SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’)

Oleh: Hendro Prasetyo

Defenisi shalat sunnah (tathawwu’)

Tathawwu’ pada dasarnya yaitu mengerjakan ketaatan yang tidak bersifat wajib, baik yang disyariatkan ataupun tidak.

Shalat Tathawwu’ adalah shalat yang dilakukan seorang hamba secara tathawwu’. Di dalam al-Qamus disebutkan makna tathawwu’ adalah nafilah yaitu suatu perkara agama  yang  mendapat ganjaran ketika dikerjakan dan tidak berdosa kalau ditinggalkan, atau sesuatu yang menuntut seorang mukallaf untuk mengerjakannya sebagai tambahan atas shalat fardhu yang tidak bersifat wajib.

Dinamakan juga dengan sunnah (suatu yang disunnahkan), fadilah, (keutamaan) dan Targhib (dianjurkan), seperti shalat dhuha. Rasulullah r bersabda,

عن رَبِيعَةُ بْنُ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيُّ قَالَ كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Dari Rabi’ah bin Kaab Al-Aslamy berkata, Rasulullah r telah berkata padaku, “Mintalah, lantas aku berkata, “Aku minta untuk dapat menemanimu di surga.” Beliau berkata, “Atau ada permintaan yang lain” Aku berkata, “Itulah permintaanku.” Beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkanm permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.” [1]

Pengarang kitab Bulughul Maram memahami makna sujud  dalam hadits tersebut dengan shalat sunnah, maka ia menjadikan hadits ini sebagai dalil atas disyareatkannya shalat tathawwu’ (sunnah). [2]

Nama lain shalat tathawwu’

Para ulama’ menyebutkan bahwa shalat yang dilakukan secara tathawwu’ atau selain shalat fardhu itu dengan berbagai macam nama seperti shalat mustahab, mandub, nafilah, dan sunnah. Adapun perinciannya sebagai berikut :

  • Disebut dengan Tathawwu’ karena pelakunya mengerjakan perintah yang bukan bersifat wajib atau sebuah keharusan.
  • Mustahab, karena Allah menyukainya.
  • Mandub karena Allah menganjurkannya kemudian menjelaskan keutamaan dan pahalanya.
  • Nafilah karena sebagai tambahan atas shalat fardhu dan menyempurnakan pahala shalat fardhu.
  • Sunnah karena mengikuti sunnah Rasulullah r. Adapun nama yang dipilih oleh DR. Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya Al-Mufassol fi Ahkam al-Mar’ah adalah shalat Tathawwu’.

Keutamaan shalat tathawwu’

Shalat tathawwu’ disyare’atkan sebagai pelengkap atau tambahan apabila  di dalam shalat fardhu terdapat kekurangan, hal ini adalah termasuk dari keutamaan shalat, yang tidak dimiliki oleh ibadah yang lainnya. Dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah saw bersabda,

أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة يقول ربنا عز وجل لملائكته وهو أعلم: انظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها، فإن كانت تامة كتبت له تامة، وإن كان انتقص منها شيئا، قال: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فإن كان له تطوع قال: أتموا لعبدي فريضته من تطوعه، ثم تؤخذ الأعمال على ذلكم

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari manusia pada hari kiamat adalah dari amal-amal shalat, kemudian Allah berkata kepada para malaikat dan Dialah yang maha Mengetahui, “Lihatlah pada shalat hambaku, mereka menyempurnkannya atau menguranginya? Maka apabila sempurna, ditulis baginya sempurna. Namun apabila terdapat kekurangan darinya? Allah berfirman, “Lihatlah apakah pada hambaku terdapat amalan tathawwu’? Maka jika terdapat terdapat padanya, Ia berfirman, “Sempurnakanlah bagi hambaku amalan fardhunya dari amalan-amalan tathawwu’. Kemudian akan diambil amalan-amalan yang demikian itu.”[3]

Tempat yagng paling afdhol

Kalau shalat fardhu hukumnya adalah wajib, dilaksanakan secara berjama’ah dan berada  di masjid lebih utama dari pada dikerjakan di rumah, namun sebaliknya shalat sunnah (tathawwu’) tempat yang paling afdhal dan utama adalah dikerjakan di rumah. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw, Dari Jabir radiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu selesai melaksanakan shalat di masjidnya, maka kerjakanlah sebagian dari shalatnya (yaitu shalat sunnah) di rumahnya, karena sesungguhnya Allah menjadikan sebagian shalatnya  sebagai cahaya rumahnya.”[4] Dan sabdanya, dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah saw berkata,

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ تَطَوُّعًا نُورٌ فَمَنْ شَاءَ نَوَّرَ بَيْتَه

Shalatnya seorang laki-laki di rumahnya  yang dilakukan secara tathawwu’ adalah cahaya, maka barang siapa yang sanggup hendaklah ia menyinari rumahnya (dikerjakan di rumah).”[5]

Begitu pula sabdanya yang lain,

عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا مِنْ صَلَاتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Dari Abdullah bin Umar ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah sebagian dari shalat kalian di rumah, dan janganlah melakukannya di kuburan.”[6]


[1] . HR. Bukhari hadits no. 929 dan Muslim no. 489.

[2] . terjemahan Subulus Salam Muhammad bin Isma’il Al-Amir As-Shan’ani  hal 570-571. Darus Sunnah.

[3] . Abu Dawud.

[4] . HR. Muslim no. 778.

[5] . HR. Ahmad.

[6] . HR. Bukhari no. 432 dn Muslim no. 777.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: