SAKSI PADA PERNIKAHAN ANTARA MUSLIM DENGAN WANITA AHLI KITAB

May 19, 2010

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Apabila seorang Muslim akan menikah dengan seorang wanita yang berstatus Ahli Kitab, maka ia tetap harus memenuhi rukun-rukun pernikahan sebagaimana pada pernikahan kaum Muslimin pada umumnya. Diantara rukun tersebut adalah adanya dua saksi yang adil. Namun yang menjadi permasalahan, apakah dua orang yang menjadi saksi tersebut diharuskan berstatus Muslim? Maka dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua perdapat[1]:

1. Disyaratkan dua saksi tersebut harus berstatus Muslim.

Ini merupakan pendapat asy-Syafi’i, Ahmad, Muhammad dan Zafar[2].[3]

Adapun dalil yang mereka gunakan adalah sabda Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang berbunyi,

لا نكاح إلا بولي، وشاهدي عدل.

Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.[4]

Dengan hadits di atas mereka beralasan bahwa hal ini berlaku pada pernikahan seorang Muslim (baik suami-isteri berstatus Muslim atau hanya suaminya saja), maka tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan dua saksi yang berstatus dzimmi.[5] Read the rest of this entry »


HUKUM WALI BAGI WANITA DZIMMI DARI AHLI KITAB

May 19, 2010

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Wali merupakan salah satu rukun pernikahan. Sehingga suatu pernikahan tidak akan sah tanpa adanya seorang wali. Maka tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menikahkan dirinya sendiri atau wanita yang lainnya, dan juga tidak diperbolehkan untuk mewakilkan seseorang selain walinya.[1] Karena dalam hal ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- telah bersabda,

لا نكاح إلاَّ بوليّ

Tidak ada nikah kecuali dengan wali. [2]

Atau bersabda dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Aisyah –radhiyallaahu ta’ala‘anha-,

أيّما امرأة نكحت بغير إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطان ولِيّ من لا ولِيّ له.

Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. Jika dia telah digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar karena suami telah menghalalkan kemaluannya. Jika terjadi pertengkaran diantara mereka, maka penguasalah yang menjadi wali atas orang yang tidak punya wali. [3] Read the rest of this entry »


NAFKAH SETELAH CERAI DALAM PERNIKAHAN FASID

May 19, 2010

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Nafkah merupakan salah satu hak seorang isteri yang harus ditunaikan oleh seorang suami. Baik isteri tersebut statusnya sebagai isteri hakiki, seperti isteri yang masih berada dalam perlindungan suaminya (tidak ditalak), atau isteri secara hukum, seperti isteri yang ditalak dengan talak raj’i sebelum masa iddahnya habis. Atau bagi seorang isteri yang ditalak ba’in sejak masa iddahnya jika dirinya hamil. Hal ini terjadi pada pernikahan yang sah. Lalu bagaimana jika hal tersebut terjadi pada pernikahan yang fasid? Read the rest of this entry »


MASA IDDAH WANITA DALAM PERNIKAHAN FASID

May 19, 2010

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Iddah Talak

a. Sebelum Bercampur.

Apabila perceraian antara suami dan isteri dilakukan sebelum keduanya bercampur, maka dalam hal ini tidak ada iddah bagi seorang isteri. Hal ini disebabkan jika seorang isteri dicerai sebelum dirinya dicampuri (digauli) oleh suaminya pada status pernikahan yang shahih (sah), maka tidak ada iddah bagi isteri tersebut. Sehingga dalam pernikahan fasid (yang rusak), hal ini lebih utama.[1] Read the rest of this entry »


HUKUM SEORANG MUSLIM MENIKAHI WANITA AHLI KITAB

May 19, 2010

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Sebagaimana diuraikan pada pembahasan sebelumnya, bahwa pernikahan antara seorang Muslimah dengan laki-laki non-Muslim, baik dari kalangan Ahli Kitab ataupun musyrik, maka jumhur ulama bersepakat menyatakan hukumnya haram, tidak sah.

Akan tetapi apabila pernikahan tersebut dilakukan antara seorang laki-laki Muslim dengan wanita Ahli Kitab, maka dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Apakah seorang Muslim diperbolehkan menikahi wanita Ahli Kitab secara umum? Atau hanya diperbolehkan menikahi wanita Ahli Kitab yang berstatus dzimmi saja? Maka dalam permasalahan ini, penulis akan membagi pembahasan ini menjadi dua, yakni hukum menikahi wanita Ahli Kitab dari Darul Islam dan hukum menikahi wanita dari Darul Harbi. Berikut penjelasannya: Read the rest of this entry »


PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN AHLI KITAB DALAM PERSPEKTIF FIQIH

May 19, 2010

Menyikapi Argumentasi Kaum Liberal (bag. IV-selesai)

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

Artikel bagian yang ke empat ini merupakan inti dari pembahasan sebelumnya. Semoga hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai hukum pernikahan antara seorang Muslimah dengan laki-laki kafir. Sehingga kita bisa mengetahui manakah pendapat yang benar yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih, dan itulah harus kita ikuti dan mana pendapat yang salah, dan itulah yang harus kita jauhi, atau kalau perlu kita bantah dan kita luruskan.

Sungguh mengejutkan ketika salah seorang pengusung paham Liberal yang juga berstatus menjadi dosen di UIN Jakarta, Abdul Muqsith Ghazali mengatakan, “Menurut saya, pernikahan tersebut (antara Muslimah dengan laki-laki Khatolik) tetap sah dengan berlandaskan pada dua argumen berikut. Pertama, tidak dijumpai di dalam al-Qur’an sebuah dalil yang secara tegas melarang pernikahan seperti itu. Sementara perihal pelarangan atas pernikahan Muslimah dengan laki-laki non-Muslim justru berada di lingkungan buku-buku tafsir al-Qur’an dan tidak ada dalam al-Qur’an itu sendiri. Hemat saya, ketiadaan dalil yang melarang itu adalah dalil bagi bolehnya pernikahan tersebut. Dalam bahasa ushul fiqih dikatakan, ‘adamud dalil huwa ad-dalil’ (tidak ada dalil adalah sebuah dalil).”[1] Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.