Pernikahan Muslim Dengan Ahli Kitab Dalam Perspektif Fiqih (bag. II)

PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN AHLI KITAB

DALAM PERSPEKTIF FIQIH

Menyikapi Argumentasi Kaum Liberal (bag. II)

Ditulis oleh: Puji Yanto bin Sudirman.

PENGERTIAN AHLI KITAB

Sebelum membahas lebih jauh tentang hukum-hukum yang terkait dengan pernikahan Muslim dengan Ahli Kitab, maka terlebih dahulu kita perlu untuk mengetahui definisi Ahli Kitab.

Ulama mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan kitab adalah Taurat dan Injil, bukan kitab-kitab lain sebelum keduanya seperti shuhuf [1]Syits, Idris dan Ibrahim –‘alaihimus salaam-.[2]

Jadi Ahli Kitab adalah ahli Taurat dan Injil, yaitu mereka yang beriman kepada dien samawi, seperti Yahudi dan Nasrani. Sesuai dengan firman Allah -subhaanahu wa ta’ala-,

أَن تَقُولُواْ إِنَّمَا أُنزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَآئِفَتَيْنِ مِن قَبْلِنَا.

(Kami turunkan al-Qur’an itu) agar kalian (tidak) mengatakan, “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. [3]

Sebagian berpendapat bahwa yang disebut dengan ahli Taurat adalah orang-orang Yahudi dan Samirah, sedangkan ahli Injil adalah orang Nasrani dan orang-orang yang sepaham dengan mereka pada dasar agama mereka dari orang-orang Eropa, Armenia, dan yang lainnya.[4]

Ada juga yang berpendapat bahwa Ahli Kitab terbagi menjadi dua, yakni Ahli Kitab dari keturunan Israil dan selain keturunan Israil.[5] Israil adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim –‘alaihimus salaam-. Adapun mereka yang bukan dari keturunan Israil adalah mereka yang masuk ke dalam Yahudi dan Nasrani dari bangsa Arab, ‘Ajam (non Arab), Turki, dan Romawi.[6] Mereka terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

  1. Mereka yang memeluk agama (Ahli Kitab) sebelum adanya tahrif.[7]
  2. Mereka yang memeluk agama (Ahli Kitab) setelah adanya tahrif. Maka dilihat, apakah mereka masih berpegang teguh kepada kebenaran isi kitab (Injil dan Taurat) dan meninggalkan apa yang telah diganti dan diubah dari isi kitab.[8] Jika demikian kondisi mereka, maka statusnya sebagaimana golongan yang pertama. Akan tetapi, jika mereka tetap berpegang kepada kitab yang telah diubah dan diganti, maka tidak halal untuk menikahi mereka.
  3. Apabila diketahui bahwa mereka masuk setelah adanya tahrif dan nasakh[9], yaitu masuk Yahudi dan Nasrani setelah diutusnya Nabi Muhammad r, maka tidak dihalalkan untuk menikahi mereka secara qath’i.
  4. Apabila status mereka diragukan, apakah mereka masuk (agama) Ahli Kitab sebelum adanya tabdil[10] atau setelahnya, seperti orang Nasrani dari bangsa Arab.[11] Maka sembelihan mereka tidak boleh dimakan, wanita-wanita mereka tidak boleh dinikahi, dan ditetapkan jizyah terhadap mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Abdur Razzaq bahwa Umar t mengatakan,  “Orang Nasrani dari bangsa Arab bukan dari Ahli Kitab, maka tidak halal sembelihan mereka dan aku tidak akan meninggalkan mereka sampai masuk Islam atau aku akan memenggal leher mereka.”[12]

Perbedaan antara Ahli Kitab dengan yang lainnya, yaitu bahwa memiliki satu kekurangan yakni kufur, adapun selain Ahli Kitab memiliki dua kekurangan, yaitu kufur dan rusak agamanya.[13]

Apakah Majusi Termasuk Ahli Kitab?

Ulama berselisih tentang kedudukan orang-orang Majusi, apakah mereka termasuk Ahli Kitab atau bukan.

Imam asy-Syafi’i –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan bahwa mereka bukan termasuk Ahli Kitab, akan tetapi pada kesempatan yang lain beliau mengatakan bahwa mereka adalah Ahli Kitab. Hal ini dikarenakan ada beberapa atsar yang masyhur dari para shahabat.[14] Sehingga dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua pendapat, yaitu:

Pendapat pertama mengatakan bahwa Majusi bukan termasuk Ahli Kitab karena mereka tidak memiliki kitab.[15] Mereka berdalil dengan,

  1. Firman Allah -subhaanahu wa ta’ala-,

إِنَّمَا أُنزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَآئِفَتَيْنِ مِن قَبْلِنَا.

“Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. [16]

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dua golongan dalam ayat di atas adalah Yahudi dan Nasrani. Kalau seandainya Majusi termasuk Ahli Kitab, maka dalam ayat tersebut tentunya akan menyebutkan tiga golongan.[17]

  1. Atsar dari Umar –radhiyallaahu ‘anhu- ketika menyebutkan tentang orang Majusi, beliau berkata, “Aku tidak mengetahui apa yang harus aku perbuat atas mereka.” Maka Abdurrahman bin Auf –radhiyallaahu ‘anhu- mengatakan, “Aku bersaksi bahwa sungguh aku pernah mendengar Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda, ‘Hukumilah mereka sebagaimana Ahli Kitab.’[18] Maka kemudian Umar –radhiyallaahu ‘anhu- menghukumi mereka sebagaimana Ahli Kitab, walaupun mereka tidak memiliki kitab. Lantas beliau mengambil jizyah[19] dari mereka setelah mendengar Abdurrahman bin Auf –radhiyallaahu ‘anhu- bersaksi bahwa Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- pernah mengambil jizyah dari orang Majusi yang berhijrah. Akan tetapi tidak diperbolehkan menikahi wanita-wanita mereka dan makan sembelihan mereka.
  2. Alasan yang lain, bahwa orang-orang Majusi tidak mengikuti ajaran yang berasal dari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah –subhaanahu wa ta’ala- kepada para Nabi-Nya, akan tetapi mereka membaca kitab yang dibuat oleh Zaradusyta atau Zoroaster.[20] Orang yang mengaku-ngaku bahwa dirinya sebagai seorang nabi. Jadi mereka bukan disebut sebagai Ahli Kitab.[21]

Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa mereka diperlakukan sebagaimana Ahli Kitab.[22] Dalil yang mereka gunakan adalah perkataan Abdurrahman bin Auf –radhiyallaahu ‘anhu- di atas, yaitu Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- pernah mengambil jizyah dari orang-orang Majusi, begitu juga perbuatan Umar bin al-Khattab –radhiyallaahu ‘anhu- di atas. Ini menunjukkan bahwa mereka termasuk Ahli Kitab. Lalu bagaimana mereka berpendapat tentang sembelihan dan wanita-wanita Majusi? Dalam hal ini ada dua pendapat[23],

  1. Abu Tsaur mengatakan, “Dihalalkan menikahi wanita-wanita mereka karena ditetapkan jizyah bagi agama mereka, sebagaimana Yahudi dan Nasrani.”
  2. Abu Ishaq al-Marwazi mengatakan, “Sesungguhnya mereka memiliki kitab, maka dihalalkan menikahi wanita-wanita merdeka mereka dan menyetubuhi budak-budak mereka.”

Kedua pendapat tersebut tertolak. Abu Tsaur menggunakan dalil dari hadits Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam-, Hukumilah mereka sebagaimana Ahli Kitab. Beliau menganggap ketika diperbolehkan mengambil jizyah dari orang-orang Majusi, maka diperbolehkan pula memakan sembelihan dan menikahi wanita-wanita mereka. Maka pendapat beliau tersebut dibantah, bahwa maksud dari hadits Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- tersebut adalah hukumilah mereka (sebagaimana Ahli Kitab) dalam hal pengambilan jizyah karena ketika itu masih diragukan pengambilan jizyah dari mereka. Disamping itu para shahabat memperkokoh pendapat bahwa yang dimaksud dari hadits Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- tersebut adalah diperbolehkannya mengambil jizyah dan bukan dalam nikah. Dan pada hakekatnya mereka bukan termasuk Ahli Kitab, bukan pula termasuk orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab. Mereka adalah para penyembah berhala. Mereka tidak memiliki kitab sebagaimana Yahudi dan Nasrani.

Al-Marwadzi mengatakan, “Aku berkata kepada Ahmad, ‘Sesungguhnya Abu Tsaur berpendapat bahwa orang Majusi termasuk Ahli Kitab.’ Maka beliau melanjutkan, “Lalu mana kitab mereka?”.[24]

Adapun pendapat Abu Ishaq tidak benar karena seandainya diperbolehkan menikahi mereka dengan melandaskan hadits Rasulullah –shallaahu ‘alahi wa salaam- di atas, maka mereka juga diperbolehkan dibunuh dengan melandaskan pada hadits yang lain.[25]

Setelah mengetahui perbedaan pendapat di kalangan ulama serta dalil-dalil yang digunakan di atas, maka pendapat yang rajih adalah yang mengatakan bahwa Majusi bukan termasuk Ahli Kitab. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama.[26] (bersambung ke bag. III)………………….

Bekasi, 19 April 2010.

http://www.puskafi.wordpress.com


[1]Lembaran-lembaran yang terbentang (yang terbuat) dari sesuatu, seperti lembaran pada muka halaman dan lembaran yang di dalamnya di tulis sesuatu. (Lihat: Al-Raghib al-Ashfahani, al-Mufradaatu fii Ghariibi al-Qur’an, (Beirut: Daar Ihyaa’u at-Turaats al-‘Arabi, 1423 H/2002 M), cet. Ke-1, hal. 285, (kitab: ash-Shaad).

[2]Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islami wa Adilatuhu, (Beirut: Daar al-Fikr, 1418 H/1997 M), cet. Ke-4, juz IX, hal. 6614.

[3]Qs. al-An’am : 156.

[4]Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H/2004 M), juz IX, hal. 311.

[5]Muhyidin an-Nawawi, al-Majmuu’ Syarhu al-Muhadzdzab, (Beirut: Daar al-Fikr, 1425 H/2005 M), juz XVII, hal. 400, dan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, op.cit., hal. 6613.

[6]Muhyidin an-Nawawi, ibid.

[7]Mentahrif adalah menakwilkan  isi kitab Allah -subhaanahu wa ta’ala- bukan menurut yang diturunkan oleh Allah -subhaanahu wa ta’ala-, mengartikannya tidak seperti yang dimaksudkan oleh Allah -subhaanahu wa ta’ala- dan mengatakan apa yang tidak difirmankan oleh Allah -subhaanahu wa ta’ala-. [Lihat: Ibnu Katsir, Tafsiiru al-Qur’aani al-‘Adziim, (Damaskus: Maktabah Daar  al-Fiihaa’, 1418 H/1998 M), cet. Ke-2, jilid II, hal. 47].

[8]Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, op.cit., hal 6613.

[9]Menasakh adalah menghapus suatu hukum dan menggantinya dengan hukum yang lain. [Lihat: Al-Raghib al-Ashfahani, op.cit., hal. 512, (kitab: al-Nuun)]. Akan tetapi mereka mengganti hukum tersebut menurut hawa nafsu mereka.

[10]Mentabdil adalah mengganti hukum dari sesuatu yang pada hakekatnya haram menjadi halal, dan mengganti yang haram menjadi halal serta memberikan sifat kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alahi wa sallaam- tidak sesuai dengan sifat yang telah diberikan oleh Allah -subhaanahu wa ta’ala- (dalam al-Qur’an). (Lihat: Muhyidin an-Nawawi, op.cit., hal. 397).

[11] Seperti Bani Taghlib, Tanukh, Bahra, Judzam, Lakham, ‘Amilah. [Lihat: Ibnu Katsir, op.cit, jilid II, hal. 29].

[12]Muhyidin an-Nawawi, op.cit., hal 400-401.

[13]Ibid, hal. 402.

[14]Ibid, hal. 403.

[15]Ibid.

[16]Qs. al-An’am : 156.

[17]Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, op.cit., hal. 6656.

[18]Malik bin Anas, al-Muwatha’, (Kairo: Daar al-Hadits, 1426 H/2005 M), hal. 215, dalam kitab: Zakat, bab: Jizyah Ahli Kitab dan Majusi, (no. 41).

[19]Upeti (pajak) dengan batasan jumlah yang ditentukan yang dibebankan kepada setiap orang kafir (yang terpenuhi syarat-syaratnya) yang berkeinginan untuk bergabungkan dirinya di bawah bendera Islam, akan tetapi mereka tidak ada keinginan untuk masuk Islam. [Lihat: Sa’id Hawwa, al-Islaam, (Beirut: Daar ‘Ammaar, 1408H/1988M), hal. 455]. Jizyah ini sebagai bentuk balasan dan hinaan bagi orang-orang kafir karena kekafiran mereka atau sebagai imbalan atas keamanan yang diberikan kepada mereka. [Lihat: Ibnu al-Qayyim, Ahkamu Ahli Dzimmah, (Beirut: Daar Ibnu Hazm, 1418 H/1997 M), cet. Ke-1, jilid I, hal. 119]

[20]Ia adalah seorang laki-laki dari Azerbaijan. Muncul pada masa raja Basytasif bin Laharasif. Raja Basytasif percaya bahwa dirinya adalah seorang nabi, maka lantas anaknya, yang bernama Isbadyar bin Basytasif menyebarkan agama Zoroaster ini di dunia. Ada yang berpendapat bahwa ajaran Zoroaster sama dengan ajaran Majusi, akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, walaupun pada sisi yang lain keduanya ada kesamaan. [Lihat: Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), cet. Ke-6, hal. 36].

[21]Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, loc.cit.

[22]Muhyidin an-Nawawi, loc.cit.

[23]Ibid., hal. 404.

[24]Ibnu al-Qayyim, op.cit., jilid III, hal. 816.

[25]Muhyidin an-Nawawi, loc.cit.

[26]Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, loc.cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: