Shalat

Oleh: Umar Bustomi

A. Hukum Shalat

Shalat adalah suatu kewajiban dari Allah atas setiap orang mukmin. Dimana Allah I memerintahkannya dalam sejumlah firman-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [1]

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Peliharalah segala shalat dan (peliharalah) shalat wustha.” [2]. Rasulullah r menjadikan shalat sebagai tiang kedua dari tiang-tiang bangunan Islam yang lima, seraya berkata,

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، والحج ، وصوم رمضان

“Islam didirikan di atas lima tiang, yaitu: bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi selain Allah dan sesengguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah serta berpuasa dibulan Ramadhan.” [3]

Didalam ketentuan hukum syariat, bahwa orang yang meninggalkan shalat berhak dibunuh, sedang orang yang melalaikannya digolongkan sebagai orang fasik.[4]

Shalat fardhu ada lima: zhuhur, ashar, maghrib, ‘isya, dan subuh. Sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut ini:

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه قَالَ : فُرِضَتِ الصَّلاَةُ عَلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم لَيْلَةَ الإِسْرَاءِ خَمْسِينَ صَلاَةً ، ثُمَّ نُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا ، فَقَالَ الله ، عَزَّ وَجَلَّ ، لَهُ : فَإِنَّ لَكَ فِي الْخَمْسِ خَمْسِينَ

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Telah difardhukan atas Nabi r pada malam Isra’ shalat sebanyak lima puluh (waktu), kemudian dikurangi hingga menjadi lima waktu. Kemudian, Beliau di seru: “Ya,Muhammad, sesungguhnya ketetapan disisi-KU tidak bisa diubah. Dan untukmu shalat lima (waktu) ini sama dengan lima puluh (waktu).” [5]

عن طلحة بن عبيد الله * أن أعرابيا جاء إلى رسول الله  – عليه الصلاة والسلام – ثائر الرأس فقال يا رسول الله أخبرني ماذا فرض الله علي من الصلاة فقال الصلوات الخمس إلا أن تطوع شيئا فقال أخبرني بما فرض الله علي من الصيام فقال شهر رمضان إلا أن تطوع شيئا

Dari Thalhah bin Ubaidillah t bahwa ada seorang Arab Badwi datang kepada Rasulullah r dengan rambut yang tidak tersisir seraya berkata, Ya, Rasulullah beritahukan kepadaku shalat yang Allah fardhukan kepadaku!” jawab Beliau: “Shalat yang lima (waktu) kecuali kalau engkau mau shalat tathawwu (shalat sunnah).” [6]

Seluruh kaum Muslimin sepakat, bahwa barangsiapa yang menentang kefardhuan (kewajiban) shalat lima waktu, maka ia sungguh telah kafir dan keluar dari islam. Akan tetapi mereka berbeda pendapat perihal orang yang meninggalkan shalat namun di dalam hatinya tetap meyakini akan wajibnya mengerjakannya. Sebab khilafnya adalah ada beberapa hadits yang berasal dari Nabi r, dimana, beliau menyebut orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir, tanpa membedakan antara orang yang menentang dengan yang menganggap sepele.

عَنْ جَابِر قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Dari Jabir t bahwa, Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya (batasan) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [7]

عن بريدة  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : إن العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة ؛ فمن تركها فقد كفر

Dari Buraidah t , ia berkata, aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Perjanjian yang telah ditetapkan antara kami dengan mereka adalah (menegakkan) shalat, karena itu barangsiapa yang telah meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.” [8]

Akan tetapi yang rajih, yang kuat diantara sekian banyak Qaul (pendapat) para ulama adalah pendapat yang mengatakan, bahwa yang dimaksud kufr di sini ialah kufr ashghar (kufur kecil) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, [9] sebagai jalam kompromi antara hadits-hadits ini dengan hadits-hadits yang lain, diantaranya:

عَنْ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عِبَادِهِ ، فَمَنْ وَفَى بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْهُنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ وَأَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ لَمْ يُوَافِ بِهِنَّ اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ

“Dari Ubadah bin Shamit t, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Ada lima shalat yang Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang mengerjakannnya dengan sempurna tanpa menyia-nyiakan karena memandang enteng haknya sedikitpun, maka Allah berjanji kepadanya akan memasukannya kedalam surga; dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya, maka Allah tidak berjanji (apa-apa) kepadanya: ‘Jika Dia mau mengadzabnya dan jika Dia mau mengampuninya.’”(HR. Shahih Ibnu Majah no:1150)

Karena Rasulullah r menyerahkan sepenuhnya ketentuan orang yang tidak mengerjakan shalat wajib kepada kehendak Allah, maka kita dapat menyimpulkan bahwa meninggalkan shalat tidaklah menjadikan pelakunya sebagai orang kafir dan tidak pula sebagai orang musyrik, karena firman Allah I menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa saja yang dia kehendaki-Nya. (QS. An-Nisaa: 48).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتْ الْفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah t, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah r bersabda “Sesungguhnya amal hamba muslim yang pertama kali diperiksa dihitung pada hari kiamat adalah shalat wajib, jika ia menyempurnakannya (maka ia telah beruntung). Jika tidak, maka dikatakan kepada (para malaikat), ‘Perhatikanlah adakah ia memiliki amalan shalat sunnah! ‘jika ia memilikinya, maka dilengkapilah (kekurangan) amalan shalat fardhunya dengan amalan shalat sunnahnya. Kemudian seluruh amalan wajib diperlukan seperti itu.”(HR. Ibnu Majah no:172).[10]


[1] QS. An-Nisaa: 103

[2] QS. Al-Baqaarah: 238

[3] HR. Al-Bukhari[8]

[4] Minhajul Muslim,hal:320

[5] HR.Muttafaq Alaih

[6] HR. Muttafaq Alaih, dalam Kitab Al-Wajiz, hal: 132

[7] Hadits Shahih, dalam Kitab Shahihul Jami’us Shaghir no: 2848

[8] HR. Ibnu Majah I:324

[9] Untuk lebih jelasnya tentang pengertian kufr ashghar ini bisa diperiksa ulang dalam Kitab Tauhid hal.17 oleh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, terbitan Darul Qasim, Riyad Saudi Arabia.

[10] Kitab Al-Wajiz, hal: 132-134.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: