Waktu-waktu Sholat

oleh: A-Han

Sholat dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi diantara ibadah-ibadah lainnya, sehingga tidak ada ibadah yang menyamai kedudukannya. Dan di antara keistimewaan sholat adalah, ia merupakan ibadah yang pertama kali diwajibkan Allah swt secara langsung terhadap RasulNYA tanpa ada perantara antara keduanya pada malam Isra’ Mi’raj yaitu di Sidratil Muntaha. Dari keistimewaan inilah ibadah sholat harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw baik dari gerakannya, do’a-do’anya sampai waktu-waktunya, sehingga barang siapa yang melaksanakan sholat tidak sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah saw maka amalannya tertolak. Contohnya,  jika seseorang sholat akan tetapi dia tidak mengikuti waktu yang ditetapkan oleh Nabi saw maka sholatnya batal dan tertolak disisi Allah swt karena dia mengerjakannya tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw.

Dalam menentukan waktu-waktu sholat Rasulullah saw sudah mengajarkannya pada kita dalam banyak hadis yang disampaikan melalui sahabat, tabi’in dan seterusnya akhirnya sampai pada kita. Akan tetapi dalam riwayat-riwayat tersebut ada riwayat yang paling lengkap di dalamnya Rasulullah saw mengajarkannya secara detail, riwayat tersebut adalah hadis Jabir bin Abdullah yang mana beliau menceritakan beliau menceritakan :

“Bahwa Nabi saw didatangi oleh (malaikat) Jibril a.s. seraya berkata kepada Beliau : ‘Bangunlah, lalu shalatlah. Maka Beliau shalat dzuhur diwaktu Matahari tergelincing (ke arah Arab). Kemudian dia datang (lagi) kepada Beliau di waktu Ashar ketika bayangan segala sesuatu sama (panjangnya) dengannya. Kemudian dia datang (lagi) kepada Beliau pada waktu maghrib seraya berkata ‘Bangunlah lalu shalatlah.’ Maka Beliau shalat maghrib di kala matahari terbenam. Kemudia dia, datang (lagi) kepada beliau pada waktu isya’ seraya berkata ‘bangunalah lalu shalatlah!. Maka Beliau shalat isya’’, ketika warna kemerah-merahan telah hilang. Kemudia dia datang (lagi) kepada Beliau pada waktu shubuh, lalu berkata, “Bangunlah kemudia shalatlah” Beliau pun shalat subuh di waktu terbitnya fajar, atau ketika sinar fajar telah meninggi. Kemudian pada esok harinya, pada waktu zhuhur dia datang (lagi) kepada beliau, lalu berkata ‘bangunalah lalu shalatlah’ maka beliau shalat dzuhur ketika bayangan segala sesuatu sama (panjangnya) dengan benda aslinya. Kemudian dia datang (lagi) kepada beliau pada waktu ashar seraya berkata, ‘bangunlah lalu shalatlah’ beliau shalat ashar diaat bayangan segala sesuatu dua kali panjang benda aslinya. Kemudian dia datang (lagi) kepadanya pada waktu maghrib dalam saat yang sama (dengan sebelumnya) dan beliau berbuat sama dengan sebelumnya. Kemudian dia datang (lagi) kepada beliau waktu isya’. Ketika separuh malam telah berlalu atau ketika sepertiga malam (pertama yang telah lewat) kemudian beliau shalat isya’. Kemudian dia datang (lagi) ketika waktu mulai sangat terang seraya berkata kepada beliau. ‘bangunlah lalu shalatlah.’ Maka beliau pun shalt shubuh, lantas (jibril) berkata : ‘diantara dua waktu inilah waktu (shalat-shalat itu)”. (HR. Nasa’I I: 263 dan Tirmidzi I:101no. 150 semakna beliau berkata: Hadis hasan shahih gharib, Syeikh Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih Irwa’ Ghalil no. 250)

Imam Tirmidzi mengatakan, bahwa Imam Muhammad (bin Islam’il al Bukhari) menegaskan bahwa riwayat yang paling kuat dalam masalah waktu-waktu shalat adalah hadis Jabir.

Inilah hadis yang menyebutkan waktu-waktu sholat dengan lengkap, akan tetapi untuk mengetahui lebih rinci, kami paparkan di bawah ini waktu-waktu sholat dan penjelasan ulama’ tentangnya :

1. Waktu shalat Dhuhur

Para ulama’ sepakat bahwa permulaan waktu shalat dzuhur ketika Matahari tergelincir kesebalah barat sebagaimana hadis diatas, dan berakhir sampai panjang bayangan sesuatu sama dengan benda aslinya. [1]

Akan tetapi dalam ulama’ berbeda pendapat mengenai berakhirnya waktu Dhuhur, apakah waktu Dhuhur habis dengan berjalannya panjang bayangan suatu benda sama dengan benda aslinya atau tidak?. Sebagaimana hadis diatas, Malaikat Jibril datang pertama kali ketika shalat Ashar sedangkan bayangan suatu benda sama dengan benda aslinya dan datang kedua kalinya ketika shalat dhuhur sedang bayangan suatu benda sama dengan aslinya.

Al Hadi, Malik dan sebagian ulama’ berpendapat bahwa waktu itu sudah masuk waktu Ashar dan belum keluar waktu dhuhur dan mereka berkata itu masih cukup untuk shalat sebanyak empat rekaat Dhuhur dan empat Ashar. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Muslim : Mereka beralasan dengan hadis Jibril diatas bahwa  dhahir hadis tersebut menunjukkan kedua waktu shalat itu jadi satu cukup untuk shalat empat rekaat.

Imam Syafi’i dan kebanyakan ulama’ berpendapat bahwa tidak ada satu waktu antara waktu shalat Dhuhur dan waktu shalat Ashar, akan tetapi kapan waktu shalat Dhuhur habis dengan berjalannya bayangan suatu benda sama dengan benda aslinya, maka masuklah waktu Ashar dan tidak ada lagi waktu dhuhur, mereka beralasan dengan hadis Ibnu Umar dan Ibnu Al Ash dalam riwayat Muslim :

وقت الظهر إذا زالت الشمس وكان ظل الرجل كطوله ما لم يحضر العصر

“Waktu Shalat Dhuhur jika Matahari sudah condong dan bayangan seseorang sejajar sebelum masuk waktu Ashar” (HR. Muslim)

Adapun penjelasan yang berpendapat ini pada hadis Jibril adalah tampak jelas maknanya habis waktu shalat dhuhur ketika ketika bayangan sesuatu sama panjangnya dengan benda aslinya dan disyareatkan waktu shalat Ashar ketika bayangan sesuatu sama panjangnya dengan benda aslinya maka tidak ada istirak (bergabungnya dua waktu sholat) antara keduanya. Ta’wil ini khusus untuk menjama’ antara hadis-hadis, karena jika hadis diatas mengandung istirak (berkumpul dua waktu) maka akhir waktu shalat dhuhur tidak diketahui karena jika akhir waktu dhuhur dimulai ketika panjang bayangan sesuatu sama dengan benda aslinya, maka tidak diketahui kapan waktu dhuhur habis dan juga tidak dapat menjelaskan batasan waktu-waktu shalat jika menggunakan takwil ini maka dapat diketahui akhir waktu shalat dan hadis-hadis (yang menjelaskan waktu shalat) mengandung kesamaan dan kecocokan.[2]

2. Waktu shalat Ashar

Waktu shalat Ashar dimulai dari panjangnya bayangan sesuatu sama dengan benda aslinya (berakhir waktu dzuhur) sebagaimana hadis Jibril di atas, dan ulama’ berbeda pendapat pada akhir waktu shalat Ashar.

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa akhir waktu shalat Ashar ketika Matahari terbenam, berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda  :

من أدرك ركعة من العصر قبل ان تغرب الشمس فقد أدرك العصر

“Barang siapa yang mendapat satu rekaat shalat Ashar sebelum Matahari tenggelam maka dia telah mendapatkan (waktu) shalat Ashar” (HR. Imam enam, berkata Tirmidzi: Hasan Shahih)

Sebagian ulama’ ada yang berpendapat bahwa akhir waktu sholat ashar ketika suatu bayangan dua kali lipat dari benda aslinya.  Istikhari berkata : Akhir waktu shalat Ashar ketika bayangan benda dua kali lipat dengan benda aslinya dan wajib diqadha’ setelah waktu tersebut berdasarka hadis Jibril, bahwa dia shalat Ashar pada hari pertama ketika banyangan sesuatu berjalan sama panjangnya dengan benda aslinya, dan pada hari kedua ketika bayangan dua kali lipat dari benda aslinya kemudian berkata : Waktu (shalat Ashar) antara kedua waktu ini.

Jumhur ulama’ menjawab dalil pendapat kedua bahwa perkataannya “Waktu (shalat Ashar) antara kedua waktu ini” itu mengandung waktu yang bukan makruh, karena dalam waktu sholat ada waktu mustahab dan waktu makruh.[3]

3. Waktu shalat maghrib.

Ahlu ilmi sepakat bahwa waktu shalat Maghrib di mulai dari terbenamnya matahari sampai dengan lenyapnya sinar (kemerah-merahan yang muncul setelah terbenamnya matahari).

Dalam hal ini ada sebagian ulama’ yang berpendapat bahwa waktu shalat mangrib hanya satu yaitu ketika Matahari tenggelam saja, ini pendapat Imam Malik, Syafi’i dan yang lainnya, mereka beralasan bahwa Jibril as saat mengajarkan Nabi saw dia shalat bersama Nabi saw pada hari pertama dan kedua dalam satu waktu (ketika Matahari tenggelam). Akan tetapi pendapat ini lemah karena dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi saw shalat maghrib pada hari kedua ketika warna kemerah-merahan hilang yaitu hadis :

أن النبي صلي الله عليه وسلم أخر المغرب في اليوم الثاني حتي كان عند سقوط الشفق

“Bahwa Nabi saw mengakhirkan Maghrib pada hari kedua sehingga warna kemerah-merahan menghilang” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

وقت الصلاة المغرب مالم يغب الشفق

“Waktu shalat mangrib ialah sebelum syafaq merah terbenam” (HR. Muslim)

Kedua hadis diatas derajatnya shahih, oleh karena itu tidak boleh menyelisi dengan sesuatu yang muhmal (masih global), dan waktu shalat magrib seperti waktu shalat-shalat yang lain yaitu waktunya saling bersambung sebagaimana waktu Dhuhur bersambung dengan waktu Ashar. Oleh karenanya ketika warna kemerahan hilang itulah waktu akhir shalat Maghrib dan ketika Matahari terbenam adalah waktu dimulainya shalat maghrib. Adapun hadis-hadis yang mereka gunakan mengandung waktu istihbab dan ikhtiyar (sunnah & memilih) dan dimakruhkan untuk mengakhirkannya.[4]

4. Waktu shalat isya’

Tidak ada perbedaan bahwa shalat Isya’ dimulai ketika syafaq menghilang, akan tetapi para ulama’ berbeda pendapat mengenai arti syafaq[5].

Ulama’ berbeda menjadi tiga pendapat :

Pendapat pertama : Safaq adalah warna merah. Ini pendapat Imam Malik, Sufyan At Tsauri, Syafi’i dan yang lainnya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

Pendapat kedua : Safaq adalah warna putih. Ini riwayat dari Anas, Abu Hurairah, Umar bin Abdul Aziz dan Nu’man bin Basir.

Pendapat ketiga : Safaq dalam bahasa arab mempunyai dua makna yang berbeda yaitu warna merah dan putih.[6]

Adapun pendapat yang dipakai kebanyakan ahlu ilmi bahwa syafaq adalah warna merah karena dalam Darul Quthni disebutkan dari hadis Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda :

الشفق الحمرة فإذا غاب الشفق وجبت الصلاة

Safaq adalah warna merah, jika safaq sudah hilang diwajibkan shalat” (HR. Darul Quthni)

Imam Syaukani berkata : “Hadis ini menunjukkan akan benarnya pendapat yang mengatakan bahwa safaq adalah warna merah”[7]

Ibnu Qudamah menjelaskan mengenai perbedaan ini beliau berkata : “Jika disuatu tempat yang ufuknya kelihatan (seprt. Digurun, laut dll.) dan jelas ketika hilangnya safaq maka kapan warna merah menghilang sudah masuk waktu Isya’, jika di tempat yang ufuknya tertutupi gunung atau tembok, maka demi kehati-hatian hendaknya melihat sehingga warna putih menghilang sebagai petunjuk hilangnya warna merah, ini diambil dari hilangnya warna putih karena untuk menunjukkan hilangnya warna merah bukan karena warna putihnya menghilang.[8]

Adapun waktu akhir shalat Isya’ sampai sampai terbit fajar kedua (Fajar Shadiq) dan waktu ini adalah waktu dharurah (gawat) karena Rasulullah saw bersabda :

ليس في النوم تفريط إنما التفريط من لم يصل الصلاة حتي يجيء وقت الصلاة الأخري

Ketiduran tidak dianggap meremehkan (shalat), akan tetapi orang yang meremehkan ialah orang yang tidak segera menunaikan shalatnya hingga tiba waktu shalat yang lainnya (setelahnya) (HR. Muslim)

Hadis diatas menjelaskan bahwa waktu-waktu shalat wajib berakhir sampai masuk waktu shalat berikutnya kecuali shalat subuh[9], karena Rasulullah saw bersabda :

من ادرك ركعة من الصبح قبل أن بطلع الشمس فقد أدرك الصبح

Barang siapa yang mendapat satu rekaat shalat subuh sebelum Matahari terbit maka dia sudah mendapatkan shalat Subuh” (HR. Muslim)

Dan para ulama’ berbeda pendapat pada waktu akhir ikhtiyari (memilih ketika tidakada urusan penting):

Pendapat pertama : Akhir waktu ikhtiyari shalat Isya’ pada sepertiga malam pertama, ini pendapat Umar bin Khattab, Abu Hurairah, Umar bin Abdul Aziz dan Malik. Mereka beralasan dengan hadis Jibril bahwa Nabi saw shalat Isya’ pada hari kedua pada sepertiga malam, dan Jibril berkata : “Waktu shalat antara kedua waktu ini” dan hadis dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda :

صلوا مابين أن يغيب الشقف إلي ثلث الليل

“Shalat (Isya’) kalian antara hilangnya safaq (warna merah) sampai sepertiga malam” (HR. Nasa’i)

Pendapat kedua : Berakhir pada separoh malam, ini pendapat Tsauri, Ibnu Mubarak dan Syafi’i, mereka beralasan dengan hadis Anas bin Malik, beliau berkata :

“Rasulullah saw mengakhirkan shalat Isya’ sampai separoh malam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan sabda Rasulullah saw :

لولا ضعف الضعيف وسقم السقيم لأمرت بهذه الصلاة أن تؤخر إلي شطر الليل

“Kalaulah bukan karena orang yang lemah dan orang yang sakit, Sungguh aku akan memerintahkan untuk mengakhirkan shalat ini sampai separoh malam” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Nasa’i)

Pendapat yang utama adalah pendapat yang pertama, akan tetapi jika diakhirkan hingga separoh malam tidak apa-apa.[10]

5. Waktu shalat subuh.

Ulama’ sepakat bahwa shalat subuh dimulai ketika terbit fajar sadiq (fajar kedua) sebagaimana hadis Jibril di atas dan berakhir ketika Matahari terbit, sebagaimana sabda Nabi saw dalam hadis Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda :

ووقت الفجر مالم تطلع الشمس ومن ادرك منها ركعة قبل ان تطاع الشمس كان مدركا لها

“Waktu shalat fajar selama Matahari belum teribt, barang siapa yang mendapatkan satu rekaat shalat subuh sebelum Matahari terbitk maka dia sudah mendapatkan waktu shalat subuh. (HR. Muslim)

من ادرك ركعة من الصبح قبل ان تطلع الشمس فقد ادرك الصبح

“Barang siapa yang mendapatkan satu rekaat shalat subuh sebelum matahari terbit maka dia sudah mendapatkan shalat subuh” (Muttaqun alaih)

Adapun cara untuk mengetahui fajar shadiq adalah sebagaimana yang dijelaskan para ulama :

Ibn Qudamah -Rahimahullah- mengatakan, “Ringkasnya, bahwa waktu Subuh masuk dengan terbitnya fajar kedua, berdasarkan ijma’ ulama. Hadits-hadits tentang penentuan waktu shalat menunjukkan hal ini, yaitu sinar putih yang melebar di ufuk. Disebut fajar shadiq, karena ia benar memberitakan tentang Subuh dan menjelaskannya kepada anda. Subuh itu adalah waktu yang menggabungkan sinar putih (terang) dengan semburat merah. Dari sini orang yang berkulit putih bercampur merah disebut Ashbah. Sedangkan fajar pertama yaitu sinar terang yang memanjang ke atas dan tidak melebar (vertical) maka tidak ada sangkut pautnya dengan hukum syar’i, disebut fajar kadzib.” [11]

Ibn Hazm -Rahimahullah- mengatakan, “Fajar pertama adalah meninggi ke atas seperti ekor serigala, setelah itu gelap lagi menyelimuti ufuk, tidak mengharamkan makan dan minum bagi orang yang puasa, belum masuk waktu shalat Subuh. Ini tidak diperselisihkan oleh seorangpun dari umat ini.

Yang kedua adalah sinar terang yang melebar di langit di ufuk timur di tempat terbitnya matahari pada setiap masa. Ia berpindah dengan perpindahannya (matahari), ia merupakan permulaan cahaya Subuh, dan semakin terang, barangkali dicampuri dengan semburat merah yang indah. Inilah yang menjelaskan masuknya waktu puasa, dan adzan shalat Subuh. Adapun masuknya waktu shalat terjadi dengan semakin terangnya, maka ini tidak diperselisihkan oleh seorangpun.”[12]

Syaikh Ibn Utsaimin -Rahimahullah- mengatakan, “Para ulama menyebutkan bahwa antara fajar kadzib dan fajar shadiq ada tiga perbedaan:

a. Fajar kadzib mumtad (memanjang) tidak mu’taridh (menghadang); Mumtad maksudnya memanjang dari timur ke barat. Sedangkan fajar shadiq melebar dari utara ke selatan.

b. Fajar kadzib masih gelap, artinya cahaya fajar ini sebentar kemudian gelap lagi. Sedangkan fajar shadiq tidak dalam keadaan gelap, bahkan semakin lama semakin terang cahayanya (karena merupakan awal siang).

c. Fajar shadiq bersambung dengan ufuk, tidak ada kegelapan antara fajar ini dengan ufuk. Sedangkan fajar pertama, terputus dari ufuk, ada kegelapan antara fajar kadzib dan ufuk.

Fajar pertama ini (kadzib) tidak berkaitan dengan hukum syariat apapun, tidak menjadi awal menahan diri dari makan minum ketika puasa, tidak pula awal masuknya waktu Subuh. Hukum-hukum yang disebutkan ini berkaitan dengan fajar kedua, yakni fajar shadiq.”[13].

Demikianlah waktu-waktu sholat yang diajarkan langsung dari Malikat penyampai wahyu ‘Jibril’ kepada Nabi Muhammad saw yang mana di dalamnya tidak ada campur tangan manusia.

Akan tetapi kalau kita lihat pada zaman sekarang umumnya kaum muslimin menggunakan waktu-waktu sholat dengan berpegangan pada jadwal yang sudah ditentukan pemerintah atau yang sering kita dengar dengan jadwal sholat abadi. Maka dalam hal ini kalau kita teliti para ulama’ tidak ada yang menentangannya dari sejak munculnya penentuan ini hingga sekarang, ini menunjukkan bahwa menentukan waktu sholat dengan jadwal itu diperbolehkan, dan hal ini juga dapat mempermudah kaum muslimin dan menjaga persatuan di antara mereka sehingga tidak terjadi pertikaian antara satu dengan yang lain. Dan jadwal ini ditentukan dengan penelitian yang sangat mendalam, sehingga antara posisi Matahari dan jadwal yang akan di tentukan harus sama, sehingga dengan demikian terjauhkan dari kesalahan dalam menentukan waktu-waktu sholat.

Imam Ghozali berkata : “Penelitian/penentuan jika itu sesuai (tidak ada kesalahan) bisa digunakan untuk hal-hal yang qath’I (yang ditentukan syare’at), akan tetapi jika tidak sesuai maka itu tidak bisa dijadikan untuk hal-hal yang qath’I kecuali hanya bersifat sebagai pendukung pemahaman”.[14]

Akan tetapi perlu digaris bahwahi disini adalah, bahwa terdapat satu kaidah yang mengatakan bahwa alat-alat modern (seperti ilmu falak disini dll.) tidak dapat dijadikan sandaran sebuah hukum,  akan tetapi itu bisa digunakan hanya sebagai pembantu atau mempermudah dalam menentukan sebuah hukum.[15]

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa menentukan waktu sholat dengan menggunakan jadwal abadi yang menggunakan penelitian yang mendalam sehingga terjauhkan dari kesalahan hukumnya boleh, akan tetapi hal tersebut tidak boleh di jadikan sandaran utama. Wallau A’lam


[1] Lihat Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al Maqdisi, Al Mughni, (Kairo Mesir: Dar al Hadis 1425 H/2004), cet. tdk ada, Juz. I, hal. 464

[2] Muhammad bin Ali Ibnu Muhammad as Syaukani, Nail al Authar (Beirut, Lebanon: Dar al Jail), cet. ke,-, juz. I,  hal. 383

[3] Lihat Mahmud Muhammad khatab al Subuki, ad Din al Khalis, Cet. Ke-IV, th. 1397 H-1977 M, juz. II, hal. 12 – 13

[4] Lihat Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al Maqdisi, op. cit. hal. 478

[5] Ibid, hal. 479

[6] Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Mundir an Naisaburi, al Israf ala Madzahi al Ulama’, cer. Ket-I, juz. I hal. 399

[7] Muhammad bin Ali Ibnu Muhammad as Syaukani, op. cit.  hal. 411

[8] Lihat Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al Maqdisi, op. cit. hal. 481

[9] Imam Muhyidin an Nawawi, al Minhaj Syarh Shahih Muslim, (Beirut, Libanon: Dar Mufarriqah 1420 H-1999 M), cet. Ke-VI, juz. III, hal. 192

[10] Lihat Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al Maqdisi, op. cit. hal. 482

[11] Ibid, hal. 484

[12] Ibnu Hazm, Al-Muhalla, (Kairo: Maktabah Dar al Turast, th. 1426 H/2005 M),cet. Ke-I,  juz.III, hal. 192

[13] Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Syarh al Mumthi’, (Dar al Aqidah, th. 2003 M), cet. Ke-1, juz. I, hal. 332

[14] Muhammad bin Husain al Jaizani, Fiqh an Nawazil, (Dar Ibnu Jauzi, th. 1426 H/2005 M), cet. Ke-1, juz. II, hal. 149

[15] Di kutip dari pekataan ust. Dr. Ahmad Zein An Najah MA. pada penyampaian mata kuliah fiqih di aula Islamic Center Al Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: