Shalat witir

(Oleh:RAfiardi)

1.Hukum dan keutamaannya

Sholat witir hukumnya sunnah muakkadah, Rasulullah sangat menganjurkan dan sangat mendorong untuk mengerjakannya “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil”(Mutafaqun Alaih: Fathul Bari XI: 214 no;6410 dan Muslim IV: 2062 no;2677)

Madzhab Hanafi berkata, “Bahwa hukum sholat witir adalah wajib, tetapi pendapat yang benar adalah sunnah muakkad.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barang siapa yang meninggalkan sholat witir, maka ia adalah laki-laki yang buruk tidak semestinya persaksiannya di terima.”

2.Waktu sholat witir

Shalat witir boleh di kerjakan antar waktu isya dan subuh , namun yang paling afdhol adalah sepertiga malam terakhir, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

إنّ الله قد أمدّكُم بِصَلاَةٍ وَهِي الوِتْرُ جعله الله لكم فيما بين صَلاَةِ العِشاء إلي أن يطلعَ الفجْر

“Sesungguhnya Allah mengulurkan kepadamu  dengan sholat, yaitu sholat witir, Allah menjadikan untuknya di saat setelah sholat isya sampai waktu fajar.”(HR.at-Tirmidzi: 425, dan di sahihkan oleh syekh al-Albani dalam sahih sunan at-Tirmidzi)

Sehingga dapat di simpulkan bahwa waktu yang utama adalah maka dia menundanya hingga akhir waktu, karena sholat di akhir malam ia disaksikan. Tetapi barang siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah ia sholat witir sebelum tidur, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله ، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل ، فإن صلاة آخر الليل مشهودة ، وذلك أفضل ‘

“Barang siapa yang takut bangun  di akhir malam maka hendaklah ia mendahulukan witirnya dan barang siapa yang ingin bangun akhir malam, maka hendaklah ia sholat di akhir malam, karena sholat di akhir malam itu di saksikan dan lebih utama.(HR. Muslim 755).”

Imam Nawawi rahimahullah berkata: ini pendapat yang benar, hadits lainnya yang muthlaq di bawakan kepada hadits shohih lagi jelas ini. Di antaranya:

أوصاني خليلي أن لا أنام إلاّ على وتر

“Dan kekasihku berpesan kepadaku agar aku tidak tidur kecuali setelah sholat witir”

Yaitu di bawakan kepada orang yang tidak biasa bangun (di akhir malam)

3. Jumlah raka’atnya

Jumlah raka’atnya sekurang-kurangnya adalah satu raka’at berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:

الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ

“Witir adalah satu raka’at di akhir malam”(HR. Muslim: 752)

Dan sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam:

صلاة الليل مثنى مثنى ، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى

“Sholat malam itu (jumlahnya) dua raka’at-raka’at apabila kamu khawatir, maka apabila salah seorang dari kamu khawatir (sudah tibawaktu) sholat subuh ia sholat satu raka’at mengganjilkan baginya sholatnya. (HR. Bukhori 911, Muslim 749).”

Apabila seseorang hanya mampu melaksanakan satu raka’at maka ia telah melaksanakan sunnah, sholat boleh dilaksanakan satu, tiga, lima, tujuh, dan Sembilan raka’at.

Apabila dia melaksanakan sholat tiga raka’at ada dua cara yan g bias ia lakukan yang semua itu di syariatkan;

Pertama, melaksanakan langsung tiga raka’at dengan satu kali tasyahhud, berdasarkan hadits Aisyah radiallahu anha ia berkata:“Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak salam dalam dua rakaat witir, dan dalam lafadz lain: “Beliau sholat tiga raka’at dan tidak duduk kecuali di akhirnya.”(HR.an-Nasa’I:3/234, al-Baihaqi: 3/31, an-Nawawi: dalam al-Majmu (4/7). Diriwayatkan oleh an-Nasa’I dengan isnad yang hasan dan Baihaqi dengan ismad shohih.

Kedua, salam setelah dua raka’at kemudian witir dengan satu raka’at berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radiallahu anhuma: “Sesungguhnya ia memisahkan di antara sholat genapnya dan witirnya dengan satu kali salam. Dan ia mengabarkan bahwa Nabi melakukan hal itu. (HR. Ibnu Hibban 2435, Ibnu Hajar  dalam fathul bari 2/482 bahwa isnadnya kuat.

Adapun apabila ia sholat witir lima atau tujuh raka’at sesungguhnya ia di laksanakan bersambung dan tidak tassyahud kecuali di akhirnya dan salam, berdasarkan riwayat dari Aisyah radiallahu anha ia berkata; “Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sholat malam tiga belas raka’at, melaksanakan witir dengan hal itu dengan lima raka’at, tidak duduk kecuali akhirnya.(HR. Muslim 737)

Dan dari Ummu Salamah radiallahu anha ia berkata bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam sholat witir lima dan tujuh raka’at dan beliau tidak memisah di antaranya dengan salam tidak pula dengan ucapan,(HR. Ahmad: 6/290, an-Nasa’I: 1714, an-Nawawi berkata sanadnya jayyid. Al-Fath ar-Rabbani (2/297 dan di shohihkan oleh syekh al-Albani dalam shohih an-Nasa’I).

Dan apabila ia sholat Sembilan raka’at, maka sesungguhnya ia di laksanakan bersambung dan duduk untuk tassyahud pada raka’at ke delapan kemudian ia bangkit dan tidak salam, lalu tassyahud di raka’at ke Sembilan dan salam,berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Aisyah radiallahu anha sebagai mana dalam shohih muslim (746), sesungguhnya Nabiullah sholat Sembilan raka’at, tidak duduk padanya kecuali pada raka’at ke delapan. Maka beliau berzidkir dan memuji Allah serta berdoa kepada-Nya kemudian bangkit dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri dan sholat pada raka’at ke Sembilan, kemudian duduk berzidkir kepada Allah berdo’a dan memujij kepada-Nya kemudian beliau salam dan kami mendengarnya.

Dan apabila ia sholat witir sebelas raka’at, maka sesungguhnya ia salam pada setiap dua raka’at dan witir denga satu raka’at darinya.(Bersambung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: