Hukum Memakai Cincin bagi Laki-laki

March 29, 2011

Syaikh al Utsaimin ditanya: “Apakah memakai cincin bagi laki-laki sunnah?”
Beliau menjwab : “Memakai cincin bagi laki-laki bukan sunnah yang menuntut, sehingga semua orang laki-laki harus memakai cincin, akan tetapi itu merupakan amalan sunnah ketika  hal itu dibutuhkan. Rasulullah saw ketika dikatakan kepada beliau  bahwa sesungguhnya para raja yang ingin engkau kirimi surat, mereka tidak mau menerima surat tersebut kecuali ada tanda cincin dari engkau (stempel), maka Rasulullah saw memakai cincin untuk menandai (menyetempel) setiap surat yang dikirim kepada para raja. Maka barang siapa yang sangat membutuhkan akan hal tersebut seperti pemimpin, hakim dan yang semisalnya maka dengan memakai cincin merupakan salah satu bentuk ittiba’ (mengikuti) Rasulullah, dan orang yang tidak membutuhkan akan hal tersebut maka dengan dia memakai cincin bukan termasuk amalan sunnah akan tetapi amalan yang mubah (boleh) jika hal tersebut tidak menimbulkan bahaya, namun jika menimbulkan bahaya maka tidak boleh. Dan perlu diketahui juga bahwa tidak dibolehkan (haram) bagi laki-laki memakai cincin yang terbuat dari emas karena ada larangan dari Nabi saw (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, Syaikh Shalih al Utsaimin, juz: 12, hal. 102)


STATUS AGAMA ANAK JIKA YANG MASUK ISLAM HANYA SALAH SATU DARI KEDUA ORANG TUANYA SAJA

August 15, 2010

Dalam pembahasan sebelumya telah dijelaskan bahwa ada suatu kaidah yang berbunyi, “Seorang anak mengikuti kedua orang tuanya dalam beragama.”[1]
Dari kaidah di atas maka menjadi kesepakatan ulama bahwa jika kedua orang tua masuk Islam, maka anaknya mengikuti agama kedua orangtuanya. Sehingga seorang anak tersebut secara otomatis menjadi Muslim dengan keislaman kedua orang tuanya. Read the rest of this entry »


Hukum Pernikahan Jika Suami Masuk Islam dan Beristerikan Dua Wanita yang Bersaudara atau Wanita dengan Bibinya

August 15, 2010

Allah –ta’ala- telah mengharamkan bagi seorang Muslim untuk menikahi dua wanita yang bersaudara.[1] Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam firman-Nya,

وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ

…dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua wanita yang bersaudara.[2]

Begitu pula diriwayatkan oleh Ibnu Fairuz ad-Dailami –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-, dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, dan aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku masuk Islam dan aku memiliki dua orang isteri, keduanya kakak beradik.’ Maka Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam- bersabda,

اختر أيتهما شئت

‘Pilihlah salah satu (dari keduanya) yang engkau mau’.[3]Dalam riwayat yang lain dikatakan, ‘Talaklah salah satu (dari keduanya) yang engkau kehendaki.’[4] Read the rest of this entry »


Hukum Pernikahan Jika Suami Masuk Islam dan Beristerikan Lebih Dari Empat

August 15, 2010

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa seorang Muslim hanya diberikan batasan untuk menikahi wanita maksimal empat. Maka apabila ada seorang laki-laki dari kalangan Ahli Kitab yang masuk Islam dan ketika masih kafir dirinya beristerikan lebih dari empat wanita yang berstatus Ahli Kitab juga, akan tetapi mereka masih tetap pada agamanya atau masuk Islam belakangan, maka dia diberikan hak untuk memilih empat wanita dari seluruh isterinya tersebut. Adapun yang lainnya harus diceraikan.[1] Akan tetapi dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat diantara ulama: Read the rest of this entry »


Hukum Pernikahan Jika Suami yang Berstatus Ahli Kitab Masuk Islam

August 15, 2010

Oleh: Puji Yanto bin Sudirman

Mengenai hukum pernikahan apabila seorang suami yang berstatus Ahli Kitab masuk Islam akan tetapi isterinya tetap bersikukuh pada agama Ahli Kitab, maka ulama berbeda pendapat dalam hal ini, yaitu:

1. Terjadi perceraian diantara keduanya, yaitu keislaman salah satu dari keduanya mewajibkan bagi keduanya melakukan pembatalan pernikahan (faskh). Ini adalah pendapat Abu Tsaur.[1] Adapun Malik menambahkan bahwa seorang isteri tersebut ditawarkan Islam terlebih dahulu, jika dirinya menolak untuk masuk Islam, maka keduanya dipisahkan dengan segera.[2] Read the rest of this entry »


STATUS AGAMA ANAK PADA PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN WANITA AHLI KITAB

August 15, 2010

Oleh: Puji Yanto bin Sudirman

Seorang anak mengikuti kedua orang tuanya yang berstatus Muslim (jika kedua orang tuanya Muslim) dalam beragama, maka anak tersebut dianggap Muslim disebabkan keislaman kedua orangtuanya. Hal ini disebabkan jika seorang anak berasal dari kedua orang tua yang kafir, maka ia mengikuti agama kedua orang tuanya yang kafir.[1] Karena ada suatu kaidah yang berbunyi, “Seorang anak mengikuti kedua orang tuanya dalam beragama.”[2]

Namun bagaimana apabila kedua orang tuanya berlainan agama, sebagaimana yang terjadi pada pernikahan antara seorang Muslim dengan wanita Ahli Kitab? Maka di sini Imam Ibnu Qudamah –rahimahullaahu ta’ala- menjelaskan bahwa anak tersebut mengikuti orang tuanya yang berstatus Muslim. Hal ini dikuatkan dengan beberapa alasan[3], diantaranya: Read the rest of this entry »


WARISAN BAGI ISTERI YANG BERSTATUS AHLI KITAB

August 15, 2010

Oleh: Puji Yanto bin Sudirman

Dalam ilmu waris, ada sebab-sebab yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan harta warisan. Diantara sebab-sebab tersebut adalah perbedaan atau berlainan agama. Maksudnya adalah berbedanya agama yang dianut antara pewaris dengan ahli waris. Seorang Muslim tidaklah mewarisi dari orang yang bukan Muslim (non-Muslim), begitu pula sebaliknya seorang yang bukan Muslim tidaklah mewarisi dari seorang Muslim.[1] Hal ini dikarenakan Allah telah memutuskan hubungan perwalian antara keduanya.[2]

Namun demikian, disebabkan hak kewarisan memiliki hubungan yang erat dengan permasalahan pernikahan, maka ulama tidak memiliki pendapat yang sama dalam menyikapi hadits di atas.

Perbedaan pendapat diantara ulama tersebut muncul karena diantara mereka berbeda dalam memahami konteks ayat ke–5 dari surat al-Maidah. Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang halalnya wanita dari kalangan Ahli Kitab yang menjaga kehormatannya. Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.