Istihadhah

ISTIHADHAH

(Oleh: Puji Yanto)

Di kalangan wanita ada yang mengeluarkan darah dari farjinya di luar kebiasaan bulanan dan bukan karena sebab kelahiran. Darah ini diistilahkan darah istihadhah. Al-Imam an-Nawawi –rahimahullahu ta’ala- dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim mengatakan, “Istihadhah adalah darah yang mengalir dari farj (kemaluan) wanita bukan pada waktunya (bukan pada saat haid) dan keluarnya dari urat. ”[1]

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Fathimah binti Abi Hubaisyi datang menemui Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?’ Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjawab,

لاَ، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِى الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّى.

‘Tidak, sesungguhnya itu adalah darah penyakit dan bukan darah haid. Apabila datang bulan (haid), maka tinggalkanlah shalat. Apabila telah berakhir, maka bersihkanlah darah tersebut dan shalatlah.’”[2]

Hukum Mustahadhah

Hukum wanita yang istihadhah sebagaimana hukum wanita yang suci, boleh mengerjakan shalat, puasa dan iktikaf menurut kesepakatan ulama.

Wanita istihadhah bila ingin wudhu (untuk melaksanakan shalat), maka ia mencuci bekas darah dari kemaluannya dan menahan darahnya dengan kain berdasarkan sabda Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada Hamnah. Hal ini mendasarkan kepada hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, “Kemudian berwudhulah untuk setiap kali (akan) shalat. ”

Adapun dalam hal senggama dengan istri yang sedang istihadhah, ulama telah berselisih tentang kebolehannya, namun tidak dinukilkan dari Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adanya larangan, padahal banyak wanita yang ditimpa istihadhah pada masa beliau. Dan juga Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman:

“Maka jauhilah (jangan menyetubuhi) para istri ketika mereka sedang haid. ” (QS. al-Baqarah: 222)

Dalam ayat di atas, Allah –subhaanahu wa ta’ala- hanya menyebutkan haid, yang berarti selain haid tidak diperintahkan untuk menjauhi istri.[3]

Cara Menentukan Antara Darah Haid Dengan Istihadhah

Bukanlah menjadi permasalahan apabila darah (istihadhah) keluar bukan pada saat-saat haid dan nifas dan tidak bersambung dengan keduanya. Karena telah diketahui bahwa darah itu adalah darah istihadhah.

1. Apabila wanita mengetahui kebiasaan masa haidnya, maka ia menunggu hingga selesai waktu haidnya, kemudian ia mandi dan diperbolehkan baginya mengerjakan shalat. Adapun darah yang terus keluar melampaui masa haid, maka ia adalah darah istihadhah.

2. Apabila wanita tidak mengetahui masa haidnya, namun dirinya dapat membedakan antara darah haid dan darah istihadhah dengan mengetahui ciri-cirinya. Ia harus memperhatikan dengan baik darah haidnya, sehingga ia dapat membedakan mana darah haid dan mana darah istihadhah. Maka ketika dirinya mengetahui bahwa darah haidnya keluar, ia harus segera meninggalkan shalat. Adapun ketika darah haidnya telah berhenti, ia wajib mandi dan mengerjakan shalat.

3. Apabila wanita tersebut mubtadi’ah, yakni ia baru pertama kali mengalami haid namun darah haid telah menyertainya, sementara ia tidak dapat membedakannya dengan darah haid. Maka hukumnya dengan melihat kebiasaan yang dialami oleh wanita pada umumnya. Apabila kebiasaan masa haid pada umumnya selama 7 hari setiap bulannya, maka ia menunggu dari permulaan haidnya selama 7 hari. Masa haidnya dianggap hanya selama itu saja, selebihnya ia harus mandi wajib. Adapun darah yang keluar setelah itu adalah darah istihadhah.

Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Hamnah binti Jahsy, yang artinya:

“Sesungguhnya ini adalah salah satu hantakan setan, maka kamu cukup mengalami haid selama enam atau tujuh hari sesuai dengan ketentuan Allah, kemudian mandilah. Hingga apabila engkau merasa yakin dirimu telah suci, maka kerjakanlah shalat selama dua puluh empat atau dua puluh tiga malam dan demikian pula siangnya dan berpuasalah. Karena hal tersebut telah cukup bagimu. Dan lakukanlah hal tersebut pada setiap bulannya sebagaimana wanita-wanita lain ketika mereka mengalami haid dan sebagaimana mereka suci.”[4]

4. Apabila wanita lupa kadar dan waktu haidnya dan ia juga tidak mampu membedakan antara darah haid dengan istihadhah (ulama menjulukinya dengan wanita yang bimbang), maka pendapat yang rajih bahwa wanita seperti ini hukumnya sebagaimana wanita mubtadi’ah.

Perbedaan Ulama Tentang Wajbinya Mandi Setiap Kali Shalat Bagi Wanita yang Keluar Darah Istihadhah

1. Tidak wajib (Imam empat madzhab dan yang lainnya). Ini merupakan pendapat yang benar.

Hadits ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-:

إِذَا أَقْبَلَتِ الحَيْضَة فدعي الصلاة ، وإذا أَدْبَرَتْ فاَغْسِلِي عَنْكَ الدَّم َوَصَلِّيْ

“Jika datang masa haidmu, maka tinggalkanlah shalat. Dan apabila darah haidmu telah berhenti, maka cucilah darahmu dan kerjakanlah shalat.”

Al-Imam an-Nawawi berkata, “Ketahuilah tidak wajib bagi wanita istihadhah untuk mandi ketika akan mengerjakan shalat, tidak pula wajib mandi dari satu waktu yang ada kecuali sekali saja setiap berhentinya haid. Ini merupakan pendapat Jumhur Ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf.”[5]

Asy-Syaikh Shiddiq berkata dalam Syarah ar-Raudhah, “Tidak datang dalam satu hadits pun (yang shahih) adanya kewajiban mandi untuk setiap shalat (bagi wanita istihadhah), tidak pula mandi setiap dua kali shalat dan tidak pula setiap hari. Tapi yang shahih adalah kewajiban mandi ketika selesai dari waktu haid yang biasanya (menurut ‘adat) atau selesainya waktu haid dengan tamyiz sebagaimana datang dalam hadits Aisyah dalam Shahihain dan selainnya dengan lafadz, “Maka apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat dan bila berlalu cucilah darah darimu dan shalatlah.” Adapun dalam Shahih Muslim disebutkan Ummu Habibah mandi setiap akan shalat, maka ini bukanlah hujjah karena hal itu dilakukan atas kehendaknya sendiri dan bukan diperintahkan oleh Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bahkan yang ada, Nabi mengatakan kepadanya, “Diamlah engkau (tinggalkan shalat) sekadar hari haidmu kemudian (bila telah suci) mandilah.” [6]

Ibnu Taimiyyah –rahimahullahu ta’ala- berpendapat bahwasannya mandi setiap shalat ini hanyalah sunnah tidak wajib menurut pendapat imam yang empat, bahkan yang wajib bagi wanita istihadhah adalah wudhu setiap shalat lima waktu menurut pendapat jumhur, diantaranya Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. [7]

2. Wajib mandi (sebagian ulama).

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sebagian Ahlu Sunan.


[1]Muhyidin an-Nawawi, al-Minhaj –Syarhu Shahih Muslim ibn al-Hajjaj-, (Beirut: Daar al-Maghfirah, 1420H/1999M), cet. Ke-6, juz III, hal. 242.

[2] HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan yang lainnya.

[3] Risalah fie ad-Dimaa’, hal. 50.

[4] HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dalam kitab ath-Thaharah dengan sanad layyin.

[5] Syarhu Muslim (4/19-20).

[6] Bulughul Maram halaman 53 dengan catatan kaki pembahasan asy-Syaikh Al-Albani dan lain-lain.

[7] Bulughul Maram, hal. 53 dengan catatan kaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: