Kapan Seorang Mushalli Melakukan Sujud Sahwi…?

Sering kali kita melihat kesalahan-kesalahan seorang muslim dalam shalatnya, di antara kesalahan-kesalahan tersebut misalnya  dalam permasalahan sujud sahwi. Terkadang seorang muslim meninggalkan sujud sahwi saat diwajibkan, ada yang sujud sahwi tidak pada waktunya. Ada yang melakukan sujud sahwi sebelum salam, padahal mestinya dilakukan setelah salam. Dan di antaranya juga ada yang sujud sahwi setelah salam, padahal semestinya dilakukan sebelum salam. Oleh karena itu sujud sahwi merupakan perkara yang sangat penting untuk diketahui seorang muslim terlebih bagi para imam masjid yang akan menjadi panutan makmum-makmumnya. Berangkat dari permasalahan ini maka saya termotivasi untuk memaparkan pembahasan sujud sahwi dalam bentuk tulisan, mudah-mudahan yang saya tulis ini ada muatan ukhrawinya yang akan mengantarkan saya untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Secara ringkas, pembahasan yang saya tulis ini adalah sebagai berikut:

Definisi Sujud Sahwi

Sujud sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan sebelum atau sesudah salam karena salah satu dari sebab-sebab berikut; kelebihan rukun, kekurangan sesuatu dalam shalat baik rukun ataupun hal yang wajib, dan keragu-raguan dalam bilangan rakaat. Hal demikian jika dilakukan karena lupa dan tanpa kesengajaan. Akan tetapi jika seseorang menambah atau mengurangi sesuatu tersebut dengan sengaja maka shalatnya menjadi batal karena hal demikian merupakan perkara yang menyelisihi sunnah. Nabi saw bersabda:

مَن عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada tuntutannya dari kami maka ia tertolak.” (HR Bukhari).

Adapun jika seorang muslim melakukannya karena lupa maka hal itu tidak mengapa, hanya saja ia harus melakukan sujud sahwi karenanya. Hal ini akan dibahas pada penjelasan berikutnya.

Hal-Hal Yang Menyebabkan Sujud Sahwi

Dari sini bisa diketahui bahwa sebab-sebab yang mengharuskan seorang muslim harus melakukan sujud sahwi adalah:

  1. Kelebihan salah satu dari rukun-rukun shalat
  2. Kekurangan salah satu dari rukun-rukun shalat atau dari hal-hal yang wajib
  3. Keragu-raguan dalam bilangan rakaat

Seorang yang shalat yang di dalam shalatnya tersebut kelebihan rukun dengan tanpa kesengajaan maka ia harus melakukan sujud sahwi setelah salam sehingga ia melakukan salam empat kali (dua pasang kanan-kiri). Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra ketika Nabi saw salam pada rakaat kedua dari shalat empat rakaat, lalu para jamaah mengingatkannya, maka beliau saw menyempurnakan shalatnya lalu mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan dua kali sujud setelah beliau mengucapkan salam.” Begitu juga hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw shalat zhuhur bersama para sahabatnya sebanyak lima rakaat. Ketika telah selesai dari shalatnya, dikatakan kepada beliau: Apakah anda menambah shalat? Beliau bersabda: ‘Apa itu?’ Mereka menjawab: ‘Anda telah shalat sebanyak lima rakaat.’ Maka beliau saw mensejajarkan kedua kakinya dengan menghadap kiblat lalu melakukan sujud dua kali.

Adapun jika seorang muslim kekurangan dari rukun ataupun dari hal yang wajib maka ia tidak lepas dari dua kondisi:

Kondisi Pertama: Bisa jadi ia mengingatnya sebelum sampai pada rukun yang ia lupakan pada rakaat berikutnya. Pada kondisi seperti ini hendaknya ia kembali ke rukun yang ia lupakan kemudian ia mengulanginya dengan meneruskan shalatnya dari rukun yang ia lupakan tersebut. Contoh: seseorang yang shalat subuh kemudian ia langsung bangkit dari sujud pertama tanpa duduk di antara dua sujud dan tanpa sujud kedua. Ketika ia mulai membaca surat, ia teringat bahwa ia belum duduk di antara dua sujud dan belum sujud kedua dari rakaat pertama. Pada saat seperti ini hendaknya ia kembali duduk di antara dua sujud lalu sujud kedua kemudian diteruskan sisa shalatnya. Kemudian melakukan sujud sahwi setelah salam. (Lihat Majmu’ Fatawa Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Juz: 14, Hal: 37).

Kondisi Kedua: Ia tidak ingat kepada rukun yang ditinggalkan kecuali setelah sampai kepada rukun yang sama pada rakaat berikutnya. Pada kondisi seperti ini maka rakaat kedua dihitung sebagai rakaat pertama yang salah satu rukunnya tertinggalkan lalu ia menyempurnakan shalatnya dan sujud sahwi setelah salam. Contoh dari hal ini adalah: seseorang yang shalat subuh kemudian ia langsung bangkit dari sujud pertama tanpa duduk diantara dua sujud dan tanpa sujud kedua akan tetapi ia tidak ingat kecuali setelah duduk di antara dua sujud pada rakaat kedua. Pada kondisi seperti ini, maka rakaat kedua dihitung sebagai rakaat pertama sehingga ia harus menambah satu rakaat lagi dalam shalatnya lalu mengucap salam dan dilanjutkan dengan sujud shawi dua kali.

Adapun kekurangan dari hal-hal yang wajib, jika seseorang shalat kemudian ia meninggalkan kewajiban tanpa sengaja seperti lupa mengucapkan “Subhana Rabbiyal A’la” sementara ia tidak ingat kecuali setelah bangkit dari sujud, berarti ia telah meninggalkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban shalat maka hendaknya ia meneruskan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini sebagaimana perbuatan Nabi saw ketika tidak melakukan tasyahud awal, beliau terus melanjutkan shalatnya dan tidak mengulanginya lalu melakukan sujud sahwi sebelum salam. Akan tetapi ada perbedaan dalam hal ketinggalan tasyahud awal yaitu sebelum berdiri yang sempurna dengan berdiri yang sudah sempurna walaupun keduanya harus sama-sama melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Jika seseorang lupa tidak tasyahud awal kemudian ia mengingatnya sebelum berdiri dengan sempurna maka pada kondisi seperti itu ia harus kembali duduk lalu menyempurnakan shalatnya kemudian melakukan sujud sahwi sebelum salam. Akan tetapi jika ia telah berdiri dengan sempurna maka tidak diperkenankan baginya untuk kembali, namun ia langsung melanjutkan shalatnya. Hal ini sebagaimana hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dari Mughirah bin Syu’bah bahwa Rosulullah saw bersabda:

إذا قام أحدكم من الركعتين فلم يستتم قائما فليجلس، وإن استتم قائما فلا يجلس وسجد سجدتي السهو

“Jika seseorang di antara kalian berdiri dari rakaat kedua dan berdirinya belum sempurna, maka hendaknya ia duduk kembali. Akan tetapi jika ia telah berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk kembali dan lakukanlah sujud sahwi dua kali.” (Lihat Fiqih Sunnah, Juz 1, hal 267).

Sedangkan syak (keragu-raguan) dalam bilangan shalat, apakah kebanyakan ataukah kekurangan rakaat, apakah seorang mushalli berada pada rakaat ketiga ataukah pada rakaat keempat. Maka dalam kondisi seperti ini seorang mushalli hendaknya memilih jumlah rakaat yang diyakininya kemudian ia melanjutkan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Said Al Khudri, ia berkata bahwa Rosulullah saw bersabda:

إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدركم صلى ثلاثا أم أربعا، فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم

“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, apakah ia berada pada rakaat ketiga ataukah pada rakaat keempat maka hendaknya ia membuang keragu-raguan tersebut dan berpendirian pada jumlah bilangan yang diyakininya kemudian dia sujud dua kali sebelum salam.

Akan tetapi jika tidak jelas baginya mana yang dipandangnya benar maka ia memilih jumlah rakaat yang sedikit kemudian menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Sabda Nabi saw:

إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر أواحدة صلى أم ثنتين فليجعلها واحدة، وإذا لم يدر اثنتين صلى أم ثلاثا فليجعلها ثنتين وإذا لم يدر ثلاثا صلى أم أربعا فليجعلها ثلاثا، ثم يسجد إذا فرغ من صلاته وهو جالس قبل أن يسلم سجدتين

“Jika seseorang ragu-ragu di dalam menentukan jumlah rakaat shalatnya; apakah ia shalat satu ataukah dua rakaat maka hendaknya ia memilih satu rakaat. Jika ia ragu-ragu pada rakaat kedua ataukah ketiga, maka hendaknya ia memilih rakaat yang kedua. Jika ia ragu-ragu pada rakaat ketiga ataukah keempat, maka hendaknya ia memilih rakaat yang ketiga kemudian ia sujud sahwi dua kali sebelum salam sedang ia dalam keadaan duduk. (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam jika seorang mushalli kekurangan salah satu dari kewajiban shalat seperti tasyahud awal, ataupun seorang mushalli yang ragu-ragu dalam bilangan rakaat shalatnya baik yang ada kejelasan tentang jumlah rakaat yang diyakininya benar maupun yang tidak ada kejelasan tentangnya.

Kemudian sujud sahwi dilakukan setelah salam jika seorang mushalli kelebihan rukun dari rukun-rukun shalat, dan dilakukan setelah salam jika seorang mushalli kekurangan rukun akan tetapi ia mengingatnya baik mengingatnya sebelum satu putaran ataupun setelah satu putaran pada rakaat berikutnya, Allohu A’lam bish Showab.

Sering kali kita melihat kesalahan-kesalahan seorang muslim dalam shalatnya, di antara kesalahan-kesalahan tersebut misalnya  dalam permasalahan sujud sahwi. Terkadang seorang muslim meninggalkan sujud sahwi saat diwajibkan, ada yang sujud sahwi tidak pada waktunya. Ada yang melakukan sujud sahwi sebelum salam, padahal mestinya dilakukan setelah salam. Dan di antaranya juga ada yang sujud sahwi setelah salam, padahal semestinya dilakukan sebelum salam. Oleh karena itu sujud sahwi merupakan perkara yang sangat penting untuk diketahui seorang muslim terlebih bagi para imam masjid yang akan menjadi panutan makmum-makmumnya. Berangkat dari permasalahan ini maka saya termotivasi untuk memaparkan pembahasan sujud sahwi dalam bentuk tulisan, mudah-mudahan yang saya tulis ini ada muatan ukhrawinya yang akan mengantarkan saya untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Secara ringkas, pembahasan yang saya tulis ini adalah sebagai berikut:

Definisi Sujud Sahwi

Sujud sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan sebelum atau sesudah salam karena salah satu dari sebab-sebab berikut; kelebihan rukun, kekurangan sesuatu dalam shalat baik rukun ataupun hal yang wajib, dan keragu-raguan dalam bilangan rakaat. Hal demikian jika dilakukan karena lupa dan tanpa kesengajaan. Akan tetapi jika seseorang menambah atau mengurangi sesuatu tersebut dengan sengaja maka shalatnya menjadi batal karena hal demikian merupakan perkara yang menyelisihi sunnah. Nabi saw bersabda:

مَن عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada tuntutannya dari kami maka ia tertolak.” (HR Bukhari).

Adapun jika seorang muslim melakukannya karena lupa maka hal itu tidak mengapa, hanya saja ia harus melakukan sujud sahwi karenanya. Hal ini akan dibahas pada penjelasan berikutnya.

Hal-Hal Yang Menyebabkan Sujud Sahwi

Dari sini bisa diketahui bahwa sebab-sebab yang mengharuskan seorang muslim harus melakukan sujud sahwi adalah:

  1. Kelebihan salah satu dari rukun-rukun shalat
  2. Kekurangan salah satu dari rukun-rukun shalat atau dari hal-hal yang wajib
  3. Keragu-raguan dalam bilangan rakaat

Seorang yang shalat yang di dalam shalatnya tersebut kelebihan rukun dengan tanpa kesengajaan maka ia harus melakukan sujud sahwi setelah salam sehingga ia melakukan salam empat kali (dua pasang kanan-kiri). Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra ketika Nabi saw salam pada rakaat kedua dari shalat empat rakaat, lalu para jamaah mengingatkannya, maka beliau saw menyempurnakan shalatnya lalu mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan dua kali sujud setelah beliau mengucapkan salam.” Begitu juga hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw shalat zhuhur bersama para sahabatnya sebanyak lima rakaat. Ketika telah selesai dari shalatnya, dikatakan kepada beliau: Apakah anda menambah shalat? Beliau bersabda: ‘Apa itu?’ Mereka menjawab: ‘Anda telah shalat sebanyak lima rakaat.’ Maka beliau saw mensejajarkan kedua kakinya dengan menghadap kiblat lalu melakukan sujud dua kali.

Adapun jika seorang muslim kekurangan dari rukun ataupun dari hal yang wajib maka ia tidak lepas dari dua kondisi:

Kondisi Pertama: Bisa jadi ia mengingatnya sebelum sampai pada rukun yang ia lupakan pada rakaat berikutnya. Pada kondisi seperti ini hendaknya ia kembali ke rukun yang ia lupakan kemudian ia mengulanginya dengan meneruskan shalatnya dari rukun yang ia lupakan tersebut. Contoh: seseorang yang shalat subuh kemudian ia langsung bangkit dari sujud pertama tanpa duduk di antara dua sujud dan tanpa sujud kedua. Ketika ia mulai membaca surat, ia teringat bahwa ia belum duduk di antara dua sujud dan belum sujud kedua dari rakaat pertama. Pada saat seperti ini hendaknya ia kembali duduk di antara dua sujud lalu sujud kedua kemudian diteruskan sisa shalatnya. Kemudian melakukan sujud sahwi setelah salam. (Lihat Majmu’ Fatawa Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Juz: 14, Hal: 37).

Kondisi Kedua: Ia tidak ingat kepada rukun yang ditinggalkan kecuali setelah sampai kepada rukun yang sama pada rakaat berikutnya. Pada kondisi seperti ini maka rakaat kedua dihitung sebagai rakaat pertama yang salah satu rukunnya tertinggalkan lalu ia menyempurnakan shalatnya dan sujud sahwi setelah salam. Contoh dari hal ini adalah: seseorang yang shalat subuh kemudian ia langsung bangkit dari sujud pertama tanpa duduk diantara dua sujud dan tanpa sujud kedua akan tetapi ia tidak ingat kecuali setelah duduk di antara dua sujud pada rakaat kedua. Pada kondisi seperti ini, maka rakaat kedua dihitung sebagai rakaat pertama sehingga ia harus menambah satu rakaat lagi dalam shalatnya lalu mengucap salam dan dilanjutkan dengan sujud shawi dua kali.

Adapun kekurangan dari hal-hal yang wajib, jika seseorang shalat kemudian ia meninggalkan kewajiban tanpa sengaja seperti lupa mengucapkan “Subhana Rabbiyal A’la” sementara ia tidak ingat kecuali setelah bangkit dari sujud, berarti ia telah meninggalkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban shalat maka hendaknya ia meneruskan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini sebagaimana perbuatan Nabi saw ketika tidak melakukan tasyahud awal, beliau terus melanjutkan shalatnya dan tidak mengulanginya lalu melakukan sujud sahwi sebelum salam. Akan tetapi ada perbedaan dalam hal ketinggalan tasyahud awal yaitu sebelum berdiri yang sempurna dengan berdiri yang sudah sempurna walaupun keduanya harus sama-sama melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Jika seseorang lupa tidak tasyahud awal kemudian ia mengingatnya sebelum berdiri dengan sempurna maka pada kondisi seperti itu ia harus kembali duduk lalu menyempurnakan shalatnya kemudian melakukan sujud sahwi sebelum salam. Akan tetapi jika ia telah berdiri dengan sempurna maka tidak diperkenankan baginya untuk kembali, namun ia langsung melanjutkan shalatnya. Hal ini sebagaimana hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dari Mughirah bin Syu’bah bahwa Rosulullah saw bersabda:

إذا قام أحدكم من الركعتين فلم يستتم قائما فليجلس، وإن استتم قائما فلا يجلس وسجد سجدتي السهو

“Jika seseorang di antara kalian berdiri dari rakaat kedua dan berdirinya belum sempurna, maka hendaknya ia duduk kembali. Akan tetapi jika ia telah berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk kembali dan lakukanlah sujud sahwi dua kali.” (Lihat Fiqih Sunnah, Juz 1, hal 267).

Sedangkan syak (keragu-raguan) dalam bilangan shalat, apakah kebanyakan ataukah kekurangan rakaat, apakah seorang mushalli berada pada rakaat ketiga ataukah pada rakaat keempat. Maka dalam kondisi seperti ini seorang mushalli hendaknya memilih jumlah rakaat yang diyakininya kemudian ia melanjutkan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Said Al Khudri, ia berkata bahwa Rosulullah saw bersabda:

إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدركم صلى ثلاثا أم أربعا، فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم

“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, apakah ia berada pada rakaat ketiga ataukah pada rakaat keempat maka hendaknya ia membuang keragu-raguan tersebut dan berpendirian pada jumlah bilangan yang diyakininya kemudian dia sujud dua kali sebelum salam.

Akan tetapi jika tidak jelas baginya mana yang dipandangnya benar maka ia memilih jumlah rakaat yang sedikit kemudian menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebelum salam. Sabda Nabi saw:

إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر أواحدة صلى أم ثنتين فليجعلها واحدة، وإذا لم يدر اثنتين صلى أم ثلاثا فليجعلها ثنتين وإذا لم يدر ثلاثا صلى أم أربعا فليجعلها ثلاثا، ثم يسجد إذا فرغ من صلاته وهو جالس قبل أن يسلم سجدتين

“Jika seseorang ragu-ragu di dalam menentukan jumlah rakaat shalatnya; apakah ia shalat satu ataukah dua rakaat maka hendaknya ia memilih satu rakaat. Jika ia ragu-ragu pada rakaat kedua ataukah ketiga, maka hendaknya ia memilih rakaat yang kedua. Jika ia ragu-ragu pada rakaat ketiga ataukah keempat, maka hendaknya ia memilih rakaat yang ketiga kemudian ia sujud sahwi dua kali sebelum salam sedang ia dalam keadaan duduk. (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam jika seorang mushalli kekurangan salah satu dari kewajiban shalat seperti tasyahud awal, ataupun seorang mushalli yang ragu-ragu dalam bilangan rakaat shalatnya baik yang ada kejelasan tentang jumlah rakaat yang diyakininya benar maupun yang tidak ada kejelasan tentangnya.

Kemudian sujud sahwi dilakukan setelah salam jika seorang mushalli kelebihan rukun dari rukun-rukun shalat, dan dilakukan setelah salam jika seorang mushalli kekurangan rukun akan tetapi ia mengingatnya baik mengingatnya sebelum satu putaran ataupun setelah satu putaran pada rakaat berikutnya, Allohu A’lam bish Showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: