Haid

(Oleh: Puji Yanto)

Makna Haid

Imam an-Nawawi –rahimahullahu ta’ala– mengatakan, “Adapun haid secara bahasa berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara’ ialah darah yang keluar dari rahim wanita secara alami ketika telah mencapai usia baligh, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu-waktu tertentu.[2] Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita.

Dinamakan haid karena warnanya yang tidak menyenangkan, berbau, najis dan berbahaya.[3]

Abu Muhammad bin Hazm –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya, “Haid adalah darah hitam yang kental beraroma tidak sedap. Kapan saja tampak darah ini dari kemaluan wanita, maka tidak halal baginya untuk shalat, puasa, dan thawaf di Baitullah serta tidak boleh bagi suaminya atau tuannya (bila wanita tersebut berstatus budak, pent.) untuk menyetubuhinya kecuali bila wanita itu melihat ia telah suci.”[4]

Hikmah Haid

Adapun hikmahnya, bahwa karena janin yang ada di dalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah –subhaanahu wa ta’ala– telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin melalui tali pusar, di mana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik-baik Pencipta.

Inilah hikmah haid. Karena itu, apabila seorang wanita sedang dalam keadaan hamil tidak mendapatkan haid lagi, kecuali jarang sekali. Demikian pula wanita yang menyusui sedikit haid, terutama pada awal masa penyusuan.

Usia Haid

Dalam hal ini ulama berselisih, diantara mereka ada yang memberikan batasan usia minimal dan maksimal orang yang haid dan diantara mereka juga ada yang tidak memberikan batasan dalam masalah ini.

Usia haid biasanya antara 12 sampai dengan 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun, atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya.

Para ulama –rahimahumullah-, berbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, di mana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut?

Ad-Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, mengatakan: “Hal ini semua, menurut saya, keliru. Sebab, yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimana pun, dan pada usia berapapun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.”

Pendapat ad-Darimi inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi, kapan pun seorang wanita mendapatkan darah haid berarti ia haid, meskipun usianya belum mencapai 9 tahun atau di atas 50 tahun. Sebab, Allah dan Rasul-Nya mengaitkan hukum-hukum haid pada keberadaan darah tersebut, serta tidak memberikan batasan usia tertentu. Maka, dalam masalah ini, wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum. Adapun pembatasan padahal tidak ada satupun dalil yang menunjukkan hal tersebut.

Masa Haid

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa batas minimal masa haid adalah satu hari dan batas maksimal masa haid adalah lima belas hari. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa beliau tidak menentukan batasan waktu tertentu dengan mengatakan, “Tidak ada dalil satupun dari Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- dan para shahabat akan masalah ini”, maka yang menjadi rujukan dalam masalah ini adalah kebiasaan.[5]

Ibnu al-Mundzir mengatakan, “Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”. Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas, dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-. Dan itulah yang benar berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan logika.

Mereka mendasarkan pendapat-pendapat mereka dengan dalil-dalil berikut:

1. Firman Allah –subhaanahu wa ta’ala-, yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu suatu kotoran’. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.” (Qs. al-Baqarah: 222). Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan berlalunya sehari-semalam, ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa illat (alasan) hukumnya adalah haid, yakni ada atau tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci (tidak haid) tidak berlaku lagi hukum-hukum haid tersebut.

2. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, bahwa Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda kepada ‘Aisyah –radhiyallaahu ‘anha– yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah, “Lakukanlah apa yang dilakukan jama’ah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci”. ‘Aisyah berkata, “Setelah masuk hari raya kurban, barulah aku suci”.

Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan bahwa Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda kepada ‘Aisyah, “Tunggulah. Jika kamu suci, maka keluarlah ke Tan’im”

Dalam hadits ini, yang dijadikan Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan suatu masa tertentu. Ini menunjukkan bahwa hukum tersebut berkaitan dengan haid, yakni ada dan tidaknya.

3. Bahwa pembatasan dan rincian yang disebutkan para fuqaha dalam masalah ini tidak terdapat dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- padahal ini perlu, bahkan amat mendesak untuk dijelaskan. Seandainya batasan dan rincian tersebut termasuk yang wajib dipahami oleh manusia dan diamalkan dalam beribadah kepada Allah, niscaya telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah dan Rasul-Nya kepada setiap orang, mengingat pentingnya hukum-hukum yang diakibatkannya yang berkenaan dengan shalat, puasa, nikah, talak, warisan dan hukum lainnya.

Sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan tentang shalat: jumlah bilangan rakaatnya, waktu-waktunya, ruku’ dan sujudnya. Tentang zakat: jenis hartanya, nisabnya, persentasenya dan siapa yang berhak menerimanya. Tentang puasa: waktu dan masanya. Tentang haji dan masalah-masalah lainnya, bahkan tentang etika makan, minum, tidur, jima’ (hubungan suami-isteri), duduk, masuk dan keluar rumah, buang hajat, sampai jumlah bilangan batu untuk bersuci dari buang hajat, dan perkara-perkara lainnya baik yang kecil maupun yang besar, yang merupakan kelengkapan agama dan kesempumaan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kaum Mu’minin.

Oleh karena pembatasan dan rincian tersebut tidak terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- maka nyatalah bahwa hal itu tidak dapat dijadikan patokan. Namun, yang sebenarnya dijadikan patokan adalah keberadaan haid, yang telah dikaitkan dengan hukum-hukum syar’i menurut ada atau tidaknya.

Dalil ini – yakni suatu hukum tidak dapat diterima jika tidak terdapat dalam Kitab dan Sunnah -berguna bagi Anda dalam masalah ini dan masalah-masalah ilmu agama lainnya, karena hukum-hukum syar’i tidak dapat ditetapkan kecuali berdasarkan dalil syar’i dari Kitab Allah, atau Sunnah Rasul-Nya atau ijma’ yang diketahui, atau qiyas yang shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullahu ta’ala- dalam salah satu kaidah yang dibahasnya, mengatakan, “Di antara sebutan yang dikaitkan oleh Allah dengan berbagai hukum dalam Kitab dan Sunnah, yaitu sebutan haid. Allah tidak menentukan batas minimal dan maksimalnya, ataupun masa suci diantara dua haid. Padahal umat membutuhkannya dan banyak cobaan yang menimpa mereka karenanya. Bahasa pun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barangsiapa menentukan suatu batasan dalam masalah ini, berarti ia telah menyalahi Kitab dan Sunnah.

4. Logika atau qiyas yang benar dan umum sifatnya. Yakni, bahwa Allah menerangkan ‘illat (alasan) haid sebagai kotoran. Maka manakala haid itu ada, berarti kotoran pun ada. Tidak ada perbedaan antara hari kedua dengan hari pertama, antara hari keempat dengan hari ketiga. Juga tidak ada perbedaan antara hari keenam belas dengan hari kelima belas, atau antara hari kedelapanbelas dengan hari ketujuh belas. Haid adalah haid dan kotoran adalah kotoran. Dalam kedua hari tersebut terdapat ‘illat yang sama. Jika demikian, bagaimana mungkin dibedakan dalam hukum antara kedua hari itu, padahal keduanya sama dalam ‘illat? Bukankah hal ini bertentangan dengan qiyas yang benar? Bukankah menurut qiyas yang benar bahwa kedua hari tersebut sama dalam hukum karena kesamaan keduanya dalam ‘illat?

5. Adanya perbedaan dan silang pendapat di kalangan ulama yang memberikan batasan, menunjukkan bahwa dalam masalah ini tidak ada dalil yang harus dijadikan patokan. Namun, semua itu merupakan hukum-hukum ijtihad yang bisa salah dan bisa juga benar, tidak ada satu pendapat yang lebih patut diikuti daripada lainnya. Dan yang menjadi acuan bila terjadi perselisihan pendapat adalah Al Qur’an dan Sunnah.

Jika ternyata pendapat yang menyatakan tidak ada batas minimal atau maksimal haid adalah pendapat yang kuat dan yang rajih, maka perlu diketahui bahwa setiap kali wanita melihat darah alami, bukan disebabkan luka atau lainnya, berarti darah itu darah haid, tanpa mempertimbangkan masa atau usia. Kecuali apabila keluamya darah itu terus menerus tanpa henti atau berhenti sebentar saja seperti sehari atau dua hari dalam sebulan, maka darah tersebut adalah darah istihadhah.

Dan akan dijelaskan, insya Allah, tentang istihadhah dan hukum-hukumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullahu ta’ala- mengatakan, “Pada prinsipnya, setiap darah yang keluar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukkan bahwa darah itu istihadhah.”

Kata beliau pula, “Maka darah yang keluar adalah haid, bila tidak diketahui sebagai darah penyakit atau karena luka.”

Pendapat ini sebagaimana merupakan pendapat yang kuat berdasarkan dalil, juga merupakan pendapat yang paling dapat dipahami dan dimengerti serta lebih mudah diamalkan dan diterapkan daripada pendapat mereka yang memberikan batasan. Dengan demikian,pendapat inilah yang lebih patut diterima karena sesuai dengan semangat dan kaidah agama Islam, yaitu: mudah dan gampang.

Firman Allah –subhaanahu wa ta’ala-,

“Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. ” (Qs. al-Hajj: 78)

Sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا.

“Sungguh agama (Islam) itu mudah. Dan tidak seorang pun mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan. Maka berlakulah lurus, sederhana (tidak melampaui batas) dan sebarkan kabar gembira.”[6]

Dan di antara akhlak Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bahwa jika beliau diminta memilih antara dua perkara, maka dipilihnya yang termudah selama tidak merupakan perbuatan dosa.[7]

Ciri-Ciri Darah Haid

Darah haid adalah darah yang berwarna hitam pekat, keras, kental, berbau tidak sedap, yang keluar dari kemaluan wanita pada waktu-waktu tertentu.[8]

Permulaan Terjadinya Haid

Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah– menyebutkan bahwa dalam suatu riwayat dari Hakim dan Ibnu Mundzir dengan sanad shahih, bahwa Ibnu ‘Abbas –radhiyallaahu ‘anhuma- mengatakan, “Permulaan haid terjadi pada diri Hawa setelah ia diturunkan dari langit.”[9]

Namun sebagian ulama berpendapat bahwa permulaan haid ini terjadi pada Bani Israil.  Sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya.[10] Akan tetapi beliau menambahkan, kebanyakan riwayat dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-menyebutkan bahwa haid bersifat umum untuk semua anak cucu Adam (para wanita).[11] Sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah –radhiyallaahu ‘anha-, bahwasanya beliau berkata, “Kami keluar (untuk melakukan suatu perjalanan), dan tidak ada tujuan lain kecuali untuk ibadah haji. Ketika tiba di Sarif aku mengalami haid, kemudian Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya, “Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu datang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ.

“Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam.”[12]

Siapa Saja yang Mengalami Haid?

Selain wanita, di antara jenis hewan ada juga yang mengalami haid seperti yang dikatakan oleh al-Jahidh dalam kitab al-Hayawan, “Yang mengalami haid dari kalangan makhluk hidup ada empat yaitu wanita, kelinci, dhaba’ (sejenis anjing hutan), dan kelelawar. Dan haidnya kelinci ini masyhur dalam syair-syair Arab.”[13]

Tanda-Tanda Datang dan Tuntasnya Haid

  1. Tanda-tanda datangnya haid dapat diketahui dengan keluarnya darah sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan pada waktu kemungkinan terjadinya haid, yakni darahnya hitam, kental, dan berbau busuk.[14]
  2. Adapun waktu tuntasnya haid dapat diketahui dengan berhentinya darah dengan adanya bercak-bercak kuning dan keruh, dengan tanda-tandanya antara lain[15]:
  • Kering, yakni sudah keringnya kemaluan wanita. Apabila dirinya memasukkan kapas atau yang semisalnya ke dalam rahimnya, maka kapas tersebut akan tetap kering.
  • Keluarnya lendir putih, yaitu cairan yang berwarna putih yang keluar dari rahim ketika berhentinya darah haid.

Cara Membersihkan Darah Haid

Dari Asma’ binti Abu Bakar –radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Datang seorang wanita menemui Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, baju salah seorang diantara kami terkena darah haid, apa yang harus ia perbuat?’ Maka Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam- menjawab,

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ وَتَنْضَحُهُ وَتُصَلِّي فِيهِ.

“(Hendaklah ia) menyikat bajunya, kemudian mencuci dan menyiramnya dengan air, setelah itu ia boleh shalat dengannya.”[16]

Dari hadits di atas, maka telah nyata bahwa darah haid adalah najis. Lain halnya dengan darah mutlak, seperti darah yang mengalir dari tubuh manusia atau darah hewan yang boleh dimakan dagingnya, maka tidak ada dalil yang mengatakan akan najisnya darah tersebut. Dan pendapat yang kuat bahwa darah adalah suci, namun lebih baik dicuci supaya bersih.[17]

Darah yang Keluar Melebihi Batas Kebiasaan Haid

Misalnya seorang wanita yang biasanya haid selama tujuh hari sekali pada setiap bulannya, pada bulan tertentu dirinya haid selama delapan hari atau bahkan lebih, maka wanita ini harus melakukan hal berikut ini[18], yakni:

  1. Hendaklah ia melihat darah yang keluar. Apabila ciri-cirinya sebagaimana darah haid, maka dirinya tetap dilarang mengerjakan shalat, puasa dan jima’. Sebab dalam hal ini tidak ada batasan waktu tentang masa haid sebagaimana yang telah dijelaskan. Namun apabila darahnya berbeda dengan darah haid, maka ia diharuskan mandi wajib dan mengerjakan shalat.
  2. Jika tidak dapat membedakan antara darah haid dan bukan, maka ia dihukumi tetap haid, tidak diperbolehkan shalat, puasa, berjima’ hingga benar-benar suci. Sebab tidak batas maksimal masa haid.


[1]Disebut juga dengan ath-Thams, al-‘Araak, adh-Dhahik, al-Ikbaar, dan al-I’shaar. (Lihat: Jami’ Ahkam an-Nisa’ I/127 – 128; Syarah Shahih Muslim I/194; Muhyidin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, (Beirut: Daar al-Fikr, 2005), juz Ke-II, hal. 350 -351).

[2] Muhyidin an-Nawawi, al-Minhaj –Syarhu Shahih Muslim ibn al-Hajjaj-, (Beirut: Daar al-Maghfirah, 1420H/1999M), cet. Ke-6, juz I, hal. 194; al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, juz Ke-II, hal. 350 -351.

[3]Muhyidin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, juz Ke-II, hal. 351; Musthafa al-‘Adhawi, Jami’u Ahkaami an-Nisaa’, (Kerajaan Arab Saudi: Daar as-Sunnah, 1413H/1992M), cet. Ke-1, jilid I, hal. 128.

[4] Al Muhalla (I/141).

[5] Al-Muhalla (2/191), dan Al-Mughni (1/308).

[6] HR. Bukhari, dalam kitab: Iman, bab: Agama itu Mudah, (hadits no. 39).

[7] Ibnu al-‘Utsaimin, Risalah fie Dima’.

[8] Muhyidin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, juz Ke-II, hal. 351.

[9] Fathul Bari (1/400)

[10] Shahih al-Bukhari, dalam kitab: Haid, bab: Bagaimana Permulaan Haid.

[11] Muhyidin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, juz Ke-II, hal. 351.

[12]HR. Al-Bukhari, dalam kitab: Haid, bab: Bagaimana Permulaan Haid, (hadits no. 294), dan dalam kitab: Kurban, bab: Daging Kurban untuk Musafir dan Wanita, (hadits no. 5548).

[13]Musthafa al-‘Adhawi, op.cit., hal. 128.

[14]Musthafa al-‘Adhawi, op.cit., hal. 200.

[15]Musthafa al-‘Adhawi, op.cit., hal. 200.

[16] HR. Al-Bukhari, dalam kitab: Wudhu, bab: Mencuci Darah, (hadits no. 227 ), dan Muslim dalam syarahnya  karya Imam an=Nawawi, dalam kitab: Thaharah (bersuci), bab: Najisnya Darah dan Cara Mencucinya, (hadits no. 673 ).

[17] Kamal bin as-Sayyid Salim, Fiqih Sunnah Wanita, terj. M. Jauhari Sulkhan dan Fakhrudin, (Jakarta: Tiga Pilar, 2007), cet. Ke-1, hal. 36.

[18] Musthafa al-‘Adhawi, op.cit., hal. 215.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: