Haruskah Sekufu’ (Sederajat) Dalam Pernikahan

Oleh : Hendra Prasetya

Di sini perlu dijelaskan terlebih dahulu apa pengertian kafaah di dalam pernikahan. Arti kafa’ah (kesederajatan) bagi orang-orang yang menganggapnya syarat dalam pernikahan, adalah hendaknya seorang laki-laki (calon suami) itu setara derajatnya dengan wanita yang akan menjadi istrinya dalam beberapa hal.[1]

Untuk mengetahui tentang perlukah kafaah dalam pernikahan kita harus melihat pendapat para ulama mazhab fiqih mengenai kafa’ah dalam pernikahan:

Pertama, Kafaah Menurut Mazhab Syafii

Menurut Imam Syafii kafaah dalam pernikahan itu dalam empat perkara :. kebangsaan, keagamaan, kemerdekaan, dan mata pencaharian.

1. Keagamaan

    Sudah sepatutnya seorang perempuan menikah dengan laki-laki yang sederajat, hal itu untuk menjaga kehormatan dan kesuciannya. Maka perempuan yang baik sederajat dengan laki-laki yang baik dan tidak sederajat dengan laki-laki yang fasik (pezina, pejudi, pemabuk dsb). Perempuan yang fasik sederajat dengan laki-laki yang fasik. Perempuan pezina sederajat dengan laki-laki pezina. Hal ini Berdasarkan firman Allah Ta’ala sebagai berikut,

    الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ

    Artinya, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan wanita yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.”[2]

    2. Kemerdekaan

      Perempuan merdeka hanya sederajat dengan laki-laki merdeka dan tidak sederajat dengan laki-laki budak.

      3. Mata Pencaharian

        Laki-laki yang mata pencahariannya rendah, seperti tukang sapu jalan raja, tukang jaga pintu dsb., tidak sederajat dengan perempuan yang usahanya atau usaha bapaknya lebih mulia, seperti tukang jahit atau tukang listrik dsb. Laki-laki yang mempunyai mata pencaharian tidak sederajat dengan perempuan anak saudagar. Laki-laki saudagar tidak sederajat dengan perempuan anak ulama atau anak hakim.

        4. Nasab. [3]

          Adapun kekayaan, maka hal ini tidak termasuk dalam kriteria pernikahan. Karena itu, laki-laki miskin sederajat dengan perempuan yang kaya.

          Menurut Imam Syafii pula, kriteria pernikahan itu diperhitungkan dari pihak perempuan. Adapun laki-laki, ia boleh menikahi perempuan yang tidak sederajat dengan dia, meskipun kepada pembantu atau perempuan budak. Demikian menurut Imam Syafii.

          Kedua, Kafaah Menurut Mazhab Hambali

          Mazhab Hambali memiliki pendapat yang sama dengan mazhab Syafii, hanya ada tambahan satu perkara, yaitu tentang kekayaan. Menurut Imam Hambali, laki-laki miskin tidak sederajat dengan perempuan yang kaya.

          Ketiga, Kafaah Menurut Mazhab Hanafi

          Menurut Imam Hanafi, kafaah dalam pernikahan itu ada dalam dua perkara Nasab dan agama.

          1. Keagamaan

            Pendapat Mazhab Hanafi tentang kafaah dalam urusan keagamaan sama dengan pendapat mazhab Syafii. Perbedaan keduanyanya ada pada beberapa perkara. Perempuan yang shalihah dan bapaknya fasik, lalu ia nikah dengan laki-laki fasik, maka pernikahan itu sah dan bapaknya tidak berhak membantah (membatalkan) pernikahan, karena ia sama-sama fasik dengan laki-laki itu.

            2. Nasab

            Menurut imam Hanafi, nasab adalah hal yang urgen dan sangat penting. Makanya kita sangat dianjurkan menikah dengan orang yang jelas nasabnya, dan menjauhi pernikahan dengan orang yang tidak jelas nasabnya.

            Keempat, Kafaah menurut mazhab Maliki

            Menurut Imam Maliki kafaah itu adalah tentang dua perkara saja : keagamaan dan keterbebasan dari cacat.[4]

            Perempuan yang soleh tidak sederajat dengan laki-laki yang fasik, begitu juga perempuan yang selamat dari cacat tidak sederajat dengan laki-laki yang bercacat, seperti gila, sakit lepra, bala’, TBC,  dan lain sebagainya.[5]

            Adapun kekayaan, kebangsaan, perusahaan dan kemerdekaan, maka semuanya itu tidak diperhitungkan dalam pernikahan. Laki-laki bangsa Ajam seperti bangsa Indonesia, sederajat dengan perempuan bangsa Arab meskipun perempuan itu adalah Syarifah/Sayyidah keturunan Alawiah. Laki-laki tukang sapu atau tukang kebun, sederajat dengan perempuan anak saudagar, bahkan anak orang alim. Laki-laki miskin sederajat dengan perempuan yang kaya atau anak orang kaya, bahkan perempuan merdeka sederajat dengan laki-laki budak. Demikian menurut Imam Maliki. Pendapat mazhab Maliki ini dianggap oleh sebagian ulama kontemporer sesuai dengan kondisi zaman sekarang, yaitu zaman sama rata, sama rasa, dan zaman yang memandang mulia semua mata pencaharian dan pekerjaan yang halal. Dalilnya banyak, antara lain

            1. Al-Quran

              يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

              Artinya, ” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”[6]

              2. Hadis-Hadis Nabi SAW

                عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

                Artinya : Tidak ada kelebihan (keistimewaan) bagi bangsa Arab atas bangsa Ajam (yang bukan Arab) dan tiada pula bagi bangsa Ajam atas bangsa Arab dan tiada pula bagi bangsa kulit putih atas bangsa kulit hitam dan tiada pula bagi bangsa kulit hitam atas bangsa kulit putih, kecuali dengan taqwa.”[7]

                عَنْ أَبِي حَاتِمٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

                Artinya, Dari Abi Hatim Al-Muzanni ia berkata, Rasulullah r bersabda, ”Apabila datang kepadamu orang (meminang) yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka hendaklah kamu kawinkan dia (dengan anakmu), kalau tidak kamu berbuat demikian itu, maka akan terjadilah fitnah di bumi dan bencana yang besar. Berkata mereka itu (sahabat-sahabat Nabi) : Ya, Rasulullah, kalau ada pada orang itu kekurangan bangsa atau harta ? Berkata Nabi : Apabila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka hendaklah kamu kawinkan dia, (Nabi mengatakannya sampai tiga kali.)”[8]

                Setelah menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama madzhab, maka pendapat yang lebih rajih dan benar adalah pendapat keempat yaitu yang diambil oleh Imam Malik dan Malikiyah. Dengan beberapa dalil dan alasan sebagaimana berikut:

                1. Lantaran kuatnya dalil yang dibawakan pendapat keempat, yaitu sabda Rasulullah r, “Tidak ada kelebihan (keistimewaan) bagi bangsa Arab atas bangsa Ajam (yang bukan Arab) dan tiada pula bagi bangsa Ajam atas bangsa Arab dan tiada pula bagi bangsa kulit putih atas bangsa kulit hitam dan tiada pula bagi bangsa kulit hitam atas bangsa kulit putih, kecuali dengan taqwa.”[9]
                2. Hadits dari Rasulullah r yang menyebutkan anjuran menikah dengan wanita yang baik agamanya, Rasulullah r bersabda

                عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

                Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.”[10]

                Kesimpulannya ialah yang dimaksud kafa’ah di sini yaitu hal yang berkaitan dengan agama seseorang dan perilaku atau ketakwaannya, sebagai contoh yaitu seorang kafir tidak pantas bagi seorang muslim begitu juga seorang pelaku maksiat tidak pantas bagi seorang muslimah yang selalu berada dalam ketaatan. Tidak ada firman Allah ta’ala atau hadits Rasulullah r yang menyebutkan lebih dari kedua hal tersebut, tidak memandang status anak orang tersebut apakah ia termasuk anak zina, orang yang tidak jelas nasabnya atau seorang budak. Ketika ia adalah seorang yang baik agamanya dan perilakunya maka ia diperbolehkan menikahi seorang wanita yang kaya, merdeka, berkedudukan dan lain sebagainya


                [1] . Lihat Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab (edisi lengkap, ( Jakarta Penerbit Lentera, tahun 1996) Cet. Kedua hlm. 349

                [2] . QS. An-Nur : 3.

                [3] . Ibnu Qayyim Zad al-Ma’ad juz 5 hal 146.

                [4] . Ibnu Qoyyim Zadu al-Ma’ad juz 5 hal 146.

                [5] . Lihat Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, (Jakarta, Pustaka Mahmudiah th. 1964). Cet. Ke-3 hal 74, 78.

                [6] . QS. Al-Hujuraat : 13

                [7] . HR. Ahmad. Bab “Hadits seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah r” hadits no.  22391.

                [8] . HR. Tirmidzi. Kitab “Nikah” Bab “Apabila datang kepadamu orang yang kamu sukai agamanya maka nikahilah” hadits no. 1085.

                [9] . HR. Ahmad. Bab “Hadits seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah r” hadits no.  22391.

                [10] . HR. Muslim. Kitab “Radha’” bab “Dianjurkan menikah dengan wanita yang beragama” Hadits no. 3620.

                One Response to Haruskah Sekufu’ (Sederajat) Dalam Pernikahan

                1. Imam says:

                  1.”Bagi orang-orang yang menganggapnya syarat dalam pernikahan”, siapakah atau madzhab manakah yang menganggap kafaah itu sebagai syarat pernikahan?
                  2. Apakah pertimbangan kafa’ah itu suatu keharusan atau cuma anjuran?

                Leave a Reply

                Fill in your details below or click an icon to log in:

                WordPress.com Logo

                You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                Twitter picture

                You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                Facebook photo

                You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                Google+ photo

                You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                Connecting to %s

                Follow

                Get every new post delivered to your Inbox.

                %d bloggers like this: