka memanjangkan bacaan dalam shalat tarawih lebih utama.”

Imam Ahmad berkata, “Hendaknya seorang imam memperingan bacaan dalam shalat tarawih, jangan memberatkan jama’ah, terlebih lagi  di malam yang sangat pendek.”[10]

Adapun kesimpulannya ialah memanjangkan bacaan dalam shalat tarawih itu lebih baik kalau jama’ah menghendaki dan menginginkannya, demi keutamaan dan pahala. Tapi kalau jama’ah tidak menginginkannya bahkan di dalam jama’ah tersebut banyak orang yang sudah lanjut usia atau keadaan jamaah sedang tidak memungkinkan, misalnya banyak orang awam dan muallaf, maka meringankan bacaannya lebih afdhal. Wallahu ‘alam bi shawab.

Hukum shalat tarawih dengan Imam wanita

Dari Arjafah As-Tsaqafi ia berkata, “Bahwasanya Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu menyuruh manusia untuk melaksanakan shalat tarawih dan ia menjadikan seorang imam bagi laki-laki dan seorang imam wanita bagi wanita sendiri, adapun saya adalah imamnya (pada waktu itu)”. [11]

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya seorang wanita boleh menjadi imam bagi wanita tidak bagi laki-laki, sebagaimana dibolehkannya seorang wanita untuk melaksanakan shalat dibelakang shaf laki-laki, begitupula diperbolehkan bagi mereka untuk shalat tarawih berjama’ah di masjid  dengan syarat mereka harus memperhatikan qaidah dan hukum-hukum yang telah disebutkan oleh fuqaha’ (ahli fiqih) dalam hal diperbolehkannya seorang wanita keluar rumah untuk melakukan shalat di masjid. Adapun syarat diperbolehkannya seorang wanita keluar rumah di antaranya adalah harus dengan ijin suaminya atau walinya, tidak berdandan menor atau tabarruj, memakai wangi-wangian atau parfum dan tidak menimbulkan fitnah ketika ia keluar rumah.

Dan yang paling terpenting adalah seorang wanita diperbolehkan shalat jama’ah khusus bagi wanita sendiri tidak bersama laki-laki di dalam satu masjid dengan menunjuk seorang imam di antara mereka ataupun mereka ikut dalam jama’ah laki-laki. [12]

Keutamaan shalat tarawih

Shalat tarawih sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw baik bagi laki-laki ataupun wanita, karena ibadah ini tidak didapatkan kecuali hanya satu tahun sekali yaitu pada bulan Ramadhan, hingga Rasulullah saw memotivasi dan menjanjikan pada umatnya akan diampuni dosa-dosanya bagi yang mengerjakan dengan ikhlas. Berdasarkan sabda Rasulullah saw

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang berdiri (mengerjakan shalat) pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan ikhlas, maka akan diampuni atas dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim).


[1] . DR. Abdul Karim Zaidan Al-Mufassol fi Ahkam Al-Mar’ah jil 1 hal 329 cetakan kedua tahun 1993 M/ 1413 H. Mu’assasah Risalah.

[2] . Abdurrahman al-Jaziri Fiqih ala Madzahib Al-‘Arba’ah jil 1 hal 277. Cetakan tahun 2003 M/ 1416 H. Dar At-Taqwa.

[3] . Sayyid Sabiq fiqih Sunnah jil 1 hal 243.

[4] . Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri terjemahan Al-Kamil hal 716. Darus Sunnah.

[5] . Fiqih ala Madzahib Al-‘Arba’ah jil 1 hal 277.

[6] . Sayyid Sabiq fiqih Sunnah jil 1 hal 243.

[7] . Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 734.

[8] . Terjemahan Al-Kamil hal 717. Darus Sunnah

[9] . Fiqhih Islam wa Adilatuhu jil 2 hal 1089.

[10] . Fiqhih Islam wa Adilatuhu jil 2 hal 1090.

[11] . HR. Baihaqi .

[12] . DR. Abdul Karim Zaidan Al-Mufassol fi Ahkam Al-Mar’ah jil 1 hal 331.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: