HUKUM MENINGGALKAN SHALAT

Oleh: Umar Bustomi

Masalah ini termasuk salah satu masalah ilmu yang sangat besar. Diperdebatkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Imam Ahmad bin Hambal mengatakn: “Orang yang meninggalka shalat adala kafir, suatu kekafiran yang menyebabkan keluar dari islam, diancam hukuman mati jika tidak bertaubat dan tidak mengerjakan shalat.”
Sementara Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’I mengatakan: “Orang yang meninggalkan shalat adalah fasik dan tidak kafir.” Namun, mereka berbeda pendapat mengenai ancaman hukumannya, menurut Imam Malik dan Asy-Syafi’i: “Diancam hukuman mati sebagai hadd”, dan menurut Imam Abu Hanifah: “Diancam hukuman ta’zir, bukan hukuman mati”.
Apabila masalah ini termasuk masalah yang diperselisihkan, maka yang wajib adalah dikembalikan kepada Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah r , karena Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya dikembalikan kepada Allah….”
Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Oleh-oleh karena masing-masing pihak yang berselisih pendapat, ucapan tidak dapat dijadikan hujjah terhadap pihak lain, sebab masing-masing pihak menganggap bahwa dialah yang benar, sementara tidak ada salah satu dari kedua belah pihak yang pendapatnya lebih patut untuk diterima, maka dalam masalah tersebut wajib kembali kepada juri penentu diantara keduanya, yaitu Kitab Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah r.
Kalau kita kembalikan masalah ini kepada Al-Qur’an dan Sunnah, akan kita dapatkan bahwa Al-Qur’an maupun Sunnah keduanya menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dengan kufr akbar yang menyebabkan keluar dari Islam.

PERTAMA: DALIL DARI AL-QUR’AN.

Firman Allah Ta’ala dalam surat At-Taubah:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, meninggalkan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama…..”
Dan firman-Nya dalam surat Maryam:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا* إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Lalu datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dirugikan sedikitpun.”
Relevansi ayat kedua, yaitu yang terdapat dalam surat Maryam, bahwa Allah berfirman tentang orang-oran yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya: “Kecuali orang yang bertaubat, beriman…..”. ini menunjukkan bahwa mereka tatkala menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu adalah tidak beriman.
Dan relevansi ayat pertama, yaitu yang terdapat dalam sura At-Taubah, bahwa kita dan orang-orang musyrik telah menentukan tiga syarat:
• Hendaklah mereka bertaubat dari syirik.
• Hendaklah mereka mendirikan shalat, dan
• Hendaklah mereka menunaikan zakat.
Jika mereka bertaubat dari syirik, tetapi tidak mendirikan shalat dan tidak pula menunaikan zakat, maka mereka bukanlah saudara seagama dengan kita.
Begitu pula, jika mereka mendirikan shalat, tetapi tidak menuanikan zakat maka mereka pun bukan seagama dengan kita.
Persaudaraan seagama tidak dinyatakan hilang atau tidak ada, melainkan jika seseorang keluar secara keseluruhan dari agama; tidak dinyatakan hilang atau tidak ada karena kefasikan dan kekafiran yang sederhana tingkatannya.
Cobalah kita perhatikan firman Allah dalam ayat qhisash karena membunuh:
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ
“Maka barangsiapa yang diberi maaf oleh saudara-saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar(diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).”
Dalam ayat ini, Allah menjadikan orang membunuh dengan sengaja sebagai saudara orang yang dibunuhnya, padahal pidana membunuh dengan sengaja termasuk dosa besar yang sangat berat ancaman hukumannya, karena Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.”
Kemudian, cobalah kita perhatikan firman Allah tentang dua golongan dari kaum Muslimin yang berperang:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ* إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu.”
Disini Allah menetapkan persaudaraan antara pihak pendamai dan kedua pihak yang berperang, padahal memerangi orang mu’min termasuk kekafiran, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan periwayat dari Ibnu Mas’ud t bahwa Nabi r bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ
“Menghina seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”
Namun kekafiran ini tidak menyebabkan keluar dari Islam, sebab andaikata keluar dari Islam maka tidak ada dinyatakan masih saudara seiman. Sedangkan ayat suci tadi telah menunjukkan bahwa kedua belah pihak, sekalipun berperang, mereka masih saudara seiman.
Dengan demikian nyatalah bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, sebab jika merupakan suatu kefasikan saja atau kekafiran yang sederhana tingkatannya (yang tidak menyebabkan keluar dari Islam, maka persaudaraan seagama tidak dinyatakan hilang karenanya, sebagaimana tidak dinyatakan hilang karena membunuh dan memerangi orang mu’min.
Jika ada pertanyaan: Apakah anda berpendapat bahwa orang yang tidak menunaikan zakat pun kafir, sebagaimana pengertian yang ditunjuk oleh ayat dalam surat At-Taubah tersebut?
Jawab: orang yang tidak menunaikan zakat adalah kafir, menurut pendapat sebagian ulama, dan ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, Rahimahullah.
Akan tetapi, pendapat yang kuat menurut kami bahwa ia tidak kafir, namun ia diancam hukuman berat sebagaimana disebutkan oleh Nabi r dalam sunnah, contoh: disebutakan dalam hadits yang dituturkan Abu Hurairah t bahwa Nabi r ketika menyebut ancaman hukuman bagi orang yang tidak mau membayar zakat, disebutkan di bagian akhir hadits:
فيرى سبيله إما إلى الجنة وإما إلى النار
“…kemudian ia akan melihat jalannya, menuju ke surga atau ke neraka.”
Hadits ini diriwayatkan secara lengkap oleh Muslim dalam bab “Dosa orang yang tidak mau membayar zakat”. Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa oran yang tidak menunaikan zakat tidaklah kafir, sebab andaikata menjadi kafir tidak akan ada jalan baginya menuju surga.
Dengan demikian manthuq (yang tersurat) dari hadits ini lebih didahulukan dari pada mafhum (yang tersirat) dari ayat dalam surat At-Taubah tadi, karena sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu Ushul Fiqh bahwa manthuq lebih didahulukan dari pada mafhum.
KEDUA: DALIL DARI SUNNAH
1. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah t , Rasulullah r bersabda:
إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
2. Diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushaib t , ia menuturkan: Aku mendengar Rasulullah r bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat; barangsiap meninggalkannya maka benar-benar ia telah kafir.”
Yang dimaksud dengan kekafiran di sini ialah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi r menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara orang-orang mu’min dan orang-orang kafir, dan diketahui secara jelas bahwa aturan kafir bukanlah aturan Islam; karena itu, barangsiapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.
3. Diriwayatkan dari Shahih Muslim, dari Ummu Salamah t, bahwa Nabi r bersabda:

ستكون أمراء فتعرف

ون وتنكرون فمن عرف برئ ومن أنكر سلم ولكن من رضى وتابع قالوا أفلا نقاتلهم قال لا ما صلوا

“Akan ada pemimpin-pemimpin dan diantara kamu ada yang mengetahui dan menolak kemungkaran-kemungkaran yang dilakukannya. Barangsiapa yang mengetahui bebaslah ia, dan barangsiapa yang menolaknya selamatlah ia; akan tetapi barangsiapa yang rela dan mengikuti, (tidak akan bebas dan tidak akan selamat). Para sahabat bertanya: ‘Bolehkah kita memerangi mereka?’ jawab beliau: ‘Tidak, selama mereka mengerjakan shalat’.”
4. Diriwayatkan pula dalam Shahih Muslim, dari ‘Auf bin Malik t, ia menuturkan bahwa Nabi r bersabda:

“Pemimpinmu yang terbaik ialah mereka yang kamu sukai dan mereka pun menyukaimu serta mereka mendo’akanmu dan kamu pun mendo’akan mereka; sedangkan pemimpinmu yang paling jahat ialah mereka yang kamu benci dan mereka pun membencimu serta kamu melaknati mereka dan mereka pun melaknatimu.
“Beliau ditanya: Ya Rasulullah, bolehkah kita memusuhi mereka dengan pedang?”
Jawab beliau: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat di lingkunganmu”.
Kedua hadits terakhir ini menunjukkan bahwa boleh memusuhi dan memerangi para pemimpin dengan mengangkat senjata bila mereka tidak mendirikan shalat; dan tidak boleh memusuhi dan memerangi para pemimpin, kecuali jik mereka melakukan kekafiran yang nyata di mana ada buktinya bagi kita dari Allah Ta’ala, berdasarkan hadits yang dituturkan oleh ‘Ubadah bin Shamit t:
دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعَنَا وَأَخَذَ عَلَيْنَا السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
“Rasulullah r telah mengajak kami dan kami pun mengajak beliau. Diantara bai’at yang diminta kepada kami ialah hendaklah kami membai’at untuk senantiasa patuh dan taat, baik dalam keadaan sengang maupun susah, dalam kesulitan ataupun kemudahan, dan mendahulukannya di atas kepentingan diri kami; dan janganlah kami menentang orang yang telah terpilih dalam urusan (kepemimpinan ini)”. Sabda beliau: “Kecuali, jika kamu melihat kekafiran yang terang-terangan yang ada buktinya bagi kita dari Allah.
Atas dasar ini, maka perbuatan mereka meninggalkan shalat yang dijadikan oleh Nabi r sebagai alasan untuk menentang dan memerangi mereka dengan pedang adalah kekafiran yang terang-terangan yang ada buktinya bagi kita dari Allah.


Dinukil dari Risalah Meninggalkan Shalat, karya Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: