KEWAJIBAN MELAKSANAKAN SHALAT BERJAMAAH

(Oleh: Umar B)

Banyak orang yang meremehkan shalat berjamaah. Yang di jadikan alasan mereka adalah tak acuh sebagian ulama terhadap masalah itu. Oleh karenanya sudah menjadi kewajiban menjelaskannya karena sebenarnya masalah ini merupakan perkara yang teramat penting.

Setiap muslim tidak dibenarkan meremehkan masalah yang dianggap penting oleh Allah (dalam kitab suci-Nya) dan Rasul-Nya.

Allah I banyak menyebut kata “shalat” dalam Al-Qur’anul Karin. Ini menandakan begitu penting perkara ini. Allah telah memerintahkan kita untuk memelihara dan melaksanakan shalat dengan berjamaah.

Allah juga mengatakan bahwa meremehkan dan malas mengerjakan shalat berjamaah termasuk sifat orang munafik. Firman Allah:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wushtaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [1]

Bagaimana seorang muslim dapat dikatakan sebagai orang yang memelihara dan mengagungkan shalat, bila ia tidak melakukan (bahkan meremehkan) shalat berjamaah bersama rekan-rekannya?

Allah I berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.” [2]

Ayat yang mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah. Pada awal ayat tersebut Allah sudah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat. Ini berarti kita diperintahkan Allah untuk memelihara shalat berjamaah, bukan sekedar mengerjakannya saja.

Dalam surat An-Nisaa’, Allah berfirman:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk mengahadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata…” [3]

Pada ayat  diatas Allah mewajibkan kaum muslimin untuk mengerjakan shalat berjamaah dalam keadaan perang. Bagaimana bila dalam keadaan damai?

Jika seoran muslim diperbolehkan meninggalkan shalat berjamaah (oleh Allah), tentu kaum muslimin lain yang tengah berbaris menghadapi serangan musuh dan yang paling terancam dibolehkan meninggalkan shalat berjamaah. Tetapi didalam ayat diatas perintah Allah tidak demikian. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa shalat berjamaah merupakan kewajiban utama. Oleh karenanya tidak dibenarkan seorang muslim meninggalkan kewajiban tersebut.

Abu Hurairah t meriwayatkan bahwa Nabi r telah bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Aku berniat memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Maka aku perintahkan seseorang untuk menjadi imam dan shalat bersama manusia. Kemudian aku berangkat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka.” [4]

Abdullah bin Mas’ud t berkata, “Engkau telah melihat kami, tidaklah seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahwa seorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah dimasjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” [5]

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Barangsiap ingin bertemu Allah di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah telah menetapkan kepada Nabi kalian jalan-jalan hidayah, dan shalat itu termasuk jalan hidayah. Kalau kalian shalat di rumah berarti kalian telah meninggalkan jalan Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan jalan Nabi kalian, maka pasti kalian sesat. Seorang laki-laki bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah I menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan mengahapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat di kalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. Pernah ada seorang laki-laki hadir dengan dituntun antara dua orang untuk didirikan di shaf.”

Dari Abu Hurairah t dikisahkan bahwa pernah ada seorang lelaki buta bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasul Allah, aku tidak punya penuntun yang menggandengku kemasjid. Apakah aku mendapat kemurahan (dispensasi) untuk shalat dirumah saja?” Rasulullah r bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan (seruan) untuk shalat?”  “Ya,” jawab lelaki buta itu. Rasulullah lalu berkata dengan tegas, “Kalau begitu datangilah masjid untuk shalat berjamaah!”

Hadits yang menujukkan wajibnya shalat berjamaah dan kewajiban melaksanakannya di rumah Allah sangat banyak. Oleh karena itu setiap muslim wajib memperhatikan dan bersegera melaksanakannya. Juga wajib untuk memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan seluruh teman-teman seaqidah agar mereka mengerjakan perintah Allah I dan perintah rasul-Nya agar mereka takut terhadap larangan Allah dan Rasul-Nya dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela,  di antaranya sifat malas mengerjakan shalat. Allah I telah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا* مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” [6]

Meninggalkan shalat berjamaah merupakan salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu di ketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi r :

بين الرجل وبين الكفر والشرك ترك الصلاة

“Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.” [7]

Rasulullah r bersabda:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

“Janji yang membatasi antara kita dan orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia kafir.”

Setiap muslim wajib memelihara shalat pada waktunya, mengerjakan shalat sesuai dengan yang disyariatkan Allah, dan mengerjakannya secara berjamaah di rumah-rumah Allah. Seorang muslim wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut akan murka dan siksa-Nya.

Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalilnya pun jelas, maka siapapun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu, karena Allah telah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [8]

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” [9]

Tidak diragukan lagi, shalat berjamaah mempunyai beberapa hikmah serta  kemaslahatan. Hikmah yang paling tampak adalah akan timbul diantara sesama muslim saling mengenal dan saling membantu untuk kebaikan dan kesabaran.

Hikmah lainnya adalah untuk memberi dorongan kepada orang yang meninggalkannya, memberi pengajaran kepada orang yang tidak tahu. Juga untuk menumbuhkan rasa tidak suka/membenci kemunafikan, untuk memperlihatkan syiar-syiar Allah ditengah-tengah hamba-hamba-Nya, dan sebagai da’wah lewat kata-kata serta perbuatan.

Diambil dari Kitab Rasaail Fii Ath-Thahaarah wa Shalah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan Syaikh Muhammad bin Shalih bin Utsaimin.


[1] QS. Al-Baqaarah: 238.

[2] QS. Al-Baqaarah: 43.

[3] QS. An-Nisaa’: 102.

[4] HR.Bukhari dan Muslim.

[5] Shahih Muslim.

[6] QS. An-Nisaa: 142-143.

[7] HR. Muslim.

[8] QS. An-Nisaa: 59.

[9] QS. An-Nuur: 63.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: