HUKUM WALI BAGI WANITA DZIMMI DARI AHLI KITAB

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Wali merupakan salah satu rukun pernikahan. Sehingga suatu pernikahan tidak akan sah tanpa adanya seorang wali. Maka tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menikahkan dirinya sendiri atau wanita yang lainnya, dan juga tidak diperbolehkan untuk mewakilkan seseorang selain walinya.[1] Karena dalam hal ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- telah bersabda,

لا نكاح إلاَّ بوليّ

Tidak ada nikah kecuali dengan wali. [2]

Atau bersabda dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Aisyah –radhiyallaahu ta’ala‘anha-,

أيّما امرأة نكحت بغير إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطان ولِيّ من لا ولِيّ له.

Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. Jika dia telah digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar karena suami telah menghalalkan kemaluannya. Jika terjadi pertengkaran diantara mereka, maka penguasalah yang menjadi wali atas orang yang tidak punya wali. [3]

Lalu bagaimana halnya jika wali seorang wanita dzimmi dari kalangan Ahli Kitab? Dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua pendapat:

1. Tidak mengapa seorang yang statusnya non-Muslim menjadi wali bagi wanita yang non-Muslim pula.

Ini merupakan pendapat ulama kalangan madzhab asy-Syafi’i, Maliki, Hanafi, Dhahiri, Zaidiyah, dan sebagian ulama kalangan madzhab Hanbali.[4]

Mereka berpendapat bahwa sudah menjadi ketetapan ulama fiqih, jika seorang yang berstatus kafir ditetapkan sebagai wali bagi seorang yang kafir pula. Maka seorang bapak yang berstatus dzimmi dari kalangan Ahli Kitab, berhak untuk menjadi wali bagi anak wanitanya yang berstatus dzimmi pula. Baik agama bapak tersebut sama dengan agama anaknya, atau berbeda,[5] selama keduanya statusnya bukan seorang Muslim.[6]

Akan tetapi dalam hal ini kalangan madzhab Hanbali mensyaratkan bahwa antara keduanya diharuskan sama agamanya. Maka seorang bapak yang beragama Yahudi tidak dapat menjadi wali bagi anak wanitanya yang beragama Nasrani.[7]

Perwalian seorang non-Muslim bagi non-Muslim ini berlaku ketika seorang wali akan menikahkan seorang wanita dengan seorang Muslim atau non-Muslim. Maka jika seorang Muslim akan menikah dengan seorang wanita dzimmi, dan wali bagi wanita tersebut statusnya dzimmi pula, maka dirinya tetap menjadi wali yang sah bagi wanita tersebut.[8]

Dalam hal ini, Abu al-Khattab mengutip perkataan Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i bahwa seorang wali yang kafir diperbolehkan untuk menikahkan anaknya, karena ia merupakan walinya yang sah. Maka wanita tersebut tidak boleh mewakilkannya kepada selainnya.[9]

2. Tidak diperbolehkan bagi seorang non-Muslim menjadi wali bagi seorang wanita non-Muslim dalam pernikahannya dengan seorang Muslim. Adapun yang menikahkan seorang wanita tersebut adalah seorang hakim.[10]

Ini merupakan pendapat Abu Ya’la, ulama dari madzhab Hanbali. Beliau berpegang kepada pendapat Imam Ahmad –rahimahullaahu ta’ala- yang mengatakan, “Tidak diperbolehkan bagi seorang yang beragama Yahudi dan Nasrani mengakadkan pada pernikahan seorang Muslim ataupun Muslimah. Hal ini dikarenakan pelaksanaan akad membutuhkan persaksian dari kalangan Muslimin, maka tidak diperbolehkan mengangkat wali dari kalangan non-Muslim, sebagaimana pada pernikahan kaum Muslimin.”[11]

Adapun pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat yang pertama, dengan alasan:

a. Adanya firman Allah -subhaanahu wa ta’ala-,

وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. [12]

b. Adapun saksi ditetapkan dalam pernikahan sebagai persaksian di hadapan hakim. Demikian Ibnu Qudamah –rahimahullaahu ta’ala- menjelaskan.[13] Wallahu ta’ala a’lam.


[1]Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz IX, hal. 119. Dalam hal ini Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda,

لَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تُزَوِّجُ نَفْسَهَا

“Seorang wanita tidak diperbolehkan menikahkan wanita dan tidak boleh pula menikahkan dirinya sendiri, karena sesungguhnya wanita pezina itu adalah wanita yang menikahkan dirinya sendiri.” [HR. Ibnu Majah, dalam kitab: Nikah, bab: Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali, (hadits no. 1882).] Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat: Al-Albani, Mukhtashar Irwa’ al-Ghalil, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1405H/1985M), cet. Ke-2, hal. 364).

[2]HR. At-Tirmidzi, dalam kitab: Nikah, bab: Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali, (hadits no. ); Abu Dawud, dalam kitab: Nikah, bab: Wali, (hadits no. 2085), dan lain-lain. Syaikh al-Albani –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh para imam, diantaranya Ahmad, Ibnu Madini, al-Bukhari, adz-Dzuhli, Ibnu al-Jarud, Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi, dan lain-lain. Lihat: al-Albani (w. 1420H), Shahih Abu Dawud, (Kuwait: Mu’assasah Ghurras, 1423H/2002M), cet. Ke-1, juz VI, hal. 321.

[3]HR. Abu Dawud, dalam kitab: Nikah, bab: Wali, (hadits no. 2083), dan at-Tirmidzi, dalam kitab: Nikah, bab: Tidak Ada Nikah Kecuali dengan Wali, (hadits no. 1102 ), Ad-Darimi, dalam kitab: Nikah, bab: Larangan Nikah Tanpa Wali, (hadits no. 2184), dan lain-lain. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits shahih, dishahihkan pula oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Jarud, dan Ibnu Hibban.” Lihat: al-Albani, Shahih Abu Dawud, juz VI, hal. 320.

[4]DR. Abdul Karim Zaidan, al-Mufashshal fie Ahkaam al-Mar’ah, (Beirut: Mu’assasah ar-Risaalah, 1413H/993M), cet. Ke-1, juz VII, hal. 26.

[5]Selama berstatus Ahli Kitab.

[6]DR. Abdul Karim Zaidan, loc.cit.

[7]Ibid.

[8]Ibid.

[9]Ibnu Qudamah, op.cit., juz IX, hal. 151.

[10]DR. Abdul Karim Zaidan, op.cit., juz VII, hal. 27.

[11]Ibnu Qudamah, loc.cit.

[12]QS. al-Anfal : 73.

[13]Ibnu Qudamah, loc.cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: