Pernikahan Muslim Dengan Ahli Kitab Dalam Perspektif Fiqih (bag. I)

PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN AHLI KITAB

DALAM PERSPEKTIF FIQIH

Menyikapi Argumentasi Kaum Liberal (bag. I)

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah –subhaanahu wa ta’ala-, Rabb semesta alam. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan-Nya dan berlindung kepada-Nya dari segala bentuk kejahatan dan keburukan yang ada pada diri dan segala amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka ia tidak akan tersesat selama-lamanya. Sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka tidak ada seorangpun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad bin Abdullah adalah hamba dan utusan-Nya.

Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- merupakan sebaik-baik undang-undang dan pedoman hidup bagi manusia. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka ia tidak akan tersesat selama-lamanya. Sebaliknya orang yang enggan berpegang kepada keduanya, maka sudah tentu akan tersesat di dunia ini dan akan mendapatkan kerugian yang sangat besar di kehidupan akherat kelak.[1]

Seseorang yang telah memilih al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- sebagai pedoman hidupnya, maka dalam memahami keduanya harus sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Karena Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- telah memberikan penjelasan dalam haditsnya yang mulia bahwa tiga generasi tersebut merupakan sebaik-baik generasi umat ini.[2]

Adapun ketika seseorang tidak mendasarkan pemahamannya tentang al-Qur’an dan as-Sunnah kepada pemahaman para Salafush Shalih, maka ia akan berusaha menafsirkan dan menjelaskan keduanya sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Jika keduanya tersebut dipandang mengenakkan dan memberikan keuntungan duniawi bagi dirinya, maka ia akan mengambilnya. Adapun sebaliknya, jika keduanya dipandang merugikan dirinya dan tidak sesuai untuk diterapkan pada kondisi sekarang ini, maka ia akan berusaha memlintir dan memutar balik ayat dan hadits itu atau kalau perlu akan membuangnya ke ‘tempat sampah’. Naudzu billaahi min dzaalik.

Orang seperti itulah yang akan mendapatkan celaan dan laknat dari Allah –subhaanahu wa ta’ala– baik di dunia maupun akherat, dan kelak ia akan mempertanggungjawabkan segala apa yang ia usahakan di dunia ini. Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Allah –subhaanahu wa ta’ala- telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan berupa (al-Qur’an), akan tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.[3]

Dalam permasalahan seperti ini hendaknya seorang Muslim jangan bersikap gegabah ketika menyampaikan ilmu ataupun memberikan fatwa. Sepandai apapun orang tersebut dalam mengetahui dan menguasai realita yang terjadi di lapangan, namun jika dirinya tidak paham terhadap atsar (dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih), maka tidak ada artinya. Dalam hal ini, ulama kita yang bernama Ibnu al-Mubarak –rahimahullahu ta’ala- pernah berkata, “Seorang yang akan memberikan fatwa hendaklah janganlah berfatwa sampai dirinya memahami atsar (fiqhu dalil) dan realitas (fiqhu waqi’ ).” [4]

Saya sempat tercengang sekaligus merasa prihatin dengan kondisi beberapa dosen yang mengajar di beberapa universitas (yang berlabel) “Islam”. Ternyata sebagian dari mereka merupakan sumber virus Liberal, sumber kerusakan dalam dien Islam. Mereka yang pada dasarnya berkewajiban memberikan bimbingan dan pengarahan kepada mahasiswa-mahasiswinya menuju syari’at yang benar, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka berusaha menggiring dan menjerumuskan mahasiswa-mahasiswinya kepada pemahaman yang justru bertolak belakang dan bertentangan jauh dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- dan Rasul-Nya yang kemudian dijelaskan lebih rinci oleh para Salafush Shalih. Padahal mereka menyandang gelar sarjana, bahkan tidak sedikit yang menyandang gelar doktor, bahkan professor di bidang Ushuluddin dan Syari’ah. Lalu apa manfaat dari gelar-gelar yang mereka sandang itu? Demi rupiah kah? Jabatan kah? Popularitas kah? Atau embel-embel yang bersifat duniawi yang lainnya yang hal itu hanya bersifat sementara dan fana? Atau dengan gelar-gelar tersebut mereka hendak mengajak manusia menuju jurang Jahannam? Naudzu billaahi min dzalik. Mudah-mudahan Allah –subhaanahu wa ta’ala– memberikan petunjuk kepada mereka.

Masalah yang paling serius pada saat ini adalah penikahan lintas agama. Beberapa dosen di universitas Islam, sebut saja “Prof. “Musdah Mulia dan “Prof. “Zainun Kamal justru aktif membongkar dasar-dasar hukum Islam dalam soal perkawinan dan menciptakan hukum baru. Buku Fiqih Lintas Agama yang ditulis oleh sejumlah profesor di UIN Jakarta dan aktivis Liberal diantaranya Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Kautsar Azhary Noer, Syafi’i Anwar, dan lain sebagainya, juga terus-menerus disebarkan di tengah masyarakat Indonesia. Seperti yang telah ditulis oleh DR. Adian Husaini, MA. dalam catatan akhir pekan ke-234. Buku Fiqih Lintas Agama ini bukan hanya membolehkan perkawinan antar agama, tetapi melangkah lebih jauh lagi dengan menganjurkan masyarakat Indonesia agar melakukan perkawinan antaragama.[5] Naudzu billaahi min dzaalik.

Kita harus benar-benar memperhatikan pemikiran dan perilaku para penganjur perkawinan antar-agama dari kalangan dosen-dosen UIN dan aktivis Liberal ini. Sebab, sadar atau tidak, melalui pemikiran dan tindakan tersebut, mereka sebenarnya sudah melakukan sebuah tindakan yang merobohkan bangunan masyarakat Islam dari dasarnya, yaitu merusak institusi keluarga Muslim. Padahal, dari keluarga inilah diharapkan akan lahir generasi masa depan yang tangguh, yang tentu saja harus didasari dengan keimanan yang kokoh. Jika di tengah keluarga ini kedua orang tuanya berbeda keimanan, bagaimana mungkin akan terbangun generasi anak yang shalih menurut Islam?.

Memang benar bahwa dalam al-Qur’an surat al-Maidah: 5, Allah memperbolehkan pernikahan beda agama, akan tetapi dalam hal ini Allah –subhaanahu wa ta’ala- memberikan batasan-batasan yang tidak diperbolehkan bagi setiap Muslim melanggar batasan-batasan tersebut, baik yang telah dijelaskan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- sendiri dalam Kitab-Nya atau yang telah dijelaskan secara gamblang oleh Rasul-Nya dalam haditsnya yang mulia. Batasan-batasan itu diantaranya adalah:

  1. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslimah menikah dengan laki-laki kafir, baik dari kalangan Ahli Kitab ataupun yang lainnya.
  2. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim menikah dengan wanita selain Ahli Kitab, baik dari kalangan musyrikin atau atheis (mereka yang tidak percaya kepada Allah).

Ketika Allah –subhaanahu wa ta’ala- dan Rasul-Nya telah menjelaskan permasalahan ini secara gamblang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, ternyata oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab tadi berusaha memlintirkan makna ayat tersebut dengan penafsiran sesuai hawa nafsu mereka. Dan hal ini telah terbukti dari pernyataan mereka secara langsung dan terang-terangan ataupun dari beberapa tulisan mereka yang terkait dengan perkawinan lintas agama.

Inilah merupakan salah satu bentuk upaya mereka untuk membuat kerusakan di muka bumi ini. Akan tetapi ketika dikatakan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi ini!, pasti mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, akan tetapi mereka tidak sadar. Dan apabila dikatakan kepada mereka, Berimanlah kalian (kepada Allah dan Rasul-Nya) sebagaimana orang-orang yang telah beriman. Pasti mereka akan menjawab (entah secara tidak langsung yakni dari dalam hatinya ataupun secara langsung dengan lisannya), “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman? Ingatlah, bahwa sesungguhnya merekalah yang bodoh, akan tetapi mereka tidak mengetahui.[6]

Saat ini ideologi “gender equality” memang sedang dominan. Ada logika-logika yang seolah-olah membela kaum Hawa. Misalnya, mereka berpendapat, jika laki-laki Muslim boleh menikah dengan wanita Ahli Kitab, mengapa wanita Muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim? Mereka ingin agar laki-laki dan wanita disamakan. Menurut mereka bahwa logika bukan berpijak pada agama, tetapi pada pola pikir Sekular-Liberal. Pola pikir itulah yang diaplikasikan dalam memandang dan memahami dalil-dalil agama, sehingga agama disesuaikan dengan keinginan mereka.[7]

Padahal kita memahami, dalam Islam akal yang benar adalah yang mengikuti pedoman keimanan. Tidak semua hal bisa dipahami dengan akal manusia karena akal manusia sifatnya terbatas. Misalnya, anjuran untuk mengusap bagian atas khuf[8] ketika bersuci. “Seandainya agama (Islam) ini didasarkan pada akal, niscaya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya.” Begitulah kata Imam Ali –radhiyallaahu ‘anhu-.[9] Kita sungguh heran, mengapa ada cendekiawan atau orang berpendidikan tinggi dalam masalah agama, setingkat “doktor” dan “professor” dalam berani “menghalalkan yang haram.”  Tidakkah mereka mengetahui bahwa tindakan semacam ini merupakan dosa besar?.

Kita bisa menyaksikan, bahwa dampak dari itu semua, banyak wanita Muslimah yang nekad menikah dengan laki-laki non-Muslim dengan alasan cinta. Diantaranya Deddy Corbuzer (Katolik) menikahi Kalina seorang Muslimah. Nurul Arifin yang kawin dengan Mayong (Katolik). Juga Yuni Shara yang menikah dengan Henry Siaha’an (Kristen). Dan masih banyak yang lain. Tetapi, mereka-mereka ini kawin di luar negeri atau mengadakan perkawinan secara Kristen. Tidak ada legitimasi agama secara Islam. Padahal, menurut UU Perkawinan No. 1/1974, perkawinan yang sah adalah yang dilakukan menurut agamanya masing-masing. Namun, kasus Deddy dan Kalina membuka mata kita semua akan sebuah fenomena baru, yakni disahkannya sebuah perkawinan antara seorang Muslim dengan laki-laki non-Muslim oleh seorang yang dikenal sebagai tokoh cendekiawan (setidaknya secara formal ia menyandang gelar “doktor” dalam bidang agama Islam). Oleh Deddy, “DR.” Zainun Kamal dipanggil “ustadz”. Konon, zaman ini adalah zaman edan. Siapa yang tidak ikut edan tidak kebagian. Cinta menjadi dewa, lebih penting dari agama. Orang yang berpegang teguh kepada agama, bisa dituduh “menuhankan agama¨. Tetapi orang yang menuhankan cinta dipuja sebagai manusia yang setia dan mulia. [10]

Perlu diketahui bahwa diantara tujuan dari pernikahan yang disyari’atkan oleh Islam adalah untuk memenuhi kebutuhan seksual seseorang secara halal dan untuk melangsungkan keturunan, dalam suasana yang mawaddah (saling mencintai), rahmah (saling berkasih sayang) dan untuk mendapatkan ketenangan lahir dan batin antara suami-isteri. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat ar-Ruum : 21.

Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang dilakukan antara seorang laki-laki dan wanita yang seakidah, seakhlak dan satu tujuan, disamping cinta dan ketulusan hati. Sehingga dibawah naungan keterpaduan inilah kehidupan suami isteri akan tentram, penuh cinta dan kasih sayang. Keluarga akan bahagia, anak-anak akan sejahtera, hingga pada akhirnya terwujud tujuan pernikahan yakni untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut pandangan Islam, tujuan perkawinan tidak akan terwujud secara sempurna kecuali jika suami dan isteri tersebut berpegang pada satu keyakinan yang sama dan berpegang teguh dalam melaksanakan ajaran agamanya. Jika agama keduanya berbeda, maka akan timbul berbagai permasalahan dalam keluarga itu, misalnya dalam masalah pelaksanaan ibadah, pendidikan anak, pengaturan makanan, dan pembinaan tradisi keagamaan.

Untuk itu harapan saya, ketika telah datang pengetahuan (ilmu) tentang masalah ini, janganlah sekali-kali kita mengikuti hawa nafsu mereka,[11] yakni orang-orang yang berusaha menjual ayat-ayat Allah –subhaanahu wa ta’ala– dengan harga yang sedikit.[12] Karena sesungguhnya kebanyakan mereka benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.[13] Namun hendaklah kita memutuskan suatu perkara menurut apa yang telah diturunkan Allah –subhaanahu wa ta’ala-. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kita dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah –subhaanahu wa ta’ala- kepada kita. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah –subhaanahu wa ta’ala-), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah –subhaanahu wa ta’ala- akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.[14]

Mudah-mudahan dengan penjelasan yang akan saya sampaikan, dapat membuka cakrawala dan menambah ilmu bagi kaum Muslimin pada umumnya dan bagi mereka yang belum mengetahui tentang permasalahan ini pada khususnya. Hanya kepada Allah I semata kita memohon pertolongan. Semoga bermanfaat. (bersambung ke bag. II)……………………

Bekasi, 19 April 2010.

http://www.puskafi.wordpress.com


[1] ‘Alaa’uddin ‘Ali al-Muttaqi al-Hanudi, Kanzu al-‘Umaal fii Sunani al-Aqwaal wa al-Af’aal, (Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1424 H/2004 M), cet Ke-2, jilid ke-I, hal. 100 [Huruf Hamzah dalam kitab: Iman dan Islam, pada bagian: al-‘aqwaal (amal perbuatan), bab: Berpegang Teguh Kepada Kitab dan Sunnah, (no. 871, 872).

[2] Lihat: Shahih al-Bukhari dalam kitab: Keutamaan Para Shahabat Nabi, bab: Keutamaan Para Shahabat Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallaam-, dan Orang yang Menyertainya Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallaam-, atau Orang yang Melihatnya dari Kalangan Muslimin, (no. 3650, 3651), dan dalam kitab: Sumpah dan Nadzar, bab: Jika Mengatakan, “Aku Bersaksi Dengan Allah atau Aku Telah Bersaksi Dengan Allah, (6658), dan juga dalam bab: Dosa Bagi Orang yang Tidak Menepati Nadzarnya, (6695) dan Shahih Muslim dalam syarah-nya dalam kitab: Keutamaan Shahabat, bab: Keutamaan para Shahabat dan Generasi Berikutnya, (no. 6414, 6415, 6416, 6417, 6419, 6422, 6425).

[3] Lihat Qs. al-Mu’minuun : 71.

[4] Ibnu al-Qayyim, I’laam al-Muwaqi’iin ‘an Rabb al-‘Aalamiin, (Kairo: Daar al-Hadits), jilid I, hal. 38.

[5]Adian Husaini, Catatan Akhir Pekan (CAP), www.hidayatullah.com, (18-06-08; 22:23).

[6]Lihat: Qs. al-Baqarah: 11 – 13.

[7]Adian Husaini, Catatan Akhir Pekan (CAP), www.hidayatullah.com.

[8]Sepatu yang terbuat dari kulit yang menutupi kaki hingga mata kaki.

[9]HR. Abu Daud, dalam kitab: Thaharah (Bersuci), bab: Bagaimana Mengusap (Khuf ), (no. 162).

[10]Adian Husaini, Catatan Akhir Pekan (CAP), www.hidayatullah.com,

[11]Lihat Qs. ar-Ra’d : 37.

[12]Lihat Qs. al-Maa’idah : 44.

[13]Lihat Qs. al-An’am : 119.

[14]Lihat Qs. al-Maa`idah : 49.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: